Pastor Widyo di Mata Umat

Lebih dari satu tahun sudah Pastor Widyo bertugas di Paroki St. Monika, tetapi cukup banyak umat yang menolak ketika diajak “ngerumpi” tentang beliau. Alasan yang paling banyak disampaikan adalah, “Saya belum kenal baik kecuali melalui kotbahnya… atau melalui tulisannya di Komunika.” Mereka, umumnya, merasa belum bergaul cukup akrap dengan Pastor Widyo. Bahkan seorang anggota dewan paroki mengatakan hal yang sama, “Jangan… saya belum begitu mengenal…” Tetapi ketika penulis datang ke Cirebon untuk berbicara dengan beberapa umat, mereka antusias sekali berbicara dengan Pastor Widyo. Maklumlah, Pastor kita bertugas di paroki itu selama hampir delapan tahun. Penulis kutipkan pendapat umat Cirebon, agar kita umat St. Monika lebih mengenal Pastor Widyo, pastor paroki kita.

Konsisten pada Liturgi yang Baku
Saya sebenarnya tidak mengenal Pastor Widyo selalin melalui perayaan ekaristi dan melalui rapat dewan pleno waktu saya masih menjadi ketua lingkungan. Yang saya tangkap dari pengenalan itu adalah bahwa Pastor Widyo adalah orang yang sangat peduli pada orang-orang yang ada dalam kesulitan. Saya mengambil kesimpulan itu dari caranya membacakan intensi misa, yang kadang diulangi sampai tiga kali.

Di samping itu Pastor Widyo adalah orang yang sangat konsisten pada patron-patron liturgi. Dalam berliturgi dia tidak mau menyingkat-nyingkat, apalagi membuang, bagian yang penting dalam liturgi. Lama nggak papa, tapi liturginya jadi benar. Kotbah-kotbah Pastor Widyo juga lebih mendarat, mengena di persoalan hidup kita. Pastor Widyo juga orang yang pada pengamatan saya bisa melebur dengan semua kalangan umat. Mulai dari anak-anak, remaja, kaum muda, sampai orang dewasa dan orang tua. Saya juga tidak melihat dia membedakan latarbelakang sosial umat. Dia bergaul dengan semuanya.

Yang pada hemat saya perlu diperhatikan adalah perlunya Pastor Widyo untuk menggunakan teknologi baru dalam berpastoral. Saya harap pastor tidak alergi terhadap email atau internet. Sebab saya lihat Pastor Widyo tidak pernah masuk dalam diskusi dalam milis paroki. Padahal pada hemat saya milis adalah sarana berpastoral yang sangat efektif. Bapa Paus juga sangat menekankan hal itu, bukan? Mungkin di internet setan sudah masuk. Tapi menurut saya justru kalau setan sudah masuk, kita harus masuk untuk melawan setan itu.

Tapi di lain pihak saya cukup senang, bahwa Pastor Widyo cukup terbuka pada teknologi baru. Waktu misa natal anak-anak, kami berusaha menggunakan teknologi baru, dengan memproyeksikan suasana panggung ke layar besar. Awalnya Pastor Widyo menolak. Tetapi setelah panitia bisa meyakinkan, akhirnya Pastor Widyo bersedia untuk menerima hal itu. Pastor Widyo akhirnya juga bisa menerima ketika panitia lomba vocal group mengusulkan untuk memakai panti imam sebagai panggung. Jadi saya masih berharap Pastor Widyo akan segera aktif di milis, supaya berbagai persoalan yang muncul bisa ditanggapi dengan cepat.

Akhirnya, tentu saja kami sekeluarga mengucapkan selamat pesta kepada Pastor Widyo, semoga tetap teguh dalam menghayati dan mempertahankan panggilan imamat. (Yohanes Kristanto)

Renungan Harian Mengubah Pandangan

Awalnya saya memang tidak begitu suka dengan Pastor Widyo. Ya mungkin memang tak kenal maka tak sayang. Saya pertama melihat Pastor Widyo pada misa hari minggu. Menurut saya kok kotbahnya tidak jelas. Tetapi setelah mengikuti misa-misa hariannya di pagi hari, saya menangkap sesuatu yang beda. Renungan-renungan singkat yang diberikan pada misa pagi hari jauh lebih menarik, lebih mendalam, dan bermakna bagi hidup saya. Juga saya menangkap renungan-renungan yang mendalam pada saat permandian bayi, saat Pastor Widyo memberikan renungan untuk para orang tua. Sekarang kalau saya mendengar kotbahnya dan merasa mendapatkan sesuatu yang istimewa, saya selalu katakan pada Pastor Widyo, “Pastor kotbahnya bagus, terimakasih.”

Sekarang saya merasa lebih mengenal beliau, dan umur kami kan hanya selisih setahun. Jadi gimana ya, sekarang rasanya seperti teman atau kakak. Pastor Widyo itu orangnya suka bercanda. Bahkan kadang-kadang kalau becanda sering “nyerempet-nyerempet”.

Tapi di lain pihak Pastor Widyo adalah pastor yang terlihat menikmati imamatnya. Saya pernah mendengar beliau mengatakan bahwa imannya tumbuh bersama umat. Itu sebabnya kelihatannya dia bisa menikmati tugas di mana pun karena di mana pun juga dia merasa terus berkembang dalam iman. (Ny. Ismu)

Akomodatif dan Sederhana, nggak Njlimet

Saya melihat Pastor Widyo ini lebih merupakan seorang praktisioner. Dia bukan orang yang berfikir terlalu njlimet atau complicated, tetapi praktis. Orangnya juga sangat akomodatif. Dia bersedia mendengarkan dan menampung ide-ide baru yang muncul dari umat. Usulan-usulan dari umat, sejauh memang bersifat membangun, akan diterimanya dengan senang hati. Di samping itu Pastor Widyo orangnya lebih mengutamakan kesederhanaan dan sesuatu yang bersifat tradisional. Dia tidak terlalu menyukai hal-hal yang serba modern dan berkesan wah. Dalam hal makan, misalnya, akan sulit sekali untuk mengajak makan malam Pastor Widyo, misalnya di restoran. Beliau lebih suka makan di pastoran.

Dalam hubungannya dengan umat, Pastor Widyo orang yang sangat ramah, dan bersedia menerima dengan tangan terbuka. Pastor Widyo bahkan cenderung mengakomodasi setiap kepentingan umat. Tetapi ‘kan memorinya tetap terbatas, sehingga ketika masih sangat awal berada di St. Monika pernah terjadi bentrokan acara di lingkungan karena Pastor Widyo menyanggupi lebih dari satu acara.

Dalam hal manajemen paroki, Pastor Widyo orangnya juga sangat akomodatif. Tak ada sesuatu yang bersifat mutlak. Kalau ada sesuatu yang kurang, dia akan mengatakan, ya sudah… Tetapi pada saat dituntut untuk tegas, beliau juga bisa tegas. Misalnya saja untuk hal-hal pastoral yang memang tidak bisa diterima, Pastor Widyo akan dengan tegas mengatakan tidak bisa. Misalnya saja, ketika ada umat yang minta izin, Pastor Widyo bisa mengatakan “Boleh mengundang Pastor A, tetapi hanya untuk perayaan ekaristi. Tidak untuk memberikan pengajaran.” Hal itu ditegaskan oleh oleh Pastor Widyo karena memang ada petunjuk semacam itu dari keuskupan.

Kalau boleh berpesan, saya berharap Pastor Widyo akan memperjuangkan panggilan imamatnya sampai selesai. Semoga perjuangan untuk mempertahankan panggilan yang selama ini dijalankan tidak pernah berhenti, tidak pernah surut. Pesan berikutnya, rajin-rajin buka email, Pastor… (Simon Subrata)

Bercelana Pendek Bersama

Orangnya tidak terlalu serius. Kalau saya mengharapkan jawaban tertentu, saya harus menggiring sampai dia menjawab ke arah itu. Sulit ditebak. Kalau dalam rapat ya kadang begitu… Saya kenal sangat dekat. Saya pernah dipercaya sebagai koordinator lingkungan yang membawahi 19 lingkungan sampai dua periode. Saya sering ikut ke Yogya, mampir di rumah keluarganya beberapa kali bersama Pastor Widyo. Kalau ke luar kota, bercelana pendek bersama juga biasa.

Pastor widyo umumnya terbuka pada usulan-usulan. Hubungan dengan umat umumnya nggak bermasalah. Dia cukup disenangi. Dia banyak berelasi dengan kaum ibu… dia terbuka. Bahkan orang tuanya masih bilang, “Kalau Widyo masih jadi pastor seperti sekarang, saya nggak nyangka…” Saya dengar dari beliau. Waktu saya mau menikahkan anak saya, saya kan juga ketemu dengan orang tuanya…

Semoga tetap tabah menjalani masa pastoral dengan baik. Apalagi di Jakarta, yang membutuhkan konsentrasi yang lebih serius. (Ptr Djoni Sunaryo, Cirebon)

Tak Suka Nasi Jamblang

Pastor Widyo itu gayanya cuek sekali. Kadang seperti orang yang tidak peduli terhadap sesuatu atau terhadap orang lain. Kalau ditegur tentang sesuatu hal, dia akan dengan cueknya bilang, “Biarin aja… Tuhan tahu apa yang saya lakukan.” Yang pasti dia nggak suka Nasi Jamblang. Tapi duren suka sekali. Kopinya selalu kopi pahit, dan diminum sampai ke ampas-ampasnya.

Tetapi dalam mengelola dana, mengelola paroki, dia orang yang sangat hati-hati. Ketika ada usulan-usulan tertentu, dia tidak akan memberikan jawaban yang pasti sebelum dia yakin bahwa usulan itu bisa dijalankan dengan baik.

Salah satu contohnya adalah soal pembangunan gereja di satu stasi. Gereja itu sudah nggak bisa diapa-apain. Harus dibongkar total. Kuda-kudanya sudah nggak bener, kalau hujan bocor dan sebagainya. Kami minta supaya gereja itu segera saja dibongkar saja, kan nanti duitnya datang sendiri. Tetapi Pastor Widyo diam saja. Ketika ditanya apakah pastor mau umatnya misa sambil payungan, dia jawab pokoknya enggak mau. Dia diam begitu selama dua tahun. Kami terus membujuk pastor , tetapi tetap nggak mau. Baru setelah ada penanggung jawab… artinya kalau dana nggak mencukup ada yang mau membiayai… baru Pastor Widyo mengatakan ya. Jadi dia perlu kepastian bahwa akan selesai dan tidak memberatkan umat. Sebab, di gereja itu kolektenya saja setiap minggu tidak lebih dari 100 ribu rupiah. Dia tidak mau membebani umat. (Gloria, Cirebon)

Tahu Falsafah Jawa secara Mendalam

Saya kenal dia di sini (Cirebon). Waktu beliau datang ke sini, saya dicomot untuk menjadi penerima tamu, tahun 1995 dan entah bagaimana saya diaktifkan kembali di dewan paroki. Walaupun muda, beliau itu bahasa jawanya lengkap dan ternyata dia mengetahui soal wayang. Dan yang mengagumkan saya adalah bahwa dia tahu secara mendalam falsafah hidup oang Jawa, yaitu bahwa orang harus mempunyai wismo (rumah), curigo (senjata, alat), kukilo (binatang peliharaan), turronggo (kendaraan), garwo (istri, pilihan hidup).

Yang jadi masalah adalah, bahwa dia menjalani hidup dalam cara pandang jawa, tetapi orang mencoba mengenali dia tidak dalam pendekatan itu. Karena itu sering terjadi kesalahan dalam memahami beliau. Suatu ketika ada warga baru yang anaknya meninggal. Kami lapor ke pastor paroki, dan minta pastor untuk memimpin upacara penutupan jenazah dan pemakaman. Beliau kemudian minta saya, “Ya sudah Pak Hadi saja yang memimpin…” tanpa memberikan penjelasan apapun. Saya mendapat tugas, ya saya jalankan. Baru setelah sekian lama, ternyata beliau menugasi saya karena memang harus begitu. Orang yang belum dibaptis cukup mendapat pelayanan dari prodiakon saja. Jangan pastor.

Ada satu kesalahpahaman lain. Entah berapa kali, setiap kali Natal atau Paskah, Pastor Widyo selalu misa di stasi, tidak di paroki. Ini menimbulkan banyak pertanyaan umat, termasuk dewan paroki. Padahal menurut saya ini satu kebijakan yang jelas. Ini pilihan yang jelas, bahwa bagi Pastor Widyo, paroki tidak terlalu memerlukan kehadirannya, karena di sana toh ada banyak orang. Ada pastor yang lain, ada dewan… sedang di stasi tidak. Kehadiran pastor lebih diperlukan di stasi. (Hadi Suroyo, Cirebon)

Visinya Jauh ke Depan

Saya memahami bahwa keluarga Pastor Widyo secara religius memang sangat kuat. Tidak mengherankan kalau omnya ada yang jadi bruder, dan familinya ada yang jadi suster. Saya melihat ketaatan kepada Tuhan ditanamkan sejak usia anak-anak.

Pastor Widyo adalah pastor yang demokrat. Jawa, tapi tetap seorang demokrat. Menurut saya cara pastoralnya sangat berbeda. Saya menempatkan beliau sebagai punokawan. Kebetulan saya juga mendalami wayang. Seorang punakawan itu kan ada di samping, ada di depan dan ada di belakang. Di depan bukan untuk mendikte, di samping bukan untuk disisihkan, di belakang bukan untuk ditinggal. Gerak pastoralnya yang saya amati… ya seperti konsep punakwan itu. Silakan umat berkreasi, asalkan demi kemuliaan Tuhan, silakan saja. Tipe Pastor Widyo saya pikir tepat. Dia berusaha menunggu dan memelihara inisiatif-inisiatif dari bawah. Jadi dasarnya bukan acuh tak acuh.

Beliau orangnya sangat akomodatif. Justru saya bilang, kalau di keuskupan ini (Bandung) ada sepuluh pastor seperti dia, keuskupan akan dengan cepat maju. Tapi memang kalau ada ide yang keliru, beliau juga tidak akan memberi respon. Imam seperti itulah yang sesungguhnya, menurut saya, diperlukan. Walaupun mungkin saja umat terlambat menyadari hal itu. Saya bersyukur Pada Tuhan bahwa saya boleh membandingkan dengan para pastor yang lain.

Salah satu impian pastor widyo adalah ingin menjadikan paroki Cirebon ini sebagai paroki yang modern. Gedung ini direncanakan untuk dirombak. Di belakang akan dibangun pastoran. Akan ada ruang-ruang untuk kantor. Ada ruang serbaguna. Kami pernah mimpi punya radio. Beliau juga merindukan ada partai. Mimpi lain adalah ingin mengembangkan rumah sakit. Yang pasti Pastor Widyo berpikir sangat jauh ke depan. Banyak hal yang dipikirkan tentang apa yang akan terjadi di paroki ini limabelas tahun yang akan datang. (JS Kamdhi, Cirebon)

Komentar

Telah Dibaca:1690

Leave a Comment