Menimbang Kredit Pemilikan Mobil

Sep 29th, 2008 | Oleh: Her Suharyanto | Kategori: Artikel Populer, Intisari, Personal Finance

MENJELANG IDHULFITRI, Natal dan Tahun Baru salah satu produk yang paling laku di pasaran adalah mobil serba guna (multi-purpose vehicle, MPV), entah baru atau bekas, entah dibeli dengan cara tunai atau angsuran. Mudik menggunakan kendaraan pribadi menjadi pilihan banyak orang, baik karena alasan praktis, ekonomis maupun gengsi. Untuk alasan-alasan tersebut banyak orang yang memutuskan untuk membeli mobil, sekalipun dengan cara mencicil (kredit).

Membeli secara kredit bisa diartikan sebagai “menggadaikan penghasilan di masa mendatang untuk membeli kebutuhan saat ini”. Menukarkan penghasilan di masa mendatang dengan kebutuhan saat ini tidak bisa dilakukan begitu saja secara gratis, tetapi dengan membayar biaya tertentu yang dinamai suku bunga.

Kendati demikian membeli sesuatu secara kredit bisa menguntungkan bagi mereka yang mempunyai perencanaan keuangan yang sangat matang dan bijaksana. Perencanaan keuangan yang baik selalu diarahkan pada usaha peningkatan aset pribadi agar tersedia sarana ekonomi yang cukup pada saat seseorang sudah tidak produktif lagi sehingga tidak mewariskan beban ekonomi apapun kepada generasi berikutnya. Dalam cara pikir seperti itu, yang penting bagi seseorang adalah bagaimana mengumpulkan aset, mengamankan dan mengembangkannya.

Membeli secara kredit bisa dimaknai secara positif jika cara itu tidak akan mengganggu aset, termasuk tabungan, yang sudah susah payah dikumpulkan. Katakan saja seseorang yang memiliki investasi senilai Rp100 juta dengan hasil 20% per tahun akan memilih membeli mobil dengan cara kredit dengan bunga efektif 15%. Atau, orang berani membeli secara kredit karena yakin yang dibeli adalah aset yang produktif, misalnya tanah dan bangunan.

Tetapi sebaliknya, membeli barang apapun secara kredit juga mengandung beban ekonomi yang tidak kecil. Di samping harus membayar bunga, seorang pengutang (debitor) juga harus kehilangan peluang untuk memanfaatkan penghasilannya di masa mendatang. Selama puluhan bulan kedepan seorang debitor kehilangan pilihan bagaimana menggunakan penghasilannya karena pilihan itu sudah diambil sekarang. Di sini muncul persoalan, apakah beban ini cukup seimbang dengan manfaat yang diperoleh dari membeli sesuatu secara kredit.

Menyangkut pembelian mobil secara kredit, orang perlu menimbang arti sebuah mobil untuk dirinya. Di satu sisi, sesuai dengan namanya, mobil pribadi umumnya dimanfaatkan untuk keperluan pribadi. Alih-alih mendapatkan manfaat ekonomi, dengan mempunyai mobil pribadi orang justru harus siap dengan beragam pengeluaran baru mulai dari bahan bakar, pajak, asuransi dan biaya servis. Belum lagi peningkatan pengeluaran karena perubahan gaya hidup, misalnya orang jadi senang pergi ke mal, rekreasi ke luar kota atau mengunjungi sanak saudara. Bahkan, dalam dunia usaha, usia ekonomis sebuah mobil umumnya ditentukan selama lima tahun. Artinya setelah lima tahun, nilai akuntansi satu unit mobil perusahaan sudah nol. Dalam skala rumah tangga, mobil mungkin masih bisa dipakai dalam waktu yang lebih lama, tetapi tetap saja, nilai ekonomis mobil tersebut makin lama makin berkurang. Jadi, ketika membeli mobil secara kredit, ada dua beban ekonomis yang harus ditanggung debitor, yaitu beban bunga dan beban depresiasi harga mobil, belum termasuk beban rutin seperti biaya bahan bakar, pajak dan biaya servis.

Di samping biaya di atas, pembeli mobil secara kredit masih harus membayar biaya tambahan yang tidak muncul ketika membeli secara tunai. Biaya tambahan itu antara lain biaya administrasi yang akan masuk ke kantong pemberi kredit, biaya notaris dan asuransi jiwa kredit untuk keperluan untuk kepentingan kreditur kalau kita meninggal dunia sebelum angsuran selesai.

Karena itu kalangan penasehat keuangan pribadi umumnya tidak menyarankan, kalau tersedia dana yang cukup, sebaiknya orang tidak membeli mobil dengan cara kredit. Pembelian secara kredit adalah pilihan terakhir kalau kebutuhan akan mobil memang mendesak, sementara dana tunai tidak mencukupi dan ada kepastian penghasilan di masa mendatang untuk membayar cicilan. Kalau keputusan untuk membeli mobil secara kredit sudah diambil., masih ada sejumlah prinsip yang harus diperhatikan. Pertama, karena membeli dengan cara kredit adalah pilihan terakhir, maka ambillah kredit dalam jumlah sekecil mungkin dengan waktu pembayaran sependek mungkin.

Iklan di media massa biasanya memberikan penawaran yang menjebak, yakni bahwa konsumen bisa membawa pulang mobil impian dengan uang muka ringan. Padahal, semakin ringan uang muka, bararti semakin besar kredit yang harus diambil. Dengan alokasi cicilan yang sudah ditentukan oleh calon pembeli, berarti hal itu akan memperpanjang jangka waktu pembayaran kredit, dan menambah beban bunga yang harus dibayar. Bagi perusahaan pembiayaan, sejauh calon debitornya meyakinkan, memberi kredit dalam jumlah yang lebih besar untuk waktu yang lebih lama akan lebih menguntungkan. Justru di sanalah letak bisnis mereka: sejauh yakin anda mampu membayar, mereka akan lebih senang menyalurkan kredit sebanyak mungkin untuk waktu yang selama mungkin, sebab hal itu akan mendatangkan pendapatan bunga yang lebih besar untuk mereka.

Kedua, saat ini suku bunga pinjaman memang murah, bahkan mungkin paling murah dalm sejarah kredit di Indonesia. Suku bunga murah itu terjadi karena rendahnya angka inflasi sehingga Bank Indonesia bisa menurunkan sukubunga Sertifikat Bank Indonesia menjadi sekitar 8%. Akibatnya bunga tabungan dan deposito perbankan juga turun ke sekitar angka 5%-6% per tahun. Karena mendapatkan dana masyarakat dengan bunga rendah, kalangan perbankan berpeluang untuk menurunkan suku bunga kreditnya.

Iklim bunga rendah inilah yang sering “dimainkan” oleh bank atau lembaga pembiayaan. Mereka bisa beriklan dengan mengatakan “Dapatkan mobil baru dengan bunga mulai 7,5%”. Seorang calon konsumen yang tidak jeli bisa langsung memutuskan untuk mengambil kredit tersebut karena berpikir bahwa selisih antara bunga deposito dengan bunga kredit hanya 1,5 sampai dua poin persen. Menghadapi penawaran seperti itu seorang calon debitor harus waspada, apakah sukubunga tersebut adalah sukubunga flat atau efektif.

Sukubunga flat dihitung dengan cara menambahkan bunga selama periode kredit pada modal, dan membaginya selama masa cicilan. Misalnya saja, total kredit yang diambil seorang kreditor adalah Rp50 juta, dengan bunga 7,5% per tahun dengan masa kredit tiga tahun. Maka pokok plus bunga selama tiga tahun adalah Rp50 juta ditambah 22,5% (bunga tiga tahun) dikalikan pokok sehingga menjadi Rp61.250.000. Pokok plus bunga itu kemudian dibagi 36 untuk menentukan kewajiban per bulan yang harus dibayar oleh debitor. Jadi, sepanjang 36 bulan seorang debitor harus mencicil pokok dan bunga dalam jumlah yang sama (flat). Cicilan pokoknya adalah hampir Rp1,4 juta, sedangkan cicilan bunganya sedikit di atas Rp300 ribu per bulan.

Di sinilah catatan di atas mengenai “periode utang” terasa sangat relevan. Sebuah bank misalnya menawarkan bunga flat tiga tahun sebesar 7,5%, bunga empat tahun sebesar 8,5% dan bunga lima tahun sebesar 9,5%. Dengan demikian total bunga empat tahun menjadi 34% dan total bunga selama lima tahun adalah 47,5%. Sebagai perbandingan, dengan kredit selama lima tahun debitor harus membayar cicilan sekitar Rp1,23 juta per bulan yang terdiri dari cicilan pokok sekitar Rp830 ribu dan cicilan bunga Rp400 ribu selama 60 bulan.

Dengan penghitungan seperti itu seorang debitur harus membayar sukubunga yang sama (Rp300 ribu untuk tiga tahun atau Rp400 ribu untuk lima tahun) baik pada saat total kredit masih utuh sebesar Rp50 juta maupun pada bulan terakhir, ketika utang pokok tinggal Rp1,4 juta. Metode penghitungan bunga yang dinilai lebih adil adalah penghitungan bunga efektif. Setiap kali kita membayar cicilan utang, kita membayar dua hal, yakni bunga dan utang pokok. Artinya setelah itu utang pokok kita akan turun, sehingga beban bunga atas utang pokok yang baru itu pun lebih kecil. Beban bunga benar-benar dihitung berdasarkan jumlah utang yang tersisa (efektif). Hanya saja akan merepotkan kalau pihak bank atau kreditor harus membuat perhitungan baru secara bulanan. Karena itu cicilan kredit juga tetap sama sepanjang masa pembayaran. Hanya saja, semakin lama porsi cicilan pokoknya akan membesar seiring waktu, sedangkan beban bunganya akan semakin kecil. Dengan cara menghitung seperti ini, bunga 7,5% untuk periode tiga tahun adalah setara dengan bunga efektif 13,69% sedangkan bunga 9,5% untuk lima tahun setara dengan bunga efektif 16,5%.

Ketiga, seorang calon konsumen tetap harus kembali ke prinsip dasar perencanaan keuangan pribadi dan keluarga. Yang perlu diingat adalah bahwa dengan mengambil kredit berarti orang secara sadar sudah menciptakan pos baru dalam jumlah yang tetap untuk waktu yang pasti pada sisi pengeluaran keuangan keluarga. Karena itu perlu pertimbangan yang bijak sekaligus rasional dalam menentukan besaran cicilan bulanan yang akan dibayar. Besaran cicilan itu harus sedemikian tinggi supaya kredit cepat selesai, tetapi tidak boleh terlalu tinggi sehingga mengganggu kebutuhan yang lain. Banyak yang mengajukan patokan bahwa cicilan bulanan total utang kita sebaiknya tidak melebihi 30% penghasilan bulanan bersih. Tentu saja angka ini masih bisa dimodifikasi, dengan mempertimbangkan beban yang lain dan nilai absolut pendapatan bulanan kita.

Artikel ini ditulis bersama: Joannes Widjajanto

Tags: ,

3 comments
Leave a comment »

  1. iDn01y lkrdpfnhwbxk, [url=http://bxjabirzuidg.com/]bxjabirzuidg[/url], [link=http://exjxvvswtoxg.com/]exjxvvswtoxg[/link], http://wwjszsyicarn.com/

  2. Terima kasih ya.. saya memang tidak suka kredit kecuali barang tersebut berpotentsi
    untuk natik..
    bagaimanapun.. memang betul kredit mobil itu lebih berbahaya sebab mobil yang sudah dibeli selalu turun dari tahun ke tahun sebab keluar model baru dan mesin semakin aus.

    Terima kasih ya atas pendapat dan nasihatnya. saya tidak jadi membeli mobil dengan cicilan.

    Luckman Raharja

  3. terima Kasih review-nya. ini petunjuk berharga buat saya untuk berinvestasi dengan pengelolaan yang lebih baik

    Sukses selalu.

Tulis Komentar