Perdagangan Berjangka, Pilihan Lain “Bermain Uang”

Sep 29th, 2008 | Oleh: Her Suharyanto | Kategori: Artikel Populer

Pernahkah anda membayangkan hidup seperti berikut ini. Setiap hari anda bebas menentukan jam berapa hendak bangun tidur. Dan setelah itu Anda juga bebas menentukan acara pertama Anda, apakah olahraga, membaca koran, atau minum kopi pagi. Anda tak perlu harus terburu-buru berpacu menghindari kemacetan, karena anda bekerja di rumah, dengan jam kerja yang sepenuhnya fleksibel. Anda bisa bekerja pagi, siang, sore atau malam hari.

Sepuluh atau duapuluh tahun yang lalu cara hidup seperti ini mungkin hanya ada di angan-angan. Tetapi kini, dengan teknologi komunikasi yang kian canggih, cara hidup ini bisa anda pilih-tentu bukan tanpa risiko. Salah satu kemungkinan untuk bisa seperti itu adalah dengan menjadi spekulator perdagangan berjangka. Mungkin istilah spekulator terlalu mengerikan untuk sebagian besar dari kita. Tetapi apa boleh buat, kata “investor” yang terasa lebih halus di kuping, dan cukup sering dipakai, tidak sepenuhnya pas dengan bidang yang akan kita bahas.

Paling tidak dalam dua tahun terakhir, perdagangan berjangka (futures trading) telah menjadi ajang spekulasi dengan pertumbuhan yang sangat pesat di Indonesia. Banyak orang berduit yang memilih untuk menjadi spekulator purna waktu di bidang ini. Mereka tidak punya pekerjaan lain selain “bermain-main” dengan risiko di bursa berjangka.

Instrumennya

Apa itu perdagangan berjangka? Secara sederhana, perdagangan berjangka adalah kesepakatan untuk melakukan transaksi atas barang (atau jasa) tertentu pada waktu tertentu di masa yang akan datang. Misalnya, hari ini Jono dan Jinny mengikat kesepakatan bahwa Jono akan membeli emas seberat satu kilogram dari Jinny pada tanggal 30 Juni mendatang dengan harga Rp160.000 per gram. Jono berani membeli jauh hari di muka, misalnya, karena pada 30 Juni mendatang dia membutuhkan satu kilo emas untuk dibuat perhiasan untuk memenuhi pesanan dari pembeli tertentu. Jono merasa perlu untuk membuat kontrak sekarang untuk memastikan bahwa dia akan mendapatkan emas sebanyak satu kilo pada waktunya nanti, dengan harga yang sudah dipastikan dari sekarang. Jadi, Jono sebenarnya sedang berusaha melindungi diri dari risiko ketidakpastian harga dan risiko ketidakpastian pasokan emas. Sedangkan Jinny berani menjual jauh hari sebelumnya karena dia membutuhkan dana di muka yang bisa digunakan untuk aneka kebutuhan, termasuk menambang emas, misalnya.

Itulah contoh perdagangan berjangka. Dalam praktiknya, apapun juga bisa diperdagangkan dengan cara seperti ini. Dalam tradisi petani Indonesia ada istilah “ijon”. Pedagang mendatangi pemilik pohon rambutan yang buahnya lebat tapi masih hijau dan membayar kontan saat itu. Tetapi proses serah terima rambutan baru akan dilakukan setelah buah rambutan masak. Pedagang akan mendapat manfaat kepastian pasokan barang, petani mendapatkan dana segar di muka. Dari sisi risiko, pedagang mungkin salah hitung sehingga harganya terlalu mahal, sedangkan petani menghadapi risiko harga terlalu murah.

Dalam sejarah ternyata bahwa ada begitu banyak penjual dan pembeli yang berkepentingan untuk melakukan transaksi model itu, sehingga kemudian terbentuklah pasar atau bursa perdagangan berjangka. Hanya saja perlu diingat, yang ditransaksikan di bursa ini bukan komoditas, melainkan kontrak perdagangan berjangka. Maka juga tidak mengherankan kalau di berbagai bursa berjangka dunia tingkat delivery barangnya bisa nol atau tidak ada.

Mari kita bayangkan tahap demi tahap. Para pelaku bursa berjangka adalah anonim, dalam arti tidak saling mengenal dan dikenal satu sama lain. Artinya lagi, kalau anda melakukan transaksi, anda tidak pernah tahu siapa lawan transaksi anda. Anda bisa membeli satu satuan (di sebut lot) kontrak emas di pagi hari (dengan harga murah), entah dari siapa di bursa itu, dan menjualnya kembali semua di sore hari (dengan harga lebih tinggi), juga entah kepada siapa. Jono mengambil langkah beli kemudian jual karena dia memperkirakan harga kontrak emas akan naik. Tapi bagaimana kalau harga kontrak emas diperkirakan akan turun? Yang harus Anda lakukan adalah sebaliknya. Pagi-pagi anda harus memasang order jual satu lot emas (dengan harga tertentu), dan sore harinya membeli kembali satu lot emas (dengan harga lebih rendah). Jadi setiap “tutup bursa”, Anda berada pada posisi square: tidak punya kewajiban satu lot emas, juga tidak punya hak mendapatkan satu lot emas.

Nah, setiap orang bisa setiap saat masuk bursa dan setiap saat pula kembali ke posisi square. Dengan demikian pelaku bursa berjangka CPO (Crude Palm Oil, minyak sawit), misalnya, tidak harus produsen CPO (sebagai penjual) dan produsen minyak goreng (sebagai pembeli). Kalau anda punya uang, anda bisa berspekulasi dalam perdagangan sehari (one day trading). Beli pagi jual pada hari yang sama (pokoknya harga sudah naik), atau jual pagi beli kemudian (short selling), pada hari yang sama. Karena itu dalam praktiknya para pelaku bursa berjangka bisa dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yakni mereka yang sungguh berkepentingan atas komoditas tertentu (emas, minyak, CPO, olein, timah dll), dan yang kedua adalah para spekulator. Kelompok pertama masuk bursa untuk mengalihkan risikonya (mendapatkan kepastian harga), sedangkan kelompok kedua masuk bursa untuk berspekulasi terkait dengan fluktuasi harga.

Yang menarik adalah, mereka yang berkepentingan atas barang tertentu pun seringkali tidak berminat atas barang fisik pada tanggal jatuh tempo. Misalnya saja, pada saat jatuh tempo, Anda berada pada posisi sebagai penerima satu lot CPO, atau sebaliknya sebagai pemasok satu lot CPO. Di bursa yang sudah matang hal itu mudah diselesaikan secara keuangan. Mereka yang berhak mendapatkan barang akan mendapatkan konpensasi uang, dan sebaliknya mereka yang berkewajiban mengirimkan barang harus membayar konpensasi. Sejauh konpensasi itu sebanding dengan harga di pasar spot (pasar riil), bukankah semua pihak akan happy? Kembali dalam bursa berjangka yang sudah matang, delivery barang cenderung nol.

Mengapa? Harga kontrak di bursa berjangka bisa dipastikan merefleksikan harga di pasar spot. Kalau pasokan barang di pasar spot langka, otomatis harga di bursa berjangka juga akan naik dan sebaliknya. Karena kedekatan harga tersebut, calon pembeli tidak merasa rugi kalau pada waktunya tidak mendapatkan barang dari mitra dagangnya di bursa berjangka (yang memang tidak menyediakan), melainkan mendapatkan barang di pasar spot. Jono yang dulu sudah mengeluarkan uang, tidak merasa rugi kalau mitra dagangnya di bursa berjangka “mengembalikan” uang itu dan jumlahnya memang cukup untuk membeli emas di pasar spot. Tetapi (ini sepenuhnya pengandaian) kalau harga emas di pasar spot jauh lebih mahal, tentu dia akan menuntut emas yang sudah diperjanjikan. Sebaliknya Jinny juga tidak merasa bermasalah untuk menyerahkan sejumlah uang ketimbang harus membeli emas dan mengirimkannya pada Jono. Tetapi kalau harga emas di pasar spot jauh lebih rendah (ini juga sepenuhnya pengandaian), Jinny tentu akan memilih membeli emas satu ton dan mengirimkannya kepada Jono. Demikianlah logika “permainan” dalam perdagangan berjangka.

Transaksi Margin

Di Indonesia praktik perdagangan berjangka sudah mulai marak sejak beberapa tahun terakhir. Sejak lima tahun yang lalu di Jakarta ada satu bursa berjangka bernama Bursa Berjangka Jakarta (BBJ), yang kini memperdagangkan kontrak olein, kontrak emas, dan kontrak indeks emas. Tetapi yang lebih marak di pasar perdagangan berjangka adalah perdagangan produk keuangan, yakni kontrak valuta asing dan indeks saham. Ada satu sumber yang mengatakan, nilai transaksi perdagangan berjangka atas kontrak valas dan indeks saham di Indonesia mencapai 80%, sedangkan perdagangan berjangka atas kontrak komoditas hanya 20% dari keseluruhan.

Perdagangan berjangka atas valuta asing atau indeks saham, secara mekanisme, sebenarnya sama saja dengan perdagangan berjangka produk komoditas. Hanya saja penyelenggara bursa jenis ini bukan BBJ, tetapi sejumlah perusahaan yang memang bergerak pada bidang tersebut. “Kami, BBJ hanya berfungsi membantu Bapepti (Badan Pengawas Perdagangan Komoditi) mengawasi praktik perdagangan berjangka kontrak valas atau indeks saham,” kata YW Sudomo, direktur Bursa Berjangka Jakarta.

Sejumlah perusahaan pialang dalam negeri sekarang ini gencar menarik pemilik dana untuk bermain di bursa berjangka, terutama untuk kontrak valas dan indeks saham. Kontrak valas yang diperdagangkan selama ini adalah: GBP (poundsterling Inggris), JPY (yen Jepang), US$ (dollar AS), AUD (dollar Australia), EUR (euro), CAD (dollar Kanada) dan CHF (frank Swiss). Perdagangan dilangsungkan antar mata uang tersebut. Transaksi berjangka atas US$ terhadap rupiah masih belum dijalankan, karena belum ada izin dari Bank Indonesia. Sedangkan indeks saham yang diperdagangkan diantaranya adalah indeks Kospi (Korea) dan Nikkei (Jepang).

Konsep transaksi pada kontrak berjangka jenis ini juga sama saja dengan transaksi berjangka untuk komoditas, yakni berjangka, dan tidak perlu ada serah terima barang yang diperjanjikan (undeliverable). Misalnya saja anda ingin fokus pada perdagangan JPY-US$. Kalau anda yakin bahwa hari ini dollar AS akan menguat terhadap yen, maka pagi-pagi anda harus membeli dollar, dan kemudian menjualnya ketika dollar anda sungguh sudah menguat. Tetapi kalau ternyata kemudian dollar melemah, anda bisa menahannya sampai besok atau lusa atau kapanpun sampai dollar menguat, atau cepat menjualnya untuk mengurangi kerugian lebih besar.

Sebaliknya kalau anda menduga dollar akan turun, pagi-pagi anda harus mengambil posisi menjual dollar [karena anda sudah menjual sesuatu yang anda tidak punya, nanti anda harus mengganti]. Nanti, ketika dollar benar-benar turun, anda harus membeli pada harga yang lebih murah, sehingga posisi transaksi anda kembali netral. Pendek kata yang berlaku adalah hukum dagang biasa, beli rendah, jual tinggi. Waktu bukan persoalan, dalam arti bisa beli dulu baru jual, tetapi mau jual dulu baru beli juga tidak masalah.

Yang menarik adalah bahwa untuk bermain di perdagangan ini, modal yang anda gunakan tidak harus sebesar volume transaksinya. Misalnya saja satu lot dollar AS adalah US$10.000. Untuk bisa betransaksi sebesar satu lot dollar AS, anda tidak perlu menyerahkan dana sebesar US$10.000, tetapi cukup 1%-nya saja (dalam kasus lain prosentasenya bisa berbeda), yakni US$100. Mengapa begitu? Berdasarkan sejarah yang sangat panjang, ternyata pergerakan (naik atau turun) dollar AS per hari tidak akan lebih dari 1%. Nah, dana sebesar 1% itu harus anda setorkan kepada pialang (disebut margin awal), dan pialang akan menerimanya sebagai jaminan atas transaksi berjangka anda. Kalau ternyata hari itu anda merugi 0.5%, maka maka pialang akan mengambilnya dari margin awal anda, sehingga saldo margin anda tinggal US$50. Kalau angka itu masih memenuhi syarat minimal yang diminta oleh pialang, besok anda masih boleh melakukan transaksi lagi. Tapi kalau tidak, anda harus menyetor dana tambahan sampai batas minimal yang ditentukan pialang untuk bisa melanjutkan transaksi.

Di sinilah kita hendaknya berhitung lebih cermat. Dihitung dari sisi volume transaksi, pergerakan nilai tukar valas yang anda perdagangkan mungkin kecil saja. Dalam bursa, yang anda jual atau beli sungguh satu lot, yakni US$10.000. Kalau dalam tiga hari berturut-turut dollar AS menguat rata-rata 0,2% per hari, maka total keuntungan anda adalah 0,6%. “Kecil”, bukan? Tetapi kalau yang dihitung adalah dana atau modal riil yang anda setorkan kepada pialang, yakni US$100, maka dalam tiga hari anda untung sebesar US$60, atau 60%. Tetapi AWAS, kalau yang terjadi adalah arah sebaliknya dan anda salah mengantisipasi, maka cara menghitung kerugiannya pun demikian. Anda akan menderita kerugian yang sepadan dengan itu.

Online Trading

Yang menarik adalah bahwa secara regulasi transaksi seperti ini sekarang sepenuhnya legal, sejauh anda memang menggunakan jasa pialang yang legal pula. Di dalam negeri anda bisa mendapati sejumlah pialang berjangka untuk transaksi kontrak valas maupun indeks. Kalau anda serius, anda bisa mendapatkan daftar pialang itu di situs Bursa Berjangka Jakarta yakni http://www.bbj-jfx.com.

Sepengetahuan penulis ada pialang, misalnya Asia Kapitalindo, yang sudah menyelenggarakan online trading, sehingga anda bisa melakukan transaksi dari rumah melalui internet. Kalau belum puas juga dengan perusahaan lokal, anda bisa masuk ke internet dan melakukan transaksi melalui pialang online internasional yang bertebaran di banyak tempat.

Yang penting adalah, anda harus membekali diri dengan pengetahuan yang memadai atas produk yang anda transaksikan secara berjangka. Kalau anda fokus pada transaksi US$-JPY, misalnya, anda juga harus siap mencermati perekonomian kedua negara, hubungan antara kedua negara, dan sejarah nilai tukar kedua valuta, sehingga bisa memprediksi dengan lebih tepat ke arah mana pergerakan nilai tukar uang kedua negara itu. Tetapi juga jangan terlalu khawatir, karena internet menyediakan sumberdaya yang berlimpah untuk belajar dan mengawal anda bermain valas.

Nah, siap bermain valas dengan cara ini? Dengan modal laptop dan telepon seluler, tentu saja dengan modal dana yang cukup pula, anda bisa bekerja sambil berjemur di pantai… yang dulu hanya bisa kita lihat di film-film produksi Hollywood.

Tags: ,

Comments are closed.