Pastor Widyo: Diperlukan Keteladanan

Banyak orang yang mengatakan, bahwa Pastor Widyo adalah orang yang sangat menikmati panggilan imamatnya. Di lain pihak, dia juga dikenal sebagai orang yang dekat dengan para frater serta para pastor muda OSC. Tampaknya Pastor Widyo memang begitu bahagia dengan panggilan imamat dan kebiarawanannya, dan ingin agar kebahagiaan itu juga dinikmati oleh orang lain. Berikut adalah bincang-bincang penulis dengan Pastor Widyo seputar panggilan hidupnya, dan bagaimana dia mencoba “mempPastorsikan” kebahagiaan hidup imamat kepada orang lain.

Pastor banyak mendampingi banyak frater?
Ya, dan anda boleh tahu, frater yang saya dampingi belum ada satupun yang keluar. Semua jadi pastor, dan jadinya melebihi saya. Jadi saya senang. Frater Agus, misalnya, sekarang menjadi provinsial untuk kedua kalinya. Lalu Pastor Darno, keponakannya Mgr Leo, juga jadi. Lalu ada dua pastor yang sekarang jadi dosen, dan ada satu lagi yang sekarang tugas belajar di roma. Lalu ada yang di Brazil. Lalu satu lagi hampir tahbisan. Saya senang mereka semua jadi, dan menjadi lebih besar dari saya. Saya senang. Biarlah mereka semakin besar, dan saya semakin kecil. Mereka berkembang pesat mungkin karena dinilai positif. Malu kan, kalau dinilai positif kok ternyata jeblok.

Apa konsep Pastor soal panggilan?
Awalnya sederhana saja, ketertarikan anak-anak, bahwa ada pastor yang baik-baik. Kebetulan mereka yang bertugas di sekitar rumah saya baik-baik. Saya juga dibina oleh para suster-suster novis CB, yang baik-baik, bersih-bersih, cantik-cantik… sepertinya mereka kok pinter-pinter. Ketertarikan itu semakin besar ketika saya menjadi putera altar, dan tumbuh lagi dalam kegiatan mudika paroki, walaupun waktu itu saya juga sudah mulai tertarik pada lawan jenis.

Kebetulan saya punya paman yang menjadi bruder. Jadi muncul tarik menarik antara ketertarikan pada lawan jenis dengan ketertarikan menjadi imam. Ketertarikan pada lawan jenis tidak bisa begitu saja saya matikan, bahkan sampai sekarang. Jadi saya harus berteriamkasih pada paman saya yang memberi saya motivasi untuk masuk.

Bagaimana Pastor membayangkan Panggilan Tumbuh di Paroki ini?
Harusnya yang terpanggil itu menampilkan diri sebagai panutan. Orang tertarik karena melihat bahwa yang sudah terpanggil itu adalah orang yang baik, ramah dan seterusnya. Motivasi murni ‘kan baru terjadi dan dimurnikan kemudian. Panggilan harus ada sarana, yakni bahwa mereka harus melihat yang sudah terpanggil dulu. Tidak mungkin orang tiba-tiba saja masuk. Paulus pun terpanggil justru karena mengejar-ngejar orang Kristen. Mungkin dia frustasi, karena banyak yang dibunuh, tetapi tetap tumbuh terus. Jadi pendampingan pada anak-anak, remaja, putra altar, putri sakristi… semuanya itu penting.

Sekarang masih ada kekaguman seperti itu dalam diri kaum muda?
Kalau kekaguman seperti kekaguman para anak atau remaja dulu, rasanya sekarang sudah tidak ada lagi. Apalagi di Jakarta. Tetapi kalau ada seorang imam yang baik, saya rasa hal itu masih mampu menarik perhatian, menimbulkan rasa kagum, walaupun bukan dalam bentuk kekaguman yang ditonjolkan. Cara orang sekarang memandang imam tidak seperti dulu lagi. Karena itu juga diantara anak-anak tidak ada lagi pemikiran atau keinginan, besok akan jadi pastor. Jadi pastor bukan lagi pilihan yang diidealkan anak-anak, karena di depan mata anak-anak sekarang sudah terbuka begitu banyak kemungkinan yang bisa mereka pilih untuk masa depan mereka. Paling sekarang anak usia tiga empat tahun yang masih bisa tertarik, tetapi agak besar sedikit mereka sudah tidak tertarik lagi.

Kalau begitu bagaimana masa depan imamat?
Saya lihat ke depan peran umat akan semakin penting. Umat akan semakin banyak terlibat dan ambil peran. Sekarang praktis yang sakramen beneran yang masih dipegang imam. Sakramentali sudah banyak dipegang oleh awam. Paling tinggal sakramen pokok seperti pengakuan dosa misalnya.

Proporsi umat-imam semakin tidak njomplang. Bagaimana ke depan?
Yang paling penting bagi saya sendiri adalah bisa hadir dengan sepenuh hati. Saya tidak boleh berpikir bahwa saya bisa mengubah umat menjadi orang yang sangat baik. Bahwa mereka masih mau ke gereja saja, untuk saya sudah merupakan satu keuntungan. Pada saat banyak orang kumpul, gunakan sebaik mungkin. Jadi yang penting adalah pendampingan, dan jangan langsung mau lihat hasilnya saat itu juga. Jadi jangan harap mendapat tepuk tangan saat itu juga. Jadi yang paling penting imam harus siap hadir di mana umat berada.

Fungsi sakramental tetap ada pastor. Bagaimana dalam kasus jumlah imam kurang?
Cara sekarang yang perlu ditempuh adalah pembibitan. Di mana-mana ada seminari. Juga ditempatkan orang-orang yang berpotensi menarik para calon. Karena itu pendampingan untuk kaum mudah tetap ada. Jadi ketika anak-anak sedang mencari pilihan, seharusnya disediakan juga pilihan hidup yang bukan glamour. Perlu ditawarkan bahwa ada panggilan lain. Ini tetap perlu diwartakan. Selama gereja tetap bertahan pada prinsip bahwa imam tidak menikah, para pastor di paroki juga harus menampilkan diri sebagai orang yang dimaksudkan oleh gereja. Imam harus menjaga kesucian dan kemurniannya. Dengan demikian kehadiran pastor harus bisa menjadi daya tarik untuk kaum muda.

Sekarang yang perlu ditawarkan justru berbeda dengan dulu. Orang harus bisa melihat kesederhanaan seorang imam, yang bisa bahagia dengan baju yang terbatas, mobilnya yang tua… tapi hidupnya tenang. Justru kesederhanaanlah yang harus ditonjolkan, untuk membedakan imam dengan umat. Apa gunanya menjadi imam kalau misalnya mobilnya ganti-ganti, bagus-bagus misalnya. Umat pun memang perlu disadarkan bahwa hidup ini bukan hanya urusan materi. Karena itu saya tidak mau katakan saja, saja ganti-ganti jam, kacamata atau hanphone. Pagi pakai yang mana, sore pakai yang mana.

Apakah umat masih bisa diajak kembali “eling lan waspada” seperti yang Pastor harapkan?
Saya yakin bisa. Ingat ‘kan, Pak Harto (Presiden Suharto, red) di saat terakhir mengatakan bahwa dia ingin madeg pandita. Artinya, seberkuasa apapun, dia merasa tidak cukup dengan itu. Dia ingin sesuatu yang lebih mendalam dan lebih berarti. Ada kerinduan untuk kembali. Dengan memfigurkan semar, dia ingin seperti itu. Kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki Pak Harto dirasa baru sempurna kalau dia menjadi seperti Semar. Paling tidak dia punya rem, bahwa berkuasa dan menjadi presiden tidak cukup.

Saya yakin umat bisa diajak ke arah sana, terutama kalau para imam, terutama yang biarawan, memberi kesaksian dengan sungguh-sungguh bahwa mereka menghayati ketiga kaul yang mereka ucapkan, yakni taat, setia (selibat) dan miskin (sederhana). Kalau ada pastor biarawan dipindahkan terus ngomel, bagaimana umat akan menghormati? Apa yang terjadi kalau pastor mengeluh pada umat bahwa dia tidak punya ini atau itu? Kalau sungguh menghayati kemiskinan, mengapa saya mesti menyebut itu? Kalau sampai ada pastor yang ngomel karena umat lupa ngirim makan, itu juga keterlaluan. Perut hanya satu, apa susahnya sih? Bikin mi instan atau bikin nasi sama menggoreng telor juga cepet kok. Jadi jangan menuntut umat. Pikirkan apakah kita para pastor sudah memperhatikan mereka.

Komentar

Telah Dibaca:617

Leave a Comment