Pastor Widyo di Mata Keluarga

Pak Wito:
Dia Mengangkat Martabat Orangtua

Waktu kecil dia diberi nama Djino karena dia anak nomor siji (satu), lahirnya tanggal siji bulan siji, tahun seket siji (limapuluh satu). Begitulah cara orang jawa mengingat-ingat kelahiran anaknya. Jadi dia diberi nama Djino supaya mudah diingat. Djino itu maksudnya siji ono (satu ada).

Kalau menurut saya Djino itu orangnya tidak pinter, tetapi tidak bodoh. Mau dibilang pintar gimana, wong dia tidak pernah juara kelas. Tapi mau dibilang bodoh juga gimana, wong nyatanya dia bisa jadi pastor, dan bertahan sampai sekarang. Dia tidak nakal, tapi ndugal (usil, jahil). Nakal itu kan mencuri atau memukul teman. Dia tidak begitu. Dia hanya menggoda teman-temannya. Tapi dia berhenti menggoda kalau temannya hampir marah.

Tapi dia punya banyak teman. Dia pintar bergaul. Dia bisa bergaul dengan siapa saja, mulai dari anak-anak kecil, orang dewasa, dan kebetulan juga yang cantik-cantik. [Disela oleh Ibu Wito: Iya, dia pernah lho, bawa cewek manis sekali]. Itu yang mengkhawatirkan saya. Tapi nyatanya dia juga bisa bertahan selama 25 tahun.

Tentu saja saya bangga sekali bahwa anak saya menjadi seorang pastor. Saya merasa bahwa dengan itu dia telah mengangkat harkat dan martabat saya sebagai orang tua. Bayangkan, kalau saya tidak punya anak seorang pastor, apa mungkin saya tidur di rumah seorang dokter? Sungguh lho, saya sekarang kenal seorang dokter yang tinggal di Majalengka sana. Walaupun saya kerja di rumah sakit, kalau anak saya nggak ada yang jadi Pastor, saya tidak akan pernah tidur di rumah dokter.

Waktu anak saya pergi ke Tomohon (Sulawesi Utara), saya dijemput oleh ibu dokter, yang oleh suster diminta menjemput saya. Kalau nggak ada sarana itu nggak mungkin saya kenal dengan bu dokter yang orang Sulawesi, pak dokter yang orang Majalengka. Bahkan dokternya itu pernah ke sini. Dulu pernah saya diminta ngantar ke Sendang Sono. Terus dari sana diajak makan, di rumah makan Pringsewu di dekat Monumen Yogya Kembali. Saya yang orang Yogya malah nggak tahu ada rumah makan sebesar itu. Tahunya malah dari orang Majalengka.
Harapan saya, ya semoga dia menjadi pastor sampai tua. (Dilanjutkan Bu Wito: Kami selalu berdoa, supaya dia baik.) [Pak Wito kini tinggal bersama Bu Wito dan putri bungsunya, C Murni, bersama suami dan dua anaknya. Dua keponakan Pastor Widyo, anak pertama dan kedua Pak Sumarno, juga tinggal di rumah Pak Wito]

Matius Sumarno:
Di Luar Cuek, di Dalam Penuh Perhatian

Sejak kecil Pastor Widyo itu orang yang mudah pemberani dan mudah bergaul. Hal-hal yang ditakuti oleh anak-anak seusianya sama sekali tidak ditakutinya. Dia dengan santai melewati kuburan untuk mengunjungi rumah temannya. Dia berani pergi ke kali tengah malam untuk buang air. Pokoknya tidak ada yang ditakuti. Dalam pergaulan dia luwes. Dia bisa bergaul dengan siapa saja. Dan yang pasti dia bisa bergaul dengan mereka yang usianya lebih tua.

Hubungan saya dengan Pastor Widyo waktu kecil tidak terlalu dekat, sebab teman-teman bermain kami berbeda. Dia punya teman sendiri dan saya punya teman sendiri. Di samping itu dia kelihatannya cuek sekali dengan adik-adiknya. Tetapi ternyata tidak. Begitu saya dinakali oleh orang lain, dia akan segera turun tangan sebagai pembela. Jadi walaupun kelihatannya cuek, sebenarnya dia mempunyai perhatian dengan caranya sendiri. Kami pergi berdua biasanya kalau nonton wayang. Kami pergi tengah malam, justru setelah bapak pulang. Bapak biasa membangunkan kami, dan mengijinkan kami pergi nonton berdua atau kalau perlu mengantar. Waktu itu usia kami sekitar kelas tiga atau empat SD.

Pastor Widyo itu sangat mengagumi tokoh Antasena, Wisanggeni atau Sadewa. Itu tokoh idolanya sejak dia masih kecil. Dia mengagumi Antasena dan Wisanggeni karena keberanian serta kejujurannya. Di samping itu tokoh-tokoh itu juga paling peka pada sasmita sehingga tidak pernah terjebak dalam tipu daya.

Sejak kecil dia itu nakal, sekaligus juga punya daya pikat yang tinggi bagi gadis-gadis desa. Banyak yang senang dengan dia, dan sebaliknya dia juga bergaul dengan sangat akrab dengan gadis-gadis. Kalau dia tidak cepat masuk seminari, mungkin orang tua, terutama ibu, akan segera menyuruh dia menikah.

Pastor Widyo itu orangnya penuh dengan kejutan. Sampai sekarang dia kalau pulang ke rumah sering tidak memberi kabar, tiba-tiba nongol. Dia datang sehari atau dua hari, kemudian pergi lagi. Termasuk ketika dia masuk seminari, tidak ada seorang pun yang dia beri tahu. Bahkan kami sekeluarga, bapak ibu dan adik-adiknya, tahu bahwa dia masuk seminari bukan dari Pastor Widyo, tetapi dari Bruder Yustinus, adik bapak. Sikap serba mengejutkan ini juga diikuti oleh adiknya, yang sekarang menjadi suster dan bertugas di Papua. Dia langsung berangkat ke Manado, dan baru memberitahu keluarga setelah menjadi suster di sana.

Reaksi saya ketika mendengar kabar bahwa Pastor Widyo masuk seminari adalah berharap agar dia berubah. Saya harap dia tidak nakal lagi, dan hubungannya dengan gadis-gadis itu disikapi dengan hati-hati. Bahkan mungkin perlu dikurangi. Sebab, kan hubungan seperti itu penuh risiko.

Tetapi sekarang saya melihat banyak sekali perubahan dalam dirinya. Dia yang dulu rasanya tidak peduli, kini terasa lebih peduli. Memang dia tidak pernah berinisiatif menelepon misalnya. Tetapi kalau saya telepon, dia akan bertanya tentang semuanya, termasuk bagaimana cara saya mendidik anak, kemudian memberi saya nasehat-nasehat tentang bagaimana saya mesti bersikap terhadap anak-anak.

Saya selalu berusaha menemui setiap saya mengadakan perjalanan dari Bukit Tinggi ke Yogyakarta, terutama ketika Pastor Widyo bertugas di Cirebon. Tapi ya itu. Saya harus memberitahu jauh-jauh hari sebelum mampir, khawatir kalau dia sedang ada tugas tertentu. Pernah suatu kali saya sudah beli tiket kereta dari Yogya, dan baru memberi tahu Pastor Widyo bahwa saya mau mampir. Pastor Widyo bilang, “Ya nggak bisa begitu…”

Berkaitan dengan 25 tahun imamatnya saya sungguh berharap dia berhati-hati dalam urusan dengan wanita, karena risikonya besar sekali. Di samping itu dalam tugas pastoralnya saya berharap dia sungguh berpihak kepada mereka yang miskin dan lemah. Ini bukan hanya karena Gereja mengajarkan demikian, tetapi karena kami memang berasal dari keluarga miskin, anak desa, anak orang kecil. Jadi saya harap Pastor Widyo selalu ingat pada asalnya. Dan yang terakhir saya berharap dia akan semakin tekun dalam menghayati panggilannya.
[Matius Sumarno adalah putera kedua Bp. Lukas Suwito Hardjo, adik Pastor Widyo, kini mengajar di SMP Xaverius Bukit Tinggi. Dia tinggal di Bukit Tinggi bersama istri dan dua anaknya yang masih duduk di bangku SMP dan SD. Anaknya yang pertama dan kedua saat ini belajar di Yogyakarta, dan tinggal bersama Pak Wito di Klaseman].

Sr. Agnes Marni JMJ:
Berkat Bagi Keluarga dan Gereja

Saya sungguh bangga mempunyai kakak seperti Pastor Widyo, sejak kecil. Dia adalah orang yang pandai bergaul dengan siapa saja, dengan semua lapisan, dengan semua kalangan. Dan tentu saja saya bangga serta bersyukur bahwa dia bisa melalui berbagai rintangan hingga melampaui 25 tahun hidup sebagai imam. Tentu tidak mudah untuk menjalani tugas imamat sepanjang waktu itu. Saya juga bergembira karena dia merupakan berkat tersendiri bagi kami sekeluarga maupun bagi umat.

Di samping kegembiraan itu, ada sesuatu yang awalnya menyedihkan dan mengecewakan saya secara pribadi, tetapi setelah saya refleksi saya justru bangga mengenai hal itu. Dia adalah orang yang sangat memperhatikan keluarganya sendiri. Dia menyayangi orang tua dan kami adik-adiknya. Tetapi ketika harus memilih, dia tetap memilih untuk memperhatikan umat dibanding keluarganya. Februari lalu misalnya, saya merayakan pesta 25 tahun hidup membiara [Selamat, Suster, semoga Suster bahagia menjadi berkat melalui karya-karya suster – red], dan pestanya dirayakan di Manado. Saya sungguh berharap dia datang. Tetapi ternyata Pastor Widyo tidak datang, karena ada tugas yang tidak bisa dia tinggalkan. Awalnya memang saya kecewa. Tetapi kemudian saya bangga bahwa dia mempunyai pilihan yang benar sesuai dengan panggilan hidup yang dijalaninya.

Di masa kecil dia memang anak nakal. Usia saya dengan dia cukup jauh. Dia SMEA saya masih SD. Tapi saya tahu kalau dia nakal. Saya juga tahu bahwa dia orangnya tidak pernah mau menyerah. Dalam permainan bersama dengan teman-temannya, dia selalu mau menang dan memang selalu keluar sebagai pemenang. Dia orang yang selalu bisa mengatasi kesulitan. Mungkin karena dia anak sulung.

Pastor Widyo masuk seminari ketika saya masih SD. Saya memang tidak sepenuhnya paham. Yang saya tahu hanyalah bahwa masuk seminari berarti dia ingin menjadi pastor. Tentu saja saya bangga dengan pilihannya itu. Tapi pada saat yang sama pilihan itu mengandung beban dan perjuangan tersendiri, baik bagi yang bersangkutan maupun kami keluarganya. Tapi saya memang senang dan bangga dengan pilihannya itu.

Pilihan Pastor Widyo itu memang ada pengaruhnya pada keputusan saya untuk hidup membiara. Saya pertama mengatakan niat saya ini memang pada Pastor Widyo. Tapi waktu itu dia meminta saya untuk memilih dan berjuang sendiri. Dia minta saya mencari sendiri biara mana yang akan saya pilih, dia juga minta saya datang sendiri ke tempat tersebut. Dan saya sungguh menjalankan semuanya itu sendiri. Dan saya merasa bahwa cara itu memang membuat saya lebih dewasa baik dalam menentukan pilihan maupun dalam menjalani serta menghayati hidup membiara. Saya bukan orang yang selalu bergantung.

Berkaitan dengan 25 tahun imamat Pastor Widyo, saya berharap semuanya berjalan lancar, dan Pastor Widyo sungguh semakin menjadi berkat bagi umat yang digembalakannya, dan semoga juga bagi keluarganya.
[Sr Agnes Marni JMJ adalah anak ketiga Bp. Suwito Hardjo, adik Pastor Widyo. Sr Agnes kini berkarya di sebuah asrama mahasiswi katolik di Jayapura, Papua].

C Murni:
Kontak Batinnya dengan Saya

Mungkin saya yang paling dekat dengan Pastor. Pastor biasanya kalau curhat ke saya. Kalau ada sesuatu, mungkin kesulitan, atau senang, atau susah… biasanya ngomong ke saya. Pastor itu orangnya… apa ya… kalau janji ya janji. Disiplin, gitu lho. Kalau iya, iya. Kalau tidak ya tidak. Tapi alasannya harus jelas. Kalau saya janji telepon ya harus telepon. Kalau ndak, dia akan ngecek, kenapa kok nggak telepon… jadi telepon apa ndak…

Saya memang yang paling dekat, jadi nek Pastor ada apa-apa saya yang kerasa (tertawa). Mungkin Pastor juga begitu, kalau saya ada apa-apa Pastor yang kerasa. Seperti kalau telepon misalnya. Saya baru kepikir kok Pastor ndak telpon ya, sudah semingguan… baru saya ngomong nanti sore pasti Pastor telepon. Terus saya bilang pada Pastor kalau saya baru rerasan kok Pastor ndak telepon. Dan Pastor juga bilang begitu. “Hooh, kowe kok yo ora telepon (iya, kamu juga kok tidak telepon?).” Sepertinya kontak batin dengan saya.

Kalau saya bilang, Pastor Widyo memang tegas, disiplinnya memang. Kalau saya, sering kali dimarahin kalo ada apa-apa. Kalau menurut saya, dekatnya dengan saya gimana ya… mungkin ada yang bapak tidak tau ceritanya, tetapi saya tahu. Dalam artian, itu tidak sangat pribadi. Pas kesel hatinya, pas seneng hatinya selalu cerita ke saya. Mungkin memang dulu dekat dengan saya.

Pastor senangnya kalo sampai di rumah itu semuanya sehat. Pastor tidak bisa terima kalau saya itu sakit atau apa. Ngopo kok sakit? Pastor kepingin kita semua itu senang. Pokoknya kita harus lebih baik dari jaman dulu. Di jaman sekarang harus lebih baik dari jaman Pastor kecil dulu. Jadi Pastor senangnya nek kita hepi-hepi, gitu lho. Pastor itu kepinginnya kita bahagia gitu lho.

Memang dia kepingin membahagiakan keluarganya, orangtuanya. Mungkin dia merasa dia anak pertama dan dia kepingin membahagiakan dengan cara Pastor sendiri, cara seorang Pastor. Mungkin dengan nasehat, entah itu dengan cara hidupnya.
[C Murni adalah putri bungsu Bp. Suwito Hardjo, adik Pastor Widyo. Dia berkerja di kantor Kecamatan Sinduharjo, Sleman, Yogyakarta. Bersama suami dan dua anaknya, dia menemani Pak Wito dan Bu Wito di Klasemen, Jl. Kaliurang Km 7,5 Yogyakarta.]

Catatan Penulis: Sampai saat tulisan ini harus masuk proses desain grafis, penulis tidak berhasil menghubungi Br. Yustinus Samidi yang sedianya komentarnya juga akan dimasukkan juga pada bagian ini. Penulis mohon maaf atas ketidaklengkapan ini.

Komentar

Telah Dibaca:1941

Leave a Comment