Paroki St. Monika, Tantangan Terbaru

Dengan berat hati umat Paroki St. Yusuf melepas kepergian Pastor Yohanes Djino Widyasuhardjo OSC yang sudah bertugas di paroki itu lebih dari tujuh tahun. Seorang umat paroki itu mengatakan, Pastor Widyo, begitu dia dipanggil, memang sangat dicintai umat paroki tersebut. Sedemikian mencintai sang pastor, mereka menghadap Bapa Uskup dan Provinsial OSC di Bandung untuk meminta agar Pastor Widyo tidak dipindahkan dari paroki tersebut. Tetapi keputusan Uskup dan Provinsial OSC sudah bulat, Pastor Widyo harus pindah ke tempat baru, Paroki St. Monika Serpong, Keuskupan Agung Jakarta.

“Saya selalu menerima tugas dengan sikap positif, kemana pun saya ditugaskan,” kata Pastor Widyo kepada penulis dalam satu obrolan di pagi hari di ruang makan pastoran. Sikap yang sama diterima oleh Pastor Widyo, walaupun ketika masuk di paroki ini status beliau adalah pastor kapelan (pembantu), padahal pastor kepalanya jauh lebih muda, yakni Pastor P. Bekatmo OSC. Tugas di Serpong dimulainya 1 Maret 2003. Namun mulai 1 Januari 2004 terjadi perubahan. Pastor Bekatmo pindah ke Paroki St. Agustinus Karawaci, dan Pastor Widyo menjadi Pastor Kepala Paroki St. Monika. Di samping itu Pastor Widyo juga dipercaya sebagai rektor rumah OSC di Serpong dan ketua Dekanat Tangerang Keuskupan Agung Jakarta.

Setiap kali pindah ke satu tempat yang baru, termasuk di Serpong, Pastor Widyo tidak berpikir untuk mengubah, tetapi lebih senang mengikuti apa yang sudah ada, apa yang sudah dibangun oleh umat bersama dengan pastor sebelumnya. “Saya belum kenal situasi. Karena itu saya lebih berpikir mengenai bagaimana mencintai tugas, mencintai teman sekomunitas (sesama pastor) dan mencintai umat. Setelah melihat dan mengenal cukup mendalam, saya baru berpikir mengenai apa yang perlu dikembangkan.” Pertanyaannya, bagaimana Pastor Widyo memandang tugas barunya di Paroki St. Monika? Apa yang sudah dicermatinya mengenai paroki ini? Berikut kutipan obrolan penulis dengan Pastor Widyo:

Bagaimana Pastor memandang tugas di Paroki St. Monika?
Saya datang di paroki ini sebagai yang dituakan. Sebagai rector domus… kepala rumah. Tapi dalam paroki awalnya saya membantu Pastor Katmo. Saya tidak mau dalam satu rumah ada dua pimpinan. Karena itu saya bilang kepada pastor provinsial, bahwa perkara duit dan parokial semuanya silakan Pastor Katmo. Tapi kalau ada rapat ordo saya yang mewakili. Saya rector domus untuk BSD dan Karawaci. Perkembangan selanjutnya banyak yang tidak direncanakan. Saya masuk sebenarnya relatif enak, karena Pastor Katmo saya kira menata paroki dengan bagus.

Apa istimewanya paroki ini?
Bagusnya di sini hampir semua keluarga muda yang potensial untuk diajak maju. Mungkin saya memang lebih maju dalam bidang agama. Tapi dalam bidang lain umat begitu maju sehingga saya tidak bisa untuk mendikte umat. Saya selalu diam, menampung. Apapun yang muncul dari bawah sejauh membangun paroki, selalu saya iyakan. Untungnya ialah banyak yang berpendidikan baik, karena itu saya tidak mau menampilkan diri sebagai orang yang lebih. Dalam hal agama oke, saya tahu lebih. Tapi dalam bidang lain umat banyak yang lebih tahu.

Positif negatif keluarga muda itu apa?
Karena di sini kebanyakan keluarga muda, maka ada begitu banyak persoalan, sehingga saya ragu untuk masuk kunjungan keluarga. Pertama, saya takut kalau ada banyak umat yang curhat, terutama dari para ibu, terutama ketika suami mereka tidak ada di rumah. Ini bisa menimbulkan hubungan yang bersifat emosional. Apalagi di masa yang lalu persoalan yang saya hadapi ada di situ. Padahal sebenarnya kunjungan umat itu saya senang. Tapi sekarang saya harus menjaga diri. Sulit bagi saya untuk mencari waktu kunjungan di mana suami istri ada di rumah. Sabtu-Minggu saya sibuk. Ini beda sekali dengan ketika di kota lain, di Cirebon misalnya. Di sana jam enam umat sudah ada di rumah. Acara lingkungan jam delapan sudah selesai. Di sini pertemuan baru mulai jam delapan, selesai sampai jam 11.

Tapi apakah itu tidak menjadi hambatan untuk memahami persoalan umat?
Ya, itu memang hambatan. Saya tahunya hanya lapisan atas. Saya melihat kelihatannya baik, tetapi belum tahu sesungguhnya. Karena itu saya mencoba memahami persoalan umat dalam rapat-rapat lingkungan. Dalam acara-acara seperti itu saya coba menangkap persoalan riil yang dihadapi umat. Kalau ada banyak orang, saya merasa aman untuk menangkap persoalan umat. Sebenarnya saya menangkap sepertinya umat berharap saya berkunjung. Dan saya juga berharap untuk lebih dekat, terutama dengan para tokoh seperti ketua lingkungan, prodiakon dll. Terus terang semacam ketakutan tersembunyi untuk bertemu berdua saja dengan ibu rumah tangga. Nanti mungkin, tapi sekarang saya belum.

Pastor mencoba mengakomodasi “arus bawah”. Benar?
Kalau anda lihat rasanya seperti itu. Karena saya lihat di sini banyak orang yang berpendidikan, maka saya yakin ide mereka pasti bisa dijalankan. Apa sih yang kurang di sini? Apa saja ada. Orangnya sangat potensial untuk memajukan paroki. Karena itu saya berpikir jangan sampai saya menjadi penghalang bagi umat untuk memajukan paroki, hanya karena saya mengatakan saya pastor. Dalam rapat, saya banyak mendengar. Di akhir, kalau ditanya, mungkin saya baru akan bicara.

Paroki atau gereja yang maju itu yang seperti apa sih?
Paroki yang maju adalah paroki yang baik tapi bukan karena maunya pastor. Saya lebih senang kalau ada paroki yang maju bersama, dan saya ada di dalamnya. Paroki maju itu kalau berbagai inisiatif dari umat muncul dan bisa dijalankan dengan baik. Jangan sampai paroki maju karena pastornya yang mau, padahal sesungguhnya umatnya tidak mau. Jadi kemajuan paroki lebih soal keterlibatan umat. Semakin banyak umat terlibat, saya merasa bahwa paroki itu maju. Saya baru saja membuat laporan, dan itu yang saya laporkan.

Paroki St Monika seperti apa? Cukup maju, atau ada yang perlu diperbaiki?
Sekarang permandian bayi sekali sebulan. Kita membatasi 30 bayi per acara permandian. Kursus perkawinan selalu banyak peserta. Karena kita punya aula sendiri. Ini lebih murah ketimbang di Canossa. Peserta juga melimpah. Dulu hanya 13 pasang setiap kali kursus, sekarang ini 35 pasang. Di sini ada begitu banyak kegiatan yang berangkat dari ide umat, dan dijalankan oleh umat. Ada koor, ada kursus evangelisasi, ada pendalaman kitab suci… lengkap sekali. Memang belum optimal, terutama kalau dilihat perbandingan antara jumlah aktivitas atau jumlah yang terlibat dengan jumlah seluruh umat. Mungkin juga karena karena kekurangan tempat.

Kita memang punya sejumlah ruang, dan umat selalu berebut dalam memanfaatkan ruang-ruang itu. Setiap pemakai harus mendaftar. Saya senang dengan situasi seperti itu. Tidak ada waktu yang kosong. Gereja terbuka dan orang toh rajin berdoa. Kalau dituruti, peminat pengakuan dosa itu sangat tinggi. Pengakuan dosa atas permintaan, bukan pada waktu yang ditentukan, juga sangat tinggi.

Yang belum berkembang apa?
Mudika. Ini yang saya masih prihatinkan. Sepertinya tidak sama seperti waktu saya masih muda dulu. Dulu kan muda mudi begitu senang terlibat dalam berbagai kegiatan di gereja. Di sini kok tidak. Penggeraknya kurang. Saya berharap nanti di sini akan ada frater yang orientasi, sehingga masalah kaum muda bisa ditangani dengan lebih baik. Memang ada pastor Donatus dan Andreas. Mereka diminta untuk menangani kaum muda. Tapi tugas mereka di stasi sangat berat. Apalagi kedua stasi sekarang ini sedang membangun. Ini tidak mudah.

Apa persoalan utama mudika kita?
Mudika kota dengan mudika daerah berbeda. Mudika kota sudah melihat keberhasilan orang tua, sementara mereka masih tergantung pada orang tua. Mudika sini dipersiapkan untuk mengambil tugas orang tua mereka. Ini berbeda sekali dengan orang daerah. Orang daerah itu kalau bisa aktif di mudika, RT atau RW, bisanya senang. Orang tua juga biasanya senang. Anak desa tidak sibuk dengan kursus, les atau apapun yang demi masa depan. Tetapi di Jakarta lain. Bagi mudika di Jakarta, di gereja tidak ada sesuatu yang akan membuat mereka akan lebih sejahtera nantinya. Kalau diperhatikan, pada usia putera altar, mereka masih mau aktif. Tapi pada usia yang lebih tinggi lagi mereka sudah tidak aktif lagi.

Bagaimana dengan yang dewasa?
Di Jakarta memang banyak orang yang berhasil secara sosial maupun ekonomi, tetapi juga ada yang gagal. Di samping itu ada begitu banyak masalah dalam rumah tangga, termasuk di sini. Itulah sebabnya KAJ memusatkan perhatian kepada keluarga karena inti seluruh persoalan ada di sana. Kalau seluruh keluarga baik, sejahtera, maka masyarakat dan gereja akan baik pula. Cita-cita saya adalah untuk membangun Keluarga Katolik yang sejahtera. Kalau di Jakarta buku seperti Jakarta Undercover begitu laris, bagaimana hal itu akan membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga?

Kalau semakin membaca perkembangan, saya semakin pesimistis sebenarnya. Untuk mengatasi kemacetan, orang lebih suka nongkrong dulu di cafĂ©, di diskotek… yang notabene alih-alih memupuk hubungan keluarga, tetapi justru menjauhkan hubungan seperti itu.

Pastor melihat persoalan keluarga sudah masuk ke tahap kritis?
Ya, saya mendapat masukan bahwa ada keluarga yang sedang di ambang cerai, segera cerai, sudah lama bercerai atau sudah beberapa waktu bercerai secara sipil. Ini keluarga katolik. Bahkan ada yang dulunya sangat aktif.

Tujuh tahun mendatang paroki ini anda bayangkan akan seperti apa?
Dari sisi kuantitas pasti akan berkembang pesat. Kota Tangerang, apalagi BSD pasti akan berkembang. Paroki pasti akan berkembang minimal menjadi tiga, yakni Odilia dan Helena dan Monika sendiri. Ada kemungkinan Alam Sutra akan sudah menjadi paroki tersendiri juga. Paroki St. Monika kemungkinan hanya akan terdiri dari BSD saja. Tapi di paroki juga akan ada banyak sekolah yang akan dibanjiri oleh orang-orang yang berpendidikan. Jadi tetap akan banyak kaum muda di paroki sini. Umat akan berkembang karena masuknya pendatang baru.

Dari sisi tugas paroki, apa yang perlu disiapkan?
Kembali ke akarnya. Kita harus kembali ke keluarga-keluarga. Saya akan menata ulang bagaimana memberi kekuatan kepada keluarga. Jangan sampai pengaruh luar seperti tinggal bersama tanpa nikah akan dianggap sebagai cara hidup yang benar. Hal seperti itu sudah ada, sudah banyak terjadi, tetapi kita harus berjuang supaya gaya hidup seperti itu tidak akan terjadi di sini. Kita harus memperjuangkan pandangan dan tata nilai bahwa perkawinan adalah cinta, hubungan intim dan komitmen. Pilar ini harus kita pertahankan, jangan sampai dinodai oleh pandangan seperti itu. Apalagi, jangan sampai orang kristiani justru yang mempelopori gaya hidup seperti itu. Yang saya khawatirkan adalah bahwa bahwa jaman seperti itu akan muncul. Tapi kalau pun muncul, jangan sampai orang kristiani kena, apalagi kena yang pertama.

Omong-omong, sudah banyak terima undangan dari keluarga?
Hampir tidak. Di sini saya baru makan bersama empat keluarga. Pertama dengan keluarga Tomas karena saya diperkenalkan oleh keluarganya di Cirebon. Kedua dengan Pak Sonny di dekat rumahnya. Waktu itu juga bersama pak Simon. Ketiga bersama Pak Ignas, karena habis menguburkan orang di tempat yang jauh sekali. Keempat kemarin… waktu ada peneguhan janji perkawinan… Confalidatio.

Komentar

Telah Dibaca:916

Leave a Comment