Prolog: Jalan Masih Panjang

“Mari, pak, bergabung dengan kami,” tutur Pastor Widyo pada seorang tamu, yang ingin bertemu dengan Pastor Andreas Dedi di satu akhir pekan yang terik di bulan September. Siang itu, di ruang makan Pastoran Paroki St. Monika, Serpong, Pastor Widyo, lengkapnya Pastor Yohanes Djino Widyasuhardjo, sedang makan siang bersama Pastor Andreas. Tamu itu seperti ragu untuk bergabung. “Akan mengganggu acara komunitas, dan mungkin juga jatah makan siang keluarga pastoran,” pikir sang tamu.

Seperti membaca pikiran sang tamu, Pastor Widyo masuk ke dapur, dan sejurus kemudian membawa sepiring nasi, dan diletakkan di depan sang tamu. “Sedikit juga boleh, tapi mari makan dulu,” kata Pastor Widyo, seperti biasa dengan suara yang keras, menyiratkan keramahan dan kejujuran sekaligus. Pastor Widyo belum juga mengambil tempat duduk. Dia mengambil krupuk dan sambal tempe untuk menambahkan tempe, tahu dan sayur kangkung yang sudah ada di meja makan. Tak cukup dengan itu, Pastor Widyo mengambil dua mug dan mengisi keduanya dengan manisan buah. Coba terka, untuk siapa manisan buah di kedua mug itu? Satu untuk tamunya, dan satu lagi untuk Pastor Andreas Dedi. Baru setelah selesai menjamu tamu dan teman sekomunitasnya, dia mengambil apel, mengupas dan makan sambil ngobrol ngalor ngidul.

Tamu itu adalah penulis sendiri, dan peristiwa makan siang itu terjadi setelah penulis mendengar begitu banyak kesaksian tentang keramahtamahan, keterbukaan, kejujuran serta kesiapsediaan melayani dalam diri Pastor Widyo. Kesaksian itu muncul dari para konfraternya (sesama OSC), karyawan pastoran, umat di Serpong, umat di Cirebon, dan orang tua serta kakak-adiknya yang tersebar di Bukit Tinggi, Yogyakarta dan Jayapura. Hari itu penulis mengalami sendiri “hospitality dan kesiapsediaan melayani yang menjadi ciri khas OSC” yang menurut Pastor Agus Rachmat, Provincial OSC, diwujudkan secara maksimal oleh Pastor Widyo. Makan siang itu seperti suara dari langit yang mengatakan, “ini buktinya” karena selama melakukan riset muncul pertanyaan naluriah di kepala penulis, mengapa semua kesaksian begitu baik, sehingga terkesan teoritis.

Memang seperti itulah Pastor Widyo. Sejumlah sumber di Cirebon mengatakan, sejak Pastor Widyo bertugas di sana, pastoran bukan lagi menara gading yang tak tersentuh. Pastoran “kembali menjadi milik umat”. Umat stasi yang sebelumnya agak terabaikan, masih menurut sumber itu, mendapat perhatian yang lebih baik dari Pastor Widyo. Pastor Donatus Manalu bercerita, mirip dengan cerita yang disampaikan Pastor Agus, bahwa Pastor Widyo bisa tiba-tiba nongol di komunitas studi OSC di Bandung, membawa oleh-oleh tahu Sumedang untuk para frater, “lantas Pastor Widyo cerita-cerita sambil ketawa ha ha ha ha…” Tiga adiknya yang tersebar di tiga kota, Bukit Tinggi, Yogyakarta dan Jayapura, juga memberi kesaksian yang sama. Menurut mereka Pastor Widyo adalah orang yang, dalam keusilan masa kecil dan masa remaja, pandai sekali berteman. “Temannya banyak dan ada di mana-mana.”

BISA jadi sebagian dari kita mengatakan, wajar saja Pastor Widyo bersikap seperti itu karena dia seorang pastor. Bisa jadi hasilnya akan beda kalau dia adalah seorang awam. Akan tetapi kalau kita melakukan kilas balik, seperti yang akan anda lihat kalau membaca tulisan-tulisan lain dalam buku ini, akan terasa bahwa keramahtamahan dan kesiapsediaan melayani itu bukan satu paket berkat yang sekali diterima langsung jadi untuk selamanya. Memang benar bahwa sejak masa kecil, demikian antara lain analisis Pastor Agus, Pastor Widyo orang yang bahagia dengan dirinya sendiri. Dia tidak pernah mengalami trauma, tidak pernah merasa ditolak, mungkin tidak disapih, sehingga merasa oke dengan dirinya sendiri. Karena merasa oke dengan dirinya sendiri, maka dia juga merasa oke dengan orang lain.

Tentu saja sikap dasar seperti ini merupakan modal yang sangat besar untuk perkembangan pribadi seseorang. Tetapi modal awal seperti itu perlu dengan tekun dan ulet dikembangkan. Tanpa perjuangan yang teguh, bisa jadi benih unggul tersebut bisa berkembang menjadi pohon dan buah yang berbeda, karena lingkungan besar masyarakat kita memang bisa membawa orang ribuan arah yang berbeda. Maka kalau Pastor Widyo menjadi seperti yang sekarang ini, bisa diduga ada dua hal yang dipersyaratkan, yaitu arah yang jelas dan kesetiaan serta ketekunan menempa diri menuju arah itu. “Saya ingin jadi pastor supaya saya punya banyak teman,” kata Pastor Widyo, menyiratkan bahwa sejak kecil imamat sudah dibayangkannya dalam konteks relasi dan pertemanan. Dan kalau kita mencoba menempatkan ini dalam konteks Jawa, bukankah relasi dan pertemanan itu berarti rukun damai dan sejahtera bersama? Yang terakhir ini kiranya bukan sekadar asumsi atau dugaan, kalau melihat di masa kecil si Djino Itheng (hitam), termasuk dengan keisengannya, senang menciptakan gurau dan tawa dalam komunitas permainannya.

Dalam cara pandang seperti itu, panggilan bagi Djino (nama kecil Pastor Widyo) bukan lagi sesuatu yang abstrak. Panggilan bukan lagi sekadar jargon “mengikuti jalan Kristus”, tetapi sesuatu yang konkret: membangun hidup bersama yang bahagia, sejahtera. Panggilan itu lebih konkret lagi, tanpa terasa muluk-muluk, karena Djino juga tidak bermimpi menjadi “pencipta” atau penanggungjawab kesejahteraan bersama. Dia sudah merasa bahagia kalau dirinya menjadi satu bagian dari komunitas yang sejahtera seperti itu. Djino berhasil menerjemahkan aneka teori hidup rohani ke dalam praktik yang jelas, sekaligus sesuai dengan cara baru Gereja memandang dirinya: komunitas umat beriman.

SUATU ketika penulis mengajukan pertanyaan yang mungkin terkesan nakal: kalau sekarang Tuhan memanggil Pastor Widyo, apa yang akan membuatnya menyesal karena hal itu belum dilakukannya? Suasana ruangan yang sebelumnya penuh dengan kelakar dan tawa, tiba-tiba berubah sepi, hening sejenak. Kemudian suara Pastor Widyo berubah menjadi rendah, dalam. “Saya merasa belum menjadi pastor yang baik. Saya merasa belum mengorbankan segala sesuatunya untuk kepentingan umat. Saya masih banyak memikirkan diri saya sendiri.” Sungguh, ini adalah jawaban tak terduga dari orang yang mendapatkan beragam pengakuan seperti ditulis di muka. Kendati sudah mendapatkan pengakuan sebagai “pastor yang baik”, dia tetap merasa belum mencapai kebaikan yang diidamkannya sendiri. Masih ada cita-cita besar yang dia ingin raih.

Pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana cita-cita besar “menjadi pastor yang baik” tadi harus dimaknai? Tampaknya ini terkait erat dengan gambarannya mengenai apa itu pastor yang baik. Dan jelas bahwa bagi Pastor Widyo pastor yang baik adalah pastor bagi orang lain, bagi umat, dan bukan pastor bagi dirinya sendiri. Dan kalau kita melihat perjalanan hidupnya, jelas bahwa apa yang dijalani Pastor Widyo memang mengarah ke sana, ingin berarti bagi orang lain. Memang tidak selalu mudah, terutama bagi kita, pembaca, untuk menangkap makna “hidup bagi yang lain” yang dipegang teguh oleh Pastor Widyo. Sebab, sikap seperti itu tidak hanya terwujud dalam bentuk pemberian diri seperti kerelaan memberi waktu, kerelaan melayani, kerelaan berbagi dan memberi perhatian, tetapi juga dalam bentuk keteladanan, yang menuntut kepekaan pihak lain untuk mampu menangkap keteladanan itu.

Maka kalau dari luar kita melihat bahwa sesungguhnya hidupnya sudah merupakan pemberian diri, apa sebenarnya yang masih kurang? Mungkin ini hanya soal waktu. Duapuluh lima tahun imamat, kendati merupakan satu prestasi sendiri, jelas bukan sebuah akhir. Karena itu kiranya hanya tinggal satu yang mungkin perlu dilakukan Pastor Widyo untuk mencapai cita-cita besarnya di atas. Yaitu menjalani semuanya dengan cara yang sama, sampai Tuhan sendiri yang mengatakan: selesailah sudah. ***

Komentar

Telah Dibaca:863

Leave a Comment