Pastor Widyo di Mata Rekan Sekomunitas

Pastor Widyo memulai karyanya di St. Monika sebagai pastor pembantu, karena Pastor Katmo masih bertugas di paroki ini sebagai pastor kepala paroki. Tetapi sebagai OSC, dia dipilih sebagai rektor rumah yang waktu itu beranggotakan empat orang, termasuk Pastor Donatus Manalu dan Pastor Andreas Dedi. Kini Pastor Widyo menjadi pastor paroki, dan Pastor Donatus serta Pastor Andreas menjadi pastor pembantu. Berikut adalah komentar singkat kedua pastor itu tentang Pastor Widyo.

Pastor Donatus Manalu OSC:
Teman Komunitas yang Baik

Pastor Widyo itu teman yang sekomunitas yang baik, walaupun dalam hal karya pastoral, menurut saya, dia lebih cocok untuk paroki dengan umat yang sudah tua seperti di Bandung. Saya sungguh membutuhkan kehadiran sosok Pastor Widyo sebagai teman komunitas, sebagai sesama OSC, sebagai pemimpin rumah. Dan rasanya bukan hanya saya yang merasakan seperti itu. Banyak anggota OSC yang masih muda menempatkan Pastor Widyo dalam posisi seperti itu. Itu sebabnya kami, para pastor muda OSC, pernah minta dia sebagai pendamping.

Saya merasa dia orang yang bisa mendengarkan. Kami yang muda ini kan bisa saja pulang dari stasi, dalam keadaan down. Terus dengan santainya dia mengatakan, “Sudahlah… itu hal biasa. Nggak usah terlalu dipikir.” Kalimat yang sederhana sebenarnya, tetapi sangat berarti untuk kami para pastor yang masih muda ini. Dia bisa memberi semangat dan membuat suasana rumah lebih segar. Kehadiran dia membuat suasana rumah pastoran ini lebih banyak tawa. Suasana komunitas jadi lebih cerah.

Pastor Widyo juga seorang pendamping yang baik. Semua frater yang menjalani tugas pastoral bersama Pastor Widyo semuanya sukses. Ada yang jadi provinsial, ada yang menjadi doktor, ada yang sedang studi doctoral… pokoknya semua hebat-hebat. Menurut saya kuncinya satu. Para frater itu berkembang baik karena tidak dihakimi. Pastor Widyo orangnya memang tidak mau menghakimi. Banyak, ‘kan, orang yang hancur bukan karena dia jelek, tetapi karena dihakimi oleh atasannya.

Pastor Andreas Dedi OSC
Memberi Kepercayaan Penuh

Saya pertama kali bertemu dengan Pastor Widyo sejak dia masih frater, karena dia pernah main ke rumah bersama kakak saya yang waktu itu juga masig frater [sekarang pastor, tugas di Cirebon). Tapi perkenalan lebih dekat terjadi tahun 90an, waktu saya masih frater. Pastor Widyo sering main ke frateran di Bandung dan ngobrol dengan kami.

Pastor Widyo orangnya santai, tidak mau pusing dengan hal yang remeh atau kecil. Sepertinya dia berprinsip, jalani saja hidup ini dengan santai. Hal itu juga yang diterapkan dalam menghadapi umat. Setiap umat yang datang, minta misa lingkungan, dia selalu mengatakan bersedia. Tidak ada masalah. Tetapi dulu janji-janji seperti ini tidak teradministrasikan dengan baik. Pastor Widyo mengandalkan ingatan, bahwa tanggal sekian misa di sini. Tapi kan tetap saja, ingatan orang terbatas. Karena itu awalnya dulu terjadi beberapa kali tabrakan. Dalam satu hari dia menjanjikan lebih dari satu acara lingkungan. Tetapi sekarang dia sudah memakai sistem agenda, sehingga acara ganda seperti itu tidak bisa dihindarkan.

Sikap santai cenderung cuek ini dijalaninya dalam menyikapi semua sisi. Sedemikian santainya sampai dia berprinsip, dipuji tidak membuat dia jadi lebih baik, diejek atau diperolok tidak membuat dia menjadi lebih buruk. Karena itu tentang dirinya sendiri pun dia orangnya blak-blakan. Tidak ada yang ditutup-tutupi, termasuk keluarganya sendiri. Siapa pun, sesama pastor atau umat, dipersilakannya mampir ke rumahnya di Yogya.

Kepada kami yang muda, saya dan Pastor Donatus, dia memberi kepercayaan penuh untuk menjalankan tugas-tugas di stasi. Dia tidak merasa semua hal harus dibicarakan dulu. Kalau kami yakin benar, ya jalankan saja. Kami diberi tanggung jawab penuh. Tetapi terus terang kadang-kadang kan kita perlu juga ditegur… bener nggak sih yang kami lakukan.

Dalam mengelola paroki dia orangnya terbuka. Kalau ada masukan-masukan, yang paling radikal sekalipun, dia akan terbuka. Yang penting yang punya masukan bisa meyakinkan dia. Ingat, kan? Paskah lalu direncanakan tidak akan ada misa anak-anak. Tetapi setelah panitia menghadap dan menjelaskan seluruh arahnya, akhirnya misa paskah anak-anak akhirnya dijalankan juga.

Komentar

Telah Dibaca:2081

Leave a Comment