Menyambut Sidang OPEC: How Low Can You Go

Jan 8th, 2003 | Oleh: Her Suharyanto | Kategori: Artikel Populer, Bisnis Indonesia, Ekonomi Umum

Minggu 12 Januari ini kalangan perwakilan anggota Organisasi Negara-Negara Eksportir Minyak akan mengadakan sidang darurat di Wina Austria dengan agenda mengkaji kebijakan kuota produksi sehubungan dengan melambungnya harga minyak mentah di pasar dunia sejak sekitar dua bulan terakhir. Banyak pengamat memperkirakan OPEC akan memutuskan menaikkan kuota produksi sebagai upaya meredam melambungnya harga tersebut. Pertanyaannya, seberapa besar pasokan tambahan yang bisa diberikan oleh OPEC? Dan kalau OPEC sungguh menaikkan kuota produksi, berapa rendah harga minyak yang bisa dicapai?

Melambungnya harga minyak sungguh menjadi persoalan banyak negara, terutama negara yang secara alamiah tidak mempunyai cadangan minyak. Negara-negara industri baru di kawasan Asia Timur (Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan Cina) misalnya, hampir semuanya sangat bergantung pada pasokan minyak dari pasar ekspor, sehingga industri mereka sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak. Memang benar bahwa lonjakan harga minyak di pasar berjangka yang beberapa hari lalu sempat mencapai US$33,65 per barel itu memukul semua negara, sehingga daya saing per negara bukanlah soalnya. Akan tetapi dalam konteks manajemen sebuah perusahaan, fluktuasi biaya produksi akan sangat menyulitkan berbagai lini berikutnya dalam rangkaian bisnis perusahaan.

Untuk konteks Indonesia pertanyaan mengenai harga tersebut menjadi kian kritis di tengah gejolak masyarakat yang sedang berlangsung menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), tarif dasar listrik dan tarif telepon sejak awal bulan ini. Memang kenaikan harga minyak ini telah memberi pemasukan ekstra ke pundi-pundi pemerintah sebesar lebih dari lima triliun rupiah. Tetapi bagi masyarakat, kenaikan ini justru merupakan azap karena harga jual BBM kepada masyarakat kini mengikuti gejolak harga di pasar dunia. Karena itu masyarakat kiranya juga berharap OPEC bisa menjadi tumpuan terakhir harapan mereka.

Sejumlah menteri perminyakan negara-negara OPEC sendiri memang sudah menyatakan harapan akan adanya kenaikan kuota produksi. Sebagian cukup besar anggota OPEC berharap agar kuota digenjot sebesar 1,5 juta barel per hari, sedang sebagian lagi meminta kuota dinaikkan sebesar 1 juta barel per hari. Angka ini diajukan karena secara tradisional OPEC menaikkan produksi sebesar 500.000 barel per hari kalau dalam 20 hari perdagangan rata-rata harga patokan (keranjang) OPEC mencapai lebih dari US$28 per barel.

Namun, tanpa bermaksud menakut-nakuti, kita semua layak skeptis apakah OPEC akan mampu melakukan langkah yang cukup untuk meredam gejolak harga. Sikap skeptis tersebut didasarkan pada sejumlah alasan. Pertama, kalau pun semua anggota OPEC menyetujui kenaikan produksi sebesar 1,5 juta barel per hari, angka itu belum menutup tingkat produksi sebelumnya. Dalam sidang 12 Desember lalu OPEC memutuskan untuk memangkas produksi 1,7 juta barel menjadi 23 juta barel per hari, karena organisasi itu memprediksi akan terjadi penurunan permintaan. Sebab, biasanya menjelang musim semi permintaan minyak memang cenderung turun. Maka sebenarnya kenaikan kuota sebesar 1,5 juta barel per hari belum akan berpengaruh riil terhadap mekanisme permintaan penawaran minyak dunia.

Kedua, permintaan minyak dunia tidak cukup dikonpensir hanya dengan 1,5 juta barel per hari, karena membengkaknya “defisit” cadangan minyak dunia. Menurut catatan Merrill Lynch, cadangan minyak negara-negara OECD saat ini merosot drastis, yakni sekitar 92 juta barel di bawah cadangan normal mereka. Hal ini terjadi karena pemogokan di Venezuela yang pada 12 Januari nanti akan sudah melebihi 40 hari. Pemogokan di negara produsen minyak kelima terbesar di dunia dan ketiga terbesar di OPEC ini mengganggu sampai dengan 80% ekspor minyak negara itu, yang sebagian terbesar mengalir ke pasar AS. Venezuela selama ini menguasai sekitar 18% pasar AS, sehingga gangguan ekspor dari negara itu sangat mempengaruhi pasokan dan cadangan minyak di negeri Paman Sam. Kalau pemogokan menentang Presiden Hugo Chavez berlanjut di Venezuela, diperkirakan dalam tiga pekan ke dapan cadangan minyak negara-negara OECD akan berada antara 150 juta sampai 170 juta barel di bawah cadangan normal mereka.

Ketiga, konflik antara AS dengan Irak tampaknya bukannya mereda, tetapi justru kian memanas. Sampai saat ini tampaknya AS belum kehabisan alasan untuk mengancam menggempur Irak. Dan pekan ini AS sudah memobilisasi pasukannya ke sekitar Kawasan Teluk, suatu tanda bahwa perang AS-Irak hanya soal waktu saja. Kalau perang kedua negara sungguh pecah, maka ada satu faktor pengurang baru atas pasokan minyak dunia, yakni bahwa produksi dan ekspor minyak Irak akan sangat terganggu.

Faktor perang AS-Irak dan pemogokan Venezuela inilah yang kiranya akan menjadi hantu pasar minyak dunia. Kedua negara ini biasanya secara kumulatif memproduksi lima juta barel per hari. Maka sebesar itu pula potensi kekurangan produksi minyak OPEC. Di tengah produksi minyak dunia sebesar 76 juta barel per hari, pengurangan pasokan sebesar lima juta barel per hari pasti akan sangat terasa dampaknya. Dalam pada itu sisa kapasitas produksi minyak dunia hanya tinggal 2,7 juta barel per hari, yang semuanya berada di bawah negara-negara OPEC. Dengan demikian kalaupun seluruh anggota menggenjot produksi pada seluruh kapasitas terpasang, tetap saja produksinya belum bisa menggantikan pasokan Irak plus Venezuela.

Bahkan sejumlah broker minyak dunia berpendapat, pengurangan riil produksi minyak dunia bisa mencapai enam juta barel per hari kalau masalah Venezuela berlanjut dan diramaikan dengan perang AS-Irak. Kalau ini terjadi, maka skenarionya akan lebih buruk dibanding dengan dampak perang AS-Irak tahun 1991 yang sempat melambungkan harga minyak sampai di atas US$40 per barel. Sejumlah broker berani meramal angka US$50 per barel kalau perang AS-Irak tidak bisa dihindarkan lagi. Bahkan seorang penulis perminyakan yang menulis untuk Associated Press meramalkan bukan mustahil harga minyak akan mencapai US$80 per barel, dan bertahan di atas US$40 per barel sampai 2004. Kita tentu tidak mengharapkan ini terjadi, tetapi dalam masalah seperti ini kita memang tak pernah punya pilihan. (Her Suharyanto, jurnalis independen, tinggal di Serpong-Banten)

Tags: ,

Tulis Komentar