Papua, Sebuah Monumen

Setelah ditahbiskan 19 September 1979, tugas pertama yang diterima oleh Pastor Widyo adalah menjadi pastor pembantu di Paroki St. Mikael, Indramayu. Waktu itu yang menjadi pastor paroki di paroki itu adalah pastor Bertus Blessing, seorang misionaris OSC asal Belanda yang sekarang sudah menjadi warganegara Indonesia. Pastor Blessing, yang kini bertugas sebagai pastor pembantu di Paroki St. Yusuf, Cirebon, mengatakan, “Saya tidak mengenal Widyo waktu sebelum dia bertugas di Indramayu. Tapi kesan pertama saya, dia orang baik. Waktu itu dia datang diantar oleh umat dari Cigugur, karena dia baru menyelesaikan pastoral akhirnya di Cigugur.”

Pastor Widyo sendiri tidak banyak bercerita mengenai tugas-tugas yang dijalankannya di Indramayu. Padahal pamannya, Yohannes Samidi, juga bertugas di sana. Tetapi kesan yang muncul adalah bahwa Pastor Widyo sangat menikmati tugas-tugas pertama yang diberikan kepadanya. Pastor Blessing mengatakan, Pastor Widyo orang yang tidak pernah mengeluh atau menolak tugas. Dia senang dengan tugas-tugas yang menantang, serta tugas-tugas yang berhubungan langsung dengan masyarakat miskin. “Selama satu tahun kami bekerjasama. Dia sangat aktif. Dia pergi ke mana saja. Banyak tugasnya di Indramayu, mulai dari stasi Jatibarang. Stasi yang tidak kecil. Dia juga mendapat tugas setiap minggu untuk stasi yang dekat laut. Ada satu stasi, dimana dia harus naik motor sebagian, dan dilanjutkan dengan jalan kaki melalui tanah berlumpur.”

Pengusiran Misionaris Asing
Yang dikenang oleh Pastor Widyo waktu itu justru kebijakan baru yang direncanakan oleh Menteri Agama waktu itu, Alamsyah Ratu Perwiranegara, bahwa misionaris asing dilarang masuk dan berkarya di Indonesia. Karena itu misionaris asing yang sedang berkarya di Indonesia hanya mempunyai dua pilihan, menjadi warga negara Indonesia atau keluar dari Indonesia. Sementara itu di Indonesia memang cukup banyak wilayah yang masih ditangani oleh para misionaris asing. Provinsi Irian Jaya, sekarang Papua, waktu itu termasuk yang banyak ditangani oleh misionaris asing, termasuk misionaris OSC asal Amerika. Pertanyaannya, apa yang dipilih oleh para misionaris itu?

Ternyata cukup banyak misionaris asal Belanda yang memilih menjadi warga negara Indonesia, walaupun ada juga warga negara itu yang memilih kembali ke negara asalnya. Tetapi sebagian besar misionaris Amerika memilih untuk kembali ke negara asal mereka, termasuk para Misionaris OSC yang sedang berkarya di Irian. Maka tuntutan yang muncul saat itu adalah bahwa harus dimulai satu program misi domestik. Daerah misi yang dulu ditangani oleh misionaris harus diambilalih oleh misionaris dalam negeri. Kemungkinan yang paling besar adalah bahwa para pastor yang akan dikirim ke daerah-daerah itu adalah para pastor dari Jawa, yang jumlahnya sudah relatif mencukupi dibanding di daerah lain. Kardinal Darmoyuwono almarhum waktu itu juga termasuk sangat mendorong misi domestik ini, dengan cara mendorong para pastor Jawa untuk menjalankan tugas misi keluar Jawa. Syarat yang waktu itu diajukannya adalah, pastor tersebut harus sudah ditahbiskan lebih dari dua tahun.

Di kalangan OSC Provinsi Indonesia (Provinsi Sang Kristus) yang berpusat di Bandung sendiri waktu itu muncul tantangan apakah mereka juga harus menjalankan tugas misi keluar Jawa. Tawaran yang pasti masuk adalah untuk memulai karya pastoral di Timor Timur. Tetapi Pastor Yan Sunyata almarhum, yang saat itu menjadi provinsial, menurut Pastor Widyo, lebih cenderung untuk memilih tugas di Irian yang selama ini ditangani oleh misionaris OSC dari Amerika, karena hampir bisa dipastikan mereka semua akan kembali.

Pastor Widyo mengaku dalam diskusi mengenai perencanaan tugas misi ini, dia termasuk yang vokal menyampaikan pendapatnya, termasuk menetapkan syarat-syarat bagi pastor yang boleh menangani tugas misi tersebut. “Saya termasuk yang mengajukan syarat tinggi untuk menjalankan tugas itu. Saya berani mengatakan itu karena yakin tidak akan terpilih, karena kardinal mengatakan pastor asal Jawa yang menjalankan tugas misi harus yang sudah menjadi imam lebih dari dua tahun.” Tetapi ternyata para petinggi OSC di Bandung mempunyai pendapat lain. Justru Pastor Widyo-lah yang dipilih untuk menjadi misionaris Jawa pertama dari OSC untuk tugas di Irian.

Dalam satu obrolan dengan penulis, Pastor Blessing mengatakan, “Waktu itu datang provinsial dan mengatakan kepada saya bahwa Pastor Widyo akan ditugasi berkarya di Papua, apakah saya setuju. Saya jawab, sebenarnya bukan urusan saya. Kalau dia diberi tugas dan dia setuju, ya jalankan saja. Ya toh? Dan memang dia langsung setuju. Dalam hal ini saya selalu memuji dia. Dia tidak mengatakan wah repot atau mencari-cari alasan lainnya. Dia diberi tugas dan langsung menerima. Saya puji dia. Tidak semua pastor seperti dia.”

Bagaimana dengan Pastor Widyo sendiri? Kepada penulis dia mengaku bahwa dia sendiri langsung menerima tugas yang diberikan kepadanya. Dan pastor muda itu pun berangkat ke Papua. Sebelum berangkat dia sempat melihat foto-foto dan menonton film tentang para pastor yang sebelumnya sudah bertugas di sana. Dengan demikian kurang lebih sudah ada gambaran mengenai wilayah tugas yang harus dijalaninya di tempat baru itu.

Rawa dan Malaria
Pastor Widyo bertugas di Paroki Yosakor, Agat-Asmat, Papua. Wilayah ini berada di pantai selatan Pulau Irian, yang daerahnya penuh dengan rawa-rawa. Pastoran sendiri terletak di daerah rawa, sehingga bangunannya berbentuk panggung, dengan ketinggian lantai sekitar satu setengah meter di atas permukaan air dalam kondisi normal. Desain seperti itu dimaksudkan untuk memberi toleransi pasang surut air rawa yang sering bergerak dengan sangat cepat, dengan ketinggian yang sering tidak terduga sama sekali. Situasi topografis dan geografis seperti itu meliputi bukan hanya meliputi paroki Yosakor, tetapi seluruh paroki yang ada di Keuskupan Agats.

Bisa dibayangkan, dengan kondisi alam seperti itu sarana transportasi yang mungkin hanyalah perahu, bermotor maupun tidak. Jangan pernah bertanya mengenai jalan darat, karena jalan semacam itu tidak mungkin dibangun di sana. Kalaupun ada jalan dimana orang bisa berjalan kaki sedikit nyaman, jalan itu pasti dibangun di atas rawa, dengan bantalan kayu, disangga dengan penopang kayu pula. Itu sebabnya setiap kali melakukan kunjungan ke stasi, Pastor Widyo pun harus menggunakan perahu motor cepat, dengan berbekal sebilah kapak, untuk berjaga-jaga kalau perahu kandas atau baling-baling tersangkut.

Perjalanan menuju stasi selalu melalui jalur sungai, atau terkadang menyusuri pantai dulu untuk kemudian kembali masuk menyusupi delta-delta atau hutan bakau untuk kemudian masuk alur sungai. “Semua stasi dikunjungi dengan cara itu, sehingga saya kalau ke stasi bisa menghabiskan waktu sampai dua minggu baru kembali ke paroki,” kata Pastor Widyo. Perjalanan dinas ini dilakukan dengan memonitor ketinggian air yang disiarkan oleh petugas pengawas melalui radio SSB. “Kalau air naik perlahan, berarti akan tenang, speed-boat tidak terganggu. Tapi kalau air pasang begitu cepat, maka pasti akan ada gelombang besar.”

Dengan kondisi seperti itu, pembaca pasti bisa menduga, Malaria adalah penyakit yang mengincar siapapun yang tinggal di daerah seperti itu. Berbagai macam obat pencegah dikonsumsi oleh para misionaris, termasuk Pastor Widyo, dan para pendatang lain, tetapi hampir tidak ada orang yang tidak pernah terserang malaria di tempat itu. Jangankan pendatang, penduduk setempat yang sudah terbiasa pun tak kebal dari serangan malaria, dan banyak diantara mereka yang tewas menjadi korban keganasan penyakit itu. “Di sana umum bagi seorang ibu untuk mempunyai anak lebih dari 10 orang, tetapi yang bertahan paling dua atau tiga orang. Kondisi lingkungan di sana memang sangat tidak sehat,” tutur Pastor Widyo lagi.

Beratnya kondisi alam dan sosial di tempat itu pada gilirannya menjadi penyebab ketertinggalan abadi daerah seperti itu. Bayangkan saja, siapa orang yang sedikit berbakat yang rela untuk bertugas di daerah seperti itu? Adakah guru yang andal rela dikirim ke sana? Adakah aparat pemerintah yang cukup pintar yang bersedia bertugas di tempat itu? Jawaban atas semua pertanyaan itu sama: tidak ada. Karena itu jangan harapkan masyarakat di tempat itu akan mengenyam pendidikan seperti yang bisa dinikmati masyarakat Serpong dan sekitarnya.

Kalau begitu, apa yang dilakukan oleh Pastor Widyo di tempat itu? Menurut Pastor Widyo, yang dilakukan tak lebih dari sekadar datang, tinggal dan berada bersama mereka. Tidak perlu repot-repot memperkenalkan teologi keselamatan yang diajarkan di seminari tinggi, karena hanya akan direspon dengan seringai tak paham. Dan tidak perlu frustrasi kalau kotbah mengenai monogami tidak digubris, karena buat mereka poligami adalah bagian dari kultur, bahkan bagian dari cara bertahan. Sulit bagi masyarakat seperti itu untuk diajak berbicara mengenai iman, surga, atau neraka. Keselamatan tidak lain adalah hidup “sejahtera” saat ini, menurut takaran mereka sendiri, karena hidup buat mereka memang begitu sederhana. Hutan, rawa, sungai dan laut menyediakan semua yang mereka butuhkan. Setiap kali mereka pergi, pulang selalu membawa hasil yang dimaksud. Pergi berburu babi, burung, menangkap ikan… tidak ada yang pulang dengan tangan kosong.

Mungkin mereka justru berpikir, mengapa kepada kami diperkenalkan firdaus di taman firdaus itu sendiri?
Jadi yang dilakukan oleh Pastor Widyo tak lebih mencoba menjadi teman bagi masyarakat setempat, dan memberikan dukungan ekonomi pada tataran yang sangat sederhana. Pastor Widyo menampung hasil yang diperoleh umat setempat berupa hasil buruan (daging babi atau burung) telur ayam hutan atau sagu, dan pastoran menyediakan sejumlah kebutuhan pokok termasuk tembakau, beras dan mi instant.

Dalam penuturannya kepada penulis, Pastor Widyo bercerita bahwa dia sungguh menikmati tugas di tempat seperti itu. “Saya sungguh menikmati, karena saya merasa dibutuhkan oleh masyarakat setempat. Saya merasa hidup saya sungguh berarti di tempat itu.” Pastor Widyo mengaku bisa makan apa yang mereka makan, bisa menikmati alam yang mereka tinggali, dan coba bisa memahami cara mereka berpikir, walaupun awalnya tentu tidak mudah.

Pastor Widyo bertugas di tempat ini selama lima tahun, dan masa itu dilaluinya dengan kebahagiaan tersendiri. Di tempat itu dia pernah mendampingi seorang frater yang menjalani masa orientasinya, dan frater tersebut sudah menjadi imam, bahkan sekarang menjadi Provinsial OSC Provinsi Sang Kristus, atasan Pastor Widyo. “Saya bangga melihat semua frater yang dulu saya bimbing. Semuanya jadi, dan semua menjadi lebih hebat dari saya.”

Pastor Widyo meninggalkan paroki Yosakor dengan diiringi tangisan umat setempat, sampai pastor yang bertugas menggantikan Pastor Widyo berkeluh, “Apakah saya bisa menggantikan kamu di hati mereka?” Kemana Pastor Widyo akan bertugas? Menurut pastor provinsial, Pastor Widyo akan bertugas belajar. Ke Roma.

Komentar

Telah Dibaca:961

Leave a Comment