Pastor Widyo, Sebuah Paradoks

Beberapa waktu yang lalu penulis meminta Pastor Agus Rachmat Widiyanto OSC, Provinsial OSC untuk menulis sepatah dua patah kata tentang Pastor Widyo. Tetapi Pastor Agus, yang dalam tahun orientasinya dibimbing oleh Pastor Widyo, mengatakan dia akan diminta berkotbah dalam misa 25 tahun Imamat Pastor Widyo di Paroki St. Monika Serpong. Tetapi Pastor Agus tidak menolak ketika penulis bertanya apakah boleh melakukan wawancara melalui telepon.

Berikut adalah rekonstruksi wawancara yang tidak direkam tersebut. Akurasi literer mohon diabaikan karena kecepatan mengetik penulis tidak bisa mengimbangi kecepatan wawancara.

Bagaimana Pastor melihat Pastor Widyo sebagai pribadi?

Pastor Widyo menurut saya adalah seorang yang paradoksal. Pertama dari segi fisik. Dia itu kan orang yang berperawakan pendek, gempal, dan setelah tinggal di BSD mungkin jadi padat ya… Dulu dia memang pendek, tetapi tidak gempal. Saya mengenal dia sejak awal tahun 70an. Dia berada sekitar dua atau tiga tahun di atas saya. Tetapi sebagai orang yang berbadan kecil, dia adalah orang yang bernyali besar, berhasrat besar dan berambisi besar. Nyali, hasrat dan ambisi itu terlihat sangat jelas di bidang olah raga. Dia sangat menyukai olahraga sepak bola dan badminton. Di kedua bidang olah raga ini terlihat sekali dia orang yang tidak mau kalah. Walaupun postur tubuhnya kecil, dalam sepak bola dia luar biasa. Dia bisa menyusup kemana-mana mengejar bola dan dengan itu dia bisa mengalahkan mereka yang postur tubuhnya lebih besar.

Dalam olahraga badminton juga begitu. Dia sangat bangga sekali kalau bisa mengalahkan Pastor Anton Rutten, seorang pastor Belanda yang berbadan tinggi. Dan memang dia sering berhasil mengalahkan pastor itu. Sayang sekali dia pernah jatuh atau bagaimana, kemudian disuntik oleh suster entah di pinggang entah di pantat, yang pasti membuat geraknya menjadi tidak maksimal, terutama untuk berolahraga. Dia selalu menyalahkan bahwa suster telah salah suntik.

Segi lainnya, Pastor?

Dari segi mental spiritual juga sama, dia itu paradoksal. Dia adalah orang yang sangat sadar bahwa dirinya tidak pandai. Tapi dia ingin menjadi leader, dan menurut saya sekarang dia mencapai apa yang diinginkan itu. Dia sekarang menjadi pastor kepala di paroki yang besar, menjadi ketua dekanat (Dekanat Tangerang, Keuskupan Agung Jakarta, red) dan menjadi anggota dewan provinsi.

Dia sadar bahwa dia tidak pandai secara akademik, dan itu tidak disembunyikannya. Tetapi pada saat yang sama dia bisa melakukan konpensasi secara positif dalam kepandaiannya bergaul, kepandaiannya berbicara di depan umum tanpa canggung dan tanpa rasa takut. Pastor Widyo adalah orang yang sangat konkret. Dan untuk konteks imamat sekarang hal ini sangat positif. Dulu kan ada gambaran umum dalam masyarakat bahwa seorang pastor harus pinter dan pasti pinter. Tapi sekarang gambaran tentang orang pinter kan bergeser ke orang lain, seperti ahli sains atau ahli komputer misalnya. Dalam konteks baru seperti ini, sikap Pastor Widyo yang seperti itu sangat membantu dia dalam tugas pastoral.

Bukankah dia juga cukup rendah hati, dengan mengundurkan diri dari proses pemilihan Provinsial OSC beberapa waktu lalu?

Benar bahwa Juli lalu dia memang dinominasikan untuk menjadi salah satu calon Provinsial OSC. Sebelumnya tidak pernah. Pencalonan ini muncul berkat kelompok muda OSC. Dia memang sangat dekat dengan para pastor muda, termasuk dengan para frater. Dia senang mendatangi para pastor muda atau para frater, kemudian mendongeng tentang pengalaman-pengalamannya, membawakan makanan… Tapi jangan ditangkap ini sebagai upaya dia untuk menyogok kelompok muda atau untuk meraih popularitas. Ini dilakukan oleh Pastor Widyo dengan sikap tulus orang Jawa, sesuai dengan karakter orang Jawa yang baik dan ramah. Itu sebabnya dia mendapat banyak dukungan dari para anggota muda OSC.

Tetapi memang dia mengundurkan diri dari pencalonan karena sadar bahwa dia tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik. Padahal seorang provinsial memang harus banyak berkomunikasi dalam konteks internasional sehingga minimal Bahasa Inggris memang harus dikuasai dengan baik. Dia sadar dengan batasnya.

Pastor pernah dibimbing oleh Pastor Widyo?

Ya, waktu menjalani tahun pastoral di Papua, saya menjalaninya di bawah bimbingan Pastor Widyo. Pastor Widyo memang baru dua atau tiga tahun di atas saya. Tetapi di Papua memang dia sudah menjadi pastor dengan tugas misi di sana. Di akhir masa orientasi saya, dialah yang memberi rekomendasi bahwa saya bisa ditahbiskan menjadi imam.

Caranya memberi rekomendasi memang sangat tidak lazim. Umumnya penilaian kepada seorang frater selesai tahun orientasi dilakukan secara sangat rahasia. Dengan demikian seorang pembimbing bisa memberikan penilaian yang selengkap mungkin, seobyektif mungkin mengenai seorang frater. Tapi Pastor Widyo lain. Dia memberikan penilaian dalam satu diskusi langsung dengan yang bersangkutan termasuk saya. Dengan demikian praktis saya juga ikut menentukan langsung nilai saya.

Katanya semua frater yang dibimbingnya menjadi pastor, tidak ada yang keluar, dan karier pastoralnya lebih hebat dari Pastor Widyo?

Benar. Sampai sekarang adik-adik angkatan yang dibimbingnya semua jadi pastor yang baik, dan tampaknya dia bangga dengan itu. Ini mungkin disebabkan oleh karakternya yang memang mempunyai “sisi ibu” yang sangat kuat. Seorang ibu, seorang guru, biasanya akan mempunyai kebanggaan tersendiri kalau anak didiknya berhasil atau sukses. Pribadi seperti ini memiliki lebih banyak ruang accepting-nya daripada ruang demanding-nya.

Bagaimana kesan Pastor terhadap Pastor Widyo sebagai seorang biarawan OSC?

Yang saya katakan di atas merupakan salah satu ciri menonjol Pastor Widyo sebagai seorang OSC. Ciri menonjol yang pertama adalah keramahtamahannya. Kami di OSC memang menekankan hospitality. Ramah, sanggup menerima orang lain. Dalam hal itu dia memang merupakan seorang OSC yang hebat. Dia praktis bisa menerima siapapun tanpa ada masalah. Itu sebabnya sampai batas tertentu dia sering menjadi korban. Kalau ada seorang anggota komunitas yang sulit, biasanya akan ditempatkan bersama Pastor Widyo, dan dia akan bisa menerima orang ini dengan baik. Ini sungguh terjadi. Pastor Widyo tidak pernah menolak untuk ditempatkan bersama siapa pun.

Ciri ini muncul kemungkinan karena Pastor Widyo sangat happy dengan masa lalunya, masa kecilnya. Dia tidak pernah punya trauma apapun di masa kecil. Dia tidak pernah merasa ditolak, tidak disapih, sehingga dia merasa sangat oke dengan dirinya sendiri. Dan karena dia merasa oke dengan dirinya sendiri, maka dia akan merasa oke juga dengan orang lain.

Kedua, dia adalah orang yang siap untuk ditugaskan di manapun, di tengah masyarakat seperti apapun. Dia pernah bertugas di paroki-paroki yang umatnya secara ekonomis banyak yang miskin. Misalnya saja dia pernah bertugas di Papua, di Indramayu, di Cigugur… tempat-tempat yang secara ekonomis memang berat. Dia memang tidak pilih-pilih dalam tugas. Sebab memang ada pastor yang kalau ditugaskan ke BSD sregep tetapi kalau diminta bertugas ke Cigugur lantas merasa bakatnya tidak dihargai.

Pastor Widyo bisa mengambil sikap siap sedia seperti itu karena dalam berkarya dia tidak mencari materi, tetapi mencari relasi.

Tetapi Pastor Widyo mengatakan, relasi ini di sisi lain merupakan sesuatu yang berat untuk dia, terutama relasi dengan lawan jenis. Bagaimana?

Relasi itu bisa dilihat sebagai sebuah need atau kebutuhan, tetapi juga bisa dilihat sebagai sebuah art atau seni. Saya melihat bagi Pastor Widyo, relasi pada dasarnya adalah need, termasuk relasi dengan lawan jenis. Tetapi dalam praktik dia bisa mengemas need ini sebagai art. Dengan demikian dia memang bisa mengelola relasi itu dengan baik sehingga faktanya tidak sampai berdampak buruk bagi hidup kebiarawanannya maupun imamatnya. Anda pasti pernah mendengar cerita-cerita mengenai pastor yang keluar dengan berbagai masalah, termasuk masalah dengan ibu-ibu, bukan? Pastor Widyo tidak jatuh ke sana karena dia menempatkan need relasinya dengan lawan jenis dalam konteks keluarga. Kalau dia dekat dengan seorang ibu misalnya, dia juga akan dekat dengan suaminya sehingga relasi itu tidak akan bermasalah.

Di samping itu dalam pandangan saya Pastor Widyo juga sangat menikmati imamatnya, sehingga ini bisa menjadi satu sistem peringatan dini (early warning system) yang bisa menjaga dia dalam kesetiaan imamat. Dia tidak jatuh. Mungkin juga dia mempunyai system peringatan dini yang lain, katakan saja ada relasi baru di tempat baru sehingga relatif mudah bagi dia untuk menyelesaikan persoalan seperti ini. Menurut saya dia pintar menyelesaikan persoalan ini dengan baik.

Bagaimana dia menjalankan tugas-tugas parokialnya?

Yang saya katakan tadi bahwa dia tidak punya masalah psikis sangat besar manfaatnya bagi pelaksanaan tugas-tugasnya. Dia tidak takut, tidak khawatir, tidak mudah panik. Berbicara dengan siapa pun, termasuk dengan kardinal, bukan sesuatu yang menggentarkan dia. Sama halnya ketika dia harus berhadapan dengan umat. Dia tidak pintar, sadar bahwa tidak pintar, tetapi juga bahagia dengan situasi seperti itu. Maka jadilah dia pastor yang apa adanya, tidak sok. Orang yang tidak pintar, tetapi tidak sadar bahwa tidak pintar, kan biasanya jadi sok, main perintah. Dia bukan tipe orang seperti itu.

Justru Pastor Widyo adalah orang yang mau mengakui kehebatan dan kelebihan orang lain. Dan kelebihannya adalah, dia mempunyai intuisi yang bagus untuk menilai orang lain, sehingga dia bisa memakai orang lain dalam menjalankan tugas-tugasnya. Dia pernah bilang bahwa menjadi pastor itu gampang, asal bisa mengikuti orang lain. Mungkin kalimat ini banyak tidak disetujui oleh orang lain, tetapi itulah yang dengan sadar dijalankannya, dan berhasil. Dia sangat akomodatif terhadap berbagai macam aspirasi dan kreativitas umat, dan ternyata itu menguntungkan dalam tugas pastoralnya.

Berkaitan dengan 25 tahun imamat Pastor Widyo, ada pesan khusus?

Saya berharap satu hal saja, yakni dia akan merayakan pesta emas imamat kelak. Ini mengandung dua arti. Pertama saya berharap dia berumur panjang. Untuk itu memang dia harus menjaga kesehatannya, menjaga pola hidup, pola istirahat dan pola konsumsinya agar cita-cita umur panjang itu bisa tercapai.
Kedua, saya berharap dalam dua puluh lima tahun ke depan dia tetap seorang pastor yang setia. Kita kan sekarang sering dikagetkan oleh berita mengenai pastor yang keluar. Kita tahu imamat kan sebenarnya sama saja dengan perkawinan. Ada yang namanya masa krisis. Dulu orang bilang 10 tahun adalah masa krisis seorang imam. Sekarang malah lebih cepat lagi. Jadi kalau sampai mencapai 50 tahun imamat, tentu itu prestasi. Karena itu saya sungguh berharap, Pastor Widyo akan merayakan pesta emas perkawinan, entah di mana nanti.

Komentar

Telah Dibaca:732

Leave a Comment