Naga dan Roket dalam DVD Player
Oct 26th, 2004 | Oleh: Her Suharyanto | Kategori: Advertorial, TempoKemajuan pesat dalam teknologi audio visual tak pelak lagi menghasilkan persaingan yang sangat tajam antarprodusen perangkat keras pendukungnya. Kalangan produsen elektronika saling berpacu menyediakan perangkat pendukung secanggih mungkin, termasuk teknologi alat pemutar cakram DVD (DVD player).
Salah satu teknologi baru yang bisa diduga akan sangat menguntungkan konsumen, terutama konsumen Indonesia dan Asia pada umumnya, adalah teknologi Dragonpick yang diluncurkan oleh JVC. “Teknologi ini adalah hasil temuan JVC sebagai respon atas karakteristik orang Asia dalam menangani keping DVD,” kata Denny Santosa, manajer Departemen Perencanaan Penjualan PT JVC Indonesia. Menurut Denny, orang Indonesia dan orang Asia pada umumnya tidak begitu teliti, bahkan cenderung ceroboh, dalam menangani dan menyimpan keping DVD atau CD. Kecerobohan penanganan itu bisa berakibat fatal, yakni menimbulkan goresan pada permukaan cakram optik, atau bahkan juga bisa membuat permukaan cakram tersebut melengkung.
Akibatnya, kata Denny, alat pemutar DVD atau VCD tidak mampu membaca cakram optik tersebut sehingga akan muncul pesan no-disk, disk-error, atau gangguan pada gambar di layar televisi, berupa gambar yang terputus-putus dan suara yang mengganggu. Hal itu terjadi karena sinar laser yang berfungsi sebagai pembaca data digital pada keping DVD atau CD harus berhadapan secara tegak lurus dengan permukaan piringan yang hendak dibaca. Maka begitu cakram tersebut melengkung atau tergores, sinar laser tidak bisa membaca data yang tertulis pada permukaan piringan optik itu. Kalau sinar laser gagal total membaca permukaan keping tersebut, maka muncullah pesan no disk atau disk error. Dan kalau proses pembacaan bisa dilakukan tetapi tidak sempurna, gambar yang muncul di layar televisi akan terputus-putus, dan suaranya akan terganggu.
Untuk mengatasi hal ini JVC meluncurkan teknologi Dragonpick, yakni teknologi yang memungkinkan pembacaan permukaan piringan optik yang sudah rusak, baik tergores maupun melengkung. Teknologi ini bekerja dengan cara menempatkan sinar laser secara sedemikian fleksibel, sehingga sinar yang dipancarkan akan membentuk sudut yang tegak lurus terhadap permukaan cakram yang hendak dibaca.
“Hasilnya luar biasa. Kalau keping DVD atau VCD anda tidak bisa diputar pada DVD player merek lain, cobalah putar pada DVD player JVC. Pasti akan bisa berjalan dengan baik,” kata Denny penuh percaya diri. Dia menambahkan bahwa Dragonpick adalah teknologi asli JVC yang tidak akan dimiliki oleh produsen elektronika lainnya. Ketika ditanya apakah teknologi ini akan mampu membaca keping-keping DVD atau VCD bajakan, Denny tersenyum dan dengan diplomatis mengatakan, “Kami menganjurkan agar konsumen membeli produk yang original.”
Rocket Start
Persoalan lain yang coba dicarikan solusinya oleh para ahli JVC adalah kelambatan proses pembacaan data digital pada saat awal. “Ketika kita baru memasukkan CD atau DVD dalam tray, seringkali kita merasa bahwa proses awalnya begitu lambat,” kata Denny. Ini memang sering terjadi, lagi-lagi kalau kita berurusan dengan keping CD yang bermasalah, entah karena melengkung, tergores, atau karena proses recording yang tidak sempurna (biasanya untuk kasus cakram optik bajakan).
Denny mengatakan bahwa dengan teknologi Rocket Start, perangkat DVD player JVC akan membaca lebih cepat dibanding dengan perangkat sejenis merek lain. Dia mengatakan, DVD player JVC hanya memerlukan waktu empat detik untuk mulai membaca data digital dalam cakram optik terhitung sejak ruang simpan cakram (tray) tertutup. “Untuk kasus keping DVD-nya atau CD-nya rusak, bisa jadi diperlukan waktu yang sedikit lebih lama. Tetapi kami jamin player JVC akan lebih cepat dibanding merek lain,” kata Denny lagi.
Denny menambahkan bahwa JVC sangat mengandalkan kedua teknologi yang tidak dimiliki oleh vendor lain tersebut. Karena itu JVC memasang teknologi ini di seluruh produk yang mengandung DVD player, termasuk produk-produk compact component (compo) dan hi-fi-nya. Dengan mengandalkan kedua teknologi ini Denny yakin pasar Indonesia akan dengan cepat bisa menyerap produk-produk DVD JVC. “Kedua teknologi ini persis menjawab semua persoalan yang dihadapi konsumen DVD di Indonesia dan di negara-negara lain di Asia,” katanya sembari menambahkan bahwa JVC memang meluncurkan teknologi ini khusus untuk pasar Asia. “Konsumen Eropa dan Amerika sangat berhati-hati dalam menangani keping CD dan DVD mereka. Karena itu keping-keping optik mereka pasti aman, sehingga mereka tidak membutuhkan teknologi ini.”
Denny menambahkan bahwa sampai dengan Juli lalu, beberapa bulan setelah teknologi ini diluncurkan, JVC berhasil meraih pangsa pasar sebesar 8% untuk kelompok dan segmen pasar yang sejenis. Dia yakin bahwa tahun depan produk DVD player JVC akan mampu meraih pangsa pasar antara 20% sampai 25%, atau terbesar di kelasnya.