Menerbitkan Buku Sendiri, Mengapa Tidak?
Nov 1st, 2007 | Oleh: Her Suharyanto admin | Kategori: Advertorial, Kepenulisan, Pembelajar Dotcom“YANG PALING menyebalkan di seluruh dunia ini adalah penerbit.” Saya tertawa ngakak membaca kalimat jenaka ini. Saya tertawa ngakak karena di tengah novelnya yang mengalir tiba-tiba saja Andrea Hirata melemparkan metafora tersebut, secara tak terduga.
Pasti penulis muda yang saya kagumi ini punya pengalaman menyebalkan dengan penerbit. Saya tidak tahu apa pengalaman itu, tetapi saya mencoba menduga-duga: jangan-jangan dia harus berurusan dengan editor bawel, orang marketing yang sok tahu, atau terkejut-kejut membaca draf kontrak yang menyebut royalti 8% atau 9%, dan itu pun masih ditambahi dengan komentar super sadis, “Anda kan penulis pemula… Kami belum tahu buku Anda laku atau tidak.”
Mungkin itu sebabnya banyak penulis yang tidak mau repot berurusan dengan penerbit, dan memilih menerbitkan buku sendiri. Ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Di banyak negara praktik self-publishing berkembang cukup pesat. Saya bergabung dengan milis self-publishing yang anggotanya sudah lebih dari 2000 orang. Beberapa milis self-publishing lain yang tidak saya langgani ada yang beranggotakan 700-an orang, ada yang 300-an orang. Saya sempat melakukan survei kecil di milis yang saya langgani, ternyata 80-an persen anggota adalah self-publisher, dan 20-an persen sisanya adalah penyedia layanan seperti editor, desainer grafis, dan distributor.
Di dalam negeri saya juga kenal beberapa self-publisher secara pribadi, tahu bahwa sejumlah buku diterbitkan secara mandiri, dan pernah juga melakukan hal yang sama. Dari beberapa self-publisher, akhirnya saya tahu beberapa alasan mengapa mereka memilih menjauh dari penerbit konvensional dan memilih menerbitkan buku sendiri. Ada yang beralasan bahwa penerbit konvensional memang rewel. Menekan penulis pemula dengan royalti 8% apakah hal yang menggembirakan?
Ada juga orang yang menerbitkan buku sendiri karena memiliki keyakinan yang berbeda dengan penerbit. Penerbit tidak percaya bahwa satu buku layak pasar, tetapi sang penulis sendiri sangat yakin bukunya sangat layak pasar. Karena itu ada penulis yang bertekad menerbitkan sendiri bukunya baik karena sudah bertabrakan dengan penerbit konvensional, tetapi ada pula yang mengambil tekad tersebut karena memang mau demikian. Bagaimana hasilnya? Hasil harus dilihat berdasarkan tujuan. Ada yang tujuannya adalah agar bukunya sekadar terpajang di toko buku, ada yang sadar bahwa pasarnya sempit sehingga penerbit pasti tidak mau menerbitkan, ada yang punya tujuan ekonomi (marah dengan royalti 8%-10%), ada pula yang bertujuan agar bukunya bestseller. Dalam praktik semua tujuan itu ada, dan banyak yang berhasil berdasarkan tujuan itu. Sekadar contoh, tentu Anda pernah dengar bahwa buku ESQ terjual lebih dari 250.000 eksemplar, bukan? Anda juga ingat bahwa berapa kali cetakan awal Supernova-nya Dewi Lestari juga diterbitkan dengan cara ini, bukan?
Mungkin Anda bertanya, tidakkah ini merepotkan? Secara teknis pasti tidak sulit. Anda sudah punya naskah. Maka langkah berikutnya tinggal: mengedit, me-layout, mengirim ke percetakan dan memilih distributor. Pengiriman ke distributor serahkan pada percetakan, pengiriman ke toko-toko buku serahkan pada distributor. Setelah itu kita tinggal menunggu laporan penjualan dari distributor.
Self-publishing membuka banyak kemungkinan baru bagi para penulis, dan caranya pun mudah. Namun toh banyak penulis yang belum tahu bagaimana caranya. Kami sendiri awalnya sempat bertanya kesana kemari mengenai bagaimana teknis dan kelayakan penerbitan mandiri seperti ini.
Sadar bahwa ada kebutuhan akan hal itu Sekolah Penulis Pembelajar (SPP) akan menyelenggarakan workshop satu hari mengenai bagaimana menjadi self-publisher. Secara umum workshop ini akan membahas beberapa hal seperti:
* Alasan mengapa perlu menerbitkan buku sendiri
* Kelayakan dari sisi ekonomi dan peluangnya
* Dasar-dasar penyuntingan
* Dasar-dasar perwajahan buku
* Pengurusan ISBN buku
* Seluk-beluk percetakan dan pencetakan
* Memilih distributor
* Teknik mempromosikan buku
Siapa yang perlu hadir dalam pelatihan ini? Setiap penulis yang memiliki semangat kewirausahaan tentu akan berkepentingan. Penulis yang sebel dengan penerbit, mari bergabung. Terutama lagi penulis yang memiliki komunitas sendiri dan komunitasnya besar, self-publishing memang untuk Anda.[her]
Boleh juga, Mas! Kapan2 coba terbitkan buku sendiri ah!
(Akhirnya nemu jg web ini, Mas)
Pak Her jadi trainernya ya?
Okey… ditunggu loket trainingnya dibuka, Pak!
Bagaimana dengan agresifitas pemasarannya Pak kalau kita self-publishing? Bukannya publisher yang terkenal dan besar memiliki advantage dalam masuk ke pasar yang dituju? Saya setuju self-publishing akan pas buat mereka2 yang memiliki komunitas sendiri. Tapi buat saya pribadi kurang pas. Saya seorang dosen, yang mengajar kurang lebih 600 orang per semester. Ini memang pasar, karena kalau saya “wajibkan” mereka beli buku, pasti mereka akan beli. Tapi ini tidak fair. Saya punya komunitas, tapi gak tega untuk melakukan pemaksaan kepada komunitas saya. Kalau bisa dipublikasikan oleh orang lain, kenapa harus publish sendiri?
makasih mas atas tulisannya membuka wawasan saya tentang dunia penerbitan. saya lagi ngumpulin artikel seputar ” self publisher”. ke depan mudah-mudahan saya bisa nulis buku dan bisa nerbitin sendiri.
Pak Her,
Akhirnya saya tergerak juga untuk mau mendalami tentang self – publisher karena kutipan ini.
Mungkin Anda bertanya, tidakkah ini merepotkan? Secara teknis pasti tidak sulit. Anda sudah punya naskah. Maka langkah berikutnya tinggal: mengedit, me-layout, mengirim ke percetakan dan memilih distributor. Pengiriman ke distributor serahkan pada percetakan, pengiriman ke toko-toko buku serahkan pada distributor. Setelah itu kita tinggal menunggu laporan penjualan dari distributor.
Apakah benar sesederhana di atas ? Ada dorongan yang luar biasa untuk menulis buku perjalanan untuk wanita seumur saya. Naskah sudah dan sedang saya kerjakan.
Ada saran dari Pak Her untuk mewujudkan ide saya ini ? Pelatihan juga boleh, kapan ?
Terima kasih
Joke
iya, penerbit memang menyebalkan. Setahun saya diumbar dgn janj2 manis. Tunggu… ntar lagi… eh ujung2nya gak jadi
sdg persiapan skrg untuk indie… nyari info sebanyak-banyaknya dulu… thanks ya…
self publishing itu identik dengan peluang dan tantangan… tergantung kepada diri kita sendiri. oh iya, self publishing juga memerlukan penilaian yang obyektif untuk menilai naskah sendiri…
http://wayws.blogpot.com<<< ada pembahasan tentang self publishing lengkap
bagaimana caranya ngurusin ISBN kalau nerbitin buku sendiri? … apa itu tidak sulit? bagaimanacaranya? …. atau masalah hak cipta itu daptar dimana?