Para Idola: Ayah, Guru, Paman

Djino (nama kecil Pastor Yohanes Djino Widyasuhardjo) masuk seminari? Bagi banyak orang ini adalah berita besar, karena siapapun tidak membayangkan hal itu akan terjadi. Jangankan orang lain, keluarganya sendiri pun dibuatnya terkejut. Bahkan Djino sendiri awalnya tidak sangat yakin dengan pilihannya itu.

Sebenarnya Djino sudah mulai tertarik kepada kehidupan imamat sejak kecil. Kepada penulis Pastor Widyo bertutur bahwa rasa tertarik itu pertama-tama muncul karena pandangannya waktu itu bahwa menjadi pastor dan biarawan biarawati yang dilihatnya begitu hebat. “Dalam pandangan saya mereka baik-baik, pinter-pinter… susternya cantik-cantik,” kata Pastor Widyo. Pandangan seperti itu muncul karena di masa kanak-kanak dia memang bergaul dekat dengan sejumlah suster novis dan seorang pastor asal Belanda. Para suster itu dikenalnya di kapel desa Sengkan, desa tetangganya, sedangkan pastor Belanda dikenalnya karena sering berkunjung ke desa Klaseman, desa kelahirannya.

Ketertarikannya pada kehidupan membiara dan imamat juga tumbuh karena tempat tinggalnya berdekatan dengan asrama para frater seperti Skolastikat MSF, Skolastikat SCJ, dan Seminari Tinggi Kentungan. Kedekatan jarak itu membuat dia sering menyaksikan para frater yang pergi atau pulang kuliah, mengenakan jubah, mengendari sepeda. “Kesannya mereka juga orang-orang yang pintar.”

Peran Sang Paman
Di masa kecilnya, Djino diasuh oleh pamannya, Yustinus Samidi, yakni adik bapaknya, yang kini menjadi bruder OSC. Sang paman inilah yang sejak kecil dengan sengaja membakar semangat Djino untuk hidup membiara dan menjadi imam. Menurut Samidi, Djino adalah anak yang pintar sehingga dia juga berhak untuk menjadi biarawan atau imam, sama seperti para frater yang setiap hari mereka lihat di daerah Kentungan. Di kemudian hari Samidi sendiri memang masuk biara, dan menjadi bruder OSC hingga sekarang.

Ketika sudah bertugas sebagai bruder, sang paman terus menjaga hubungan dengan Djino, karena dia sungguh berharap keponakan ini kelak bisa menjadi imam. Bapak Suwito Hardjo, ayah Pastor Widyo, bercerita bahwa “kedua orang itu sepertinya memegang rahasia” mengenai masa depan Djino. Pak Wito bercerita, setiap kali pulang kampung untuk liburan, Bruder Yustinus selalu minta agar Djino yang menjemputnya di Stasiun Tugu, Yogyakarta. Tampaknya Djino dengan senang hati menjemput sang paman, kendati hanya dengan menggunakan sepeda. “Kelihatannya mereka banyak bicara tentang seminari dan menjadi pastor dalam perjalanan dari Stasiun Tugu ke rumah atau sebaliknya kalau Djino harus mengantar ke Stasiun Tugu,” kata Pak Wito.

Pastor Widyo sendiri mengaku pengaruh pamannya begitu besar hingga dia di kemudian hari memutuskan untuk menjadi seorang pastor. “Tapi terus terang di masa itu ketertarikan untuk menjadi pastor dan hidup perkawinan sama-sama menarik buat saya,” kata Pastor Widyo.

Kalau di atas dikemukakan bahwa keputusan Djino masuk seminari begitu mengejutkan, tak lain karena teman-teman maupun tetangga-tetangga Djino sama sekali tidak melihat tanda-tanda bahwa Djino akan mengarahkan hidupnya ke sana. Para tetangga dan teman-temannya justru melihat Djino sebagai orang yang sejak usia belia sudah mengarahkan hidupnya pada kehidupan perkawinan. “Sejak masih remaja saya sudah dekat dengan cewek dan sangat mengagumi cewek. Dan waktu itu memang ada cewek yang sangat dekat dengan saya,” tutur Pastor Widyo. Dan saya tahu dengan sangat jelas bahwa hambatan saya untuk menjadi pastor adalah bahwa menjadi pastor berarti tidak boleh kawin. Ini sudah menjadi pertimbangan saya waktu itu.

Di kampung, dia menambahkan, tidak perlu ada istilah “nembak” seperti yang dilakukan oleh para remaja jaman sekarang. Cukup saling merasa senang, jalan bersama, tampil di muka umum bersama, dan seluruh kampung akan tahu bahwa mereka punya hubungan dekat atau berpacaran. Tidak mengherankan kalau di masa remajanya seorang tetangga, Mbah Ahmad namanya, datang ke rumah Pak Wito dan bilang, apakah tidak sebaiknya gadis A itu diijon (dilamar), “Ketimbang disambar orang.”

Ketika masih duduk di bangku SMP, Djino sudah mempunyai teman dekat perempuan, kembang desa yang masih duduk di bangku SD. Kembang desa itu sebelumnya seorang muslimah, tetapi kemudian dipermandikan menjadi seorang Katolik. Setelah menjadi Katolik gadis itu pernah dilamar oleh seorang pemuda, tetapi menolak dengan alasan “sudah ada Mas Djino.” Ketika duduk di bangku SMEA, Djino juga dekat dengan seorang gadis lain. Tidak mengherankan kalau seorang gurunya di SMP, Pak Supriyanto mengatakan dengan eksplisit bahwa Djino tidak pernah mungkin akan menjadi pastor karena urusan cewek tadi. Bahkan setelah Pastor Widyo ditahbiskan menjadi imam, pada saat merayakan misa pertama di daerah Kentungan, Pak Supriyanto masih mengatakan bahwa Pastor Widyo tidak akan bisa bertahan dalam imamat karena alasan yang sama.

Ketidakpastian pilihan Djino remaja juga bisa dilihat dari pilihan pendidikannya. Kalau pilihan menjadi imam sudah cukup kuat di masa kecil, sebenarnya ada pilihan untuk masuk seminari sejak dia tamat SMP. Tetapi ketika lulus SMP Djino tidak memilih masuk seminari karena dia juga mempunyai gambaran besar lain selain menjadi pastor. Dia mempunyai tokoh idola selain bapaknya sendiri, yaitu Pak Sugeng. Bagi Djino, Pak Sugeng, yang masih sepupu ayahnya, adalah satu-satunya orang hebat selain ayahnya sendiri. Pak Sugeng adalah profil orang desa yang luar biasa. Ketika Djino masih duduk di bangku SD, Pak Sugeng menjadi salah satu guru di SD tersebut, bahkan juga menjadi guru kelasnya. Ternyata di sela-sela kesibukannya mengajar, Pak Sugeng juga mengambil kesempatan untuk kuliah di satu perguruan tinggi di Yogya. Hasilnya, Pak Sugeng kemudian menjadi kepala SMP Kanisius Kentungan. Melihat itu, Djino pun tertarik untuk sekolah di SMP tersebut.

Ternyata sukses Pak Sugeng tidak berhenti di sana. Dia terus melanjutkan studinya, hingga menjadi sarjana, dan kemudian diangkat menjadi kepala sekolah SMEA Marsudi Luhur, Bintaran Kidul, Yogyakarta. Sebenarnya Pak Wito mengharapkan agar setamat SMP, Djino memilih sekolah di SPG, agar kelak bisa menjadi guru, yang dianggap sebagai satu kelas priyayi dalam kehidupan masyarakat jawa waktu itu. Tetapi Djino mempunyai pandangan lain. Kekaguman pada Pak Sugeng mendorongnya untuk memilih sekolah di SMEA yang dipimpin oleh orang yang dikaguminya itu. “Bagi saya Pak Sugeng adalah sosok yang istimewa. Dia orang hebat yang saya kagumi di samping bapak saya sendiri. Di samping itu Pak Sugeng masih terhitung kerabat dekat bapak saya,” kata Pastor Widyo.

Pilihan untuk sekolah di SMEA juga dilatarbelakangi oleh keinginan bahwa suatu saat kelak Djino bisa bekerja “kantoran”. Dari alasan itu jelas, bahwa cita-cita menjadi pastor dikesampingkan saat itu. Tetapi seperti dikemukakan di muka, hubungan Djino dengan pamannya yang sudah berada di Jawa Barat terus berlangsung melalui surat. Dan diam-diam Djino berjanji kepada pamannya bahwa setelah lulus SMEA dia akan masuk seminari. Ini sungguh menjadi rahasia mereka berdua, tanpa seorang pun yang lain yang tahu.
Ketika Djino hampir lulus SMEA, Bruder Yustinus Samidi mengirim surat kepada Djino untuk mengingatkan janjinya di masa lalu, bahwa dia tertarik untuk masuk seminari. Dan ternyata Djino memang berniat untuk memenuhi janjinya kepada sang paman, walaupun sampai saat itu dia masih mengambil sikap diam, tidak memberitahukan rencananya kepada bapak, ibu dan adik-adiknya.

Maka pergilah Djino ke pastoran Paroki Keluarga Kudus di Banteng, Jl. Kaliurang Km 8. Waktu itu pastor paroki sedang tidak berada di Yogya, maka dia ditemui oleh wakil Pastor Paroki. Kepada pastor ini Djino menyatakan niatnya bahwa dia ingin menjadi pastor, dan untuk itu dia minta pengantar untuk mengikuti ujian masuk (tes) ke seminari kecil di Bandung. Tanpa kesulitan yang berarti dia mendapatkan surat pengantar yang dimaksud.

Sampai saat itu Djino masih merahasiakan niatnya masuk seminari. Hanya tiga orang yang tahu bahwa dia sedang menyusun rencana masuk seminari. Ketiga orang itu adalah Bruder Yustinus, wakil Pastor Paroki, dan seorang frater MSF yang saat itu bertugas membina Mudika. Padahal Djino masih harus mengantongi syarat lain untuk pergi ke Bandung, yakni surat keterangan sehat dari dokter atau rumah sakit. Memang Pak Suwito Hardjo, ayah Djino, bekerja di Rumah Sakit Panti Rapih, rumah sakit yang dikelola oleh suster-suster CB. Tetapi justru karena itu Djino memilih untuk tidak meminta surat keterangan sehat dari rumah sakit itu. Diam-diam dia lari ke RS Bethesda, yang letaknya tidak berjauhan dari RS Panti Rapih.

Setelah seluruh persyaratan beres, Djino siap menuju Bandung, dan di sana sang paman sudah menunggu. Perlu diketahui, sang paman inilah satu-satunya alasan mengapa Djino memilih Bandung untuk mengikuti pendidikan seminari. Padahal di Magelang, tepatnya di Mertoyudan, yang tidak terlalu jauh dari Yogya, jelas ada seminari menengah yang cukup besar, bahkan mungkin hanya kalah besar dari seminari menengah di Flores. “Saya waktu itu tidak tahu Mertoyudan. Saya hanya ikuti bruder, bahwa kalau mau masuk seminari ikut saja tes ke Bandung,” kenang Pastor Widyo. Dan ternyata memilih seminari kecil di Bandung berarti sudah memilih kongregasi OSC, karena seminari kecil di Bandung itu memang milik OSC, dan dipersiapkan sebagai tempat pendidikan bagi calon-calon OSC.

Djino toh harus mengatakan sesuatu kepada orang tuanya, mengapa dia harus pergi ke Bandung. Dia waktu itu mengatakan akan tes untuk bekerja di Bandung. “Saya nggak enak untuk mengatakan saya mau tes ke seminari. Nanti bapak saya bikin pesta kan saya nggak enak, ya to?” kata Pastor Widyo.

Berita bahwa Djino masuk seminari baru disampaikan kepada orang tuanya, serta para kerabatnya, ketika dia sudah mendapatkan kepastian bahwa dia diterima masuk seminari. Bagi keluarga Pak Wito dan masyarakat sekitar Sengkan, berita itu sungguh kejutan. Di satu sisi berita itu memang menggembirakan mereka, tetapi di sisi lain mereka ragu, apakah Djino serius dengan pilihannya, dan apakah kelak dia mampu menjalani masa pendidikan imam yang mestinya tidak ringan. Seperti dikatakan di muka, mereka semua tahu persis bahwa Djino sudah menjalin hubungan dengan “beberapa gadis”. Pastor Widyo sendiri mengaku, “Sebelum saya masuk seminari, paling tidak ada tiga perempuan dalam hidup saya. Pokoknya sebelum masuk seminari, rasane kaya wong arep nduwe bojo (rasanya seperti orang yang pasti akan berkeluarga) begitu lho pak…”

Babak Baru
Maka mulailah babak baru dalam kehidupan Djino. Jiteng Klaseman itu kini sudah masuk seminari kecil di Bandung. Tak banyak “cerita besar” yang dilalui semasa pendidikan di seminari ini. Pastor Yuwono OSC, teman sekelas Pastor Widyo semasa pendidikan di seminari sampai tahbisan, mengatakan bahwa semuanya berjalan normal-normal saja. Tidak ada yang sangat istimewa selama masa pendidikan itu. Komentar Pastor Yuwono mengenai Pastor Widyo sama persis dengan komentar Pak Wito, bahwa Pastor Widyo itu bukan orang pintar, tetapi juga bukan orang bodoh.

Pastor Widyo menjalani kuliah di seminari tinggi di Bandung sambil menjalani masa novisiat yang dilanjutkan dengan kaul sementara dalam Ordo Salib Suci. [Masa novisiat adalah masa persiapan sebelum seseorang diterima sebagai anggota satu ordo atau kongregasi hidup membiara. Masa novisiat dilanjutkan dengan kaul sementara. Masa kaul sementara ada bermacam-macam, tergantung pada ordo atau kongregasi. Biarawan kongregasi tertentu hanya sekali mengucapkan kaul sementara, dan kaul itu berlaku sampai yang bersangkutan mengucapkan kaul kekal atau memutuskan meninggalkan biara. Tapi ada biarawan atau biarawati kongregasi lain yang mengucapkan kaul sementara setiap tahun, dan diakhiri dengan kaul kekal atau kaul seumur hidup. Secara umum kaul adalah janji di hadapan Tuhan dan Gereja bahwa seseorang akan mengikuti tata cara hidup membiara di kongregasi tertentu secara sederhana (miskin), taat, dan murni (selibat).]

Pastor Widyo sendiri mengatakan dia tidak mempunyai masalah yang cukup berarti dalam hal pendidikan. “Pendidikan sih buat saya lancar-lancar saja. Dan selama masa pendidikan saya tidak pernah punya masalah dengan perempuan.” Padahal selama menjalani masa pendidikan di Bandung, sebagai seorang frater, dia mempunyai cukup banyak relasi dengan kaum muda, karena dia mendapat tugas untuk membina Legio Mariae.

“Masalah” baru muncul kembali setelah dia menyelesaikan studi di Bandung, dan kemudian ditugaskan untuk menjalani masa pastoral di Paroki Cigugur, Kuningan. “Yang kelihatan bersinar di sana adalah para perawat. Di sana ada satu perawat dari Lampung. Kami sangat dekat. Tapi ada penghalang juga buat saya untuk jadi dengan dia,” tutur Pastor Widyo. “Hambatan” itu adalah bahwa pamannya seorang frater Jesuit yang batal tahbisan beberapa saat sebelum tahbisan, karena kecantol perempuan yang tinggal di rumah ibunya. “Jadi dia (perawat itu) tahu persis bahwa perkawinan dengan seorang bekas frater akan ditentang oleh keluarganya. Dia sudah punya pengalaman mengenai hal itu sebelumnya, dan tidak mau membuat keluarga saya kecewa karena dia.”

Mengenai masalah terakhir itu Pastor Widyo merasa sangat terbantu oleh bimbingan Pastor Koelman SJ dalam sebuah retret yang menentukan. Pastor Koelman mengatakan, “Kamu bingung karena keduanya sama sama suci. Menikah maupun tahbisan sama-sama baik menurut gereja. Keduanya bukan setan. Tapi ingat saja, kalau suatu saat kelak ikut misa, dimana frater ingin berada? Di atas, sebagai imam yang memimpin misa, atau di antara umat, bersama dengan umat yang lain?” Itulah yang kemudian membuat Pastor Widyo memutuskan untuk terus. “Bagi saya menjadi imam adalah tantangan. Menjadi umat siapapun bisa. Tetapi menjadi imam tidak semua orang bisa.”

Waktu itu tahun 1979, dan tahun itu menjadi tahun yang bersejarah bagi Pastor Widyo. Tahun itu dia mendapatkan persetujuan dari pastor pembimbing untuk melanjutkan proses ke jenjang imamat. Maka tanggal 6 Januari dia mengucapkan kaul kekal di biara OSC setelah menjalani masa kaul sementara sejak tahun 1974. Tanggal 31 Mei 1979, dia menerima tahbisan diakon, dan pada tanggal 19 September tahun yang sama dia menerima tahbisan suci dari tangan Mgr Petrus Marinus Arntz OSC.

Dari Djino ke Widyasuhardjo
Seperti diceritakan di muka, Pak Suwito Hardjo memberi nama anak sulungnya dengan nama Djino, yang berarti siji-ono. Tapi mengapa di kemudian hari ditambahkan nama Widyasuhardjo di belakang nama itu? Pastor Widyo bercerita bahwa nama terakhir itu adalah nama pilihannya sendiri setelah dia masuk seminari. Sebenarnya Pastor Widyo sudah merasa happy dengan nama Djino, tetapi almarhum Pastor Yan Sunyata, waktu itu Pastor Provinsial OSC, mengusulkan agar ada “nama dewasa”, entah dengan cara mengganti nama lama, entah dengan cara menambahkan sesuatu pada nama lama. Dan yang terakhirlah yang dipilih Pastor Widyo.

“Saya memilih nama Widyasuhardjo karena bapak saya. Bapak saya dipanggil Pak Wito, dan saya ingin dipanggil Pastor Wid. Suhardjo adalah nama bapak saya. Jadi saya memilih nama itu karena saya memang mengagumi bapak saya,” kata Pastor Widyo.

Komentar

Telah Dibaca:778

Leave a Comment