Menakar Sukses Mata Uang Tunggal Eropa

Jul 18th, 2000 | Oleh: Her Suharyanto | Kategori: Artikel Populer, Bisnis Indonesia, Ekonomi Umum

BRUSSELS (Bisnis): Salah satu pertanyaan yang sering muncul ke redaksi Bisnis berkaitan dengan euro antara lain, “Euro sudah diluncurkan 1999, tetapi mengapa sampai saat ini sulit mendapatkan bank note-nya?”
Bahkan seorang penelepon sempat gusar karena dia mendapat kiriman uang dari Belanda melalui bank dalam bentuk euro. Tetapi bank setempat memberi dia rupiah. Karena tidak tercapai kesepakatan antara bank dengan nasabah ini, uang itu kemudian dikirim kembali ke Belanda.
Masyarakat awam memang tidak mudah memahami hal ini. Jangankan di Indonesia. Di Eropa sendiri tidak mudah melakukan sosialisasi bahwa euro sudah ada tetapi alat tukar riil tetap frank, mark, lira atau guilder dll. Hasil survai Galup Europe Juni lalu menyebutkan, tingkat pemahaman masyarakan sona euro hanya ‘tengah-tengah’. Tepatnya, indeks pemahaman atas euro berada pada tingkat 48 (0 berarti tidak tahu sama sekali, 100 sepenuhnya mengerti).
Seperti banyak diberitakan, saat ini di sona euro-11 negara-hanya ada satu bank sentral, yakni Bank Sentral Eropa (European Central Bank, ECB) yang berkedudukan di Frankfurt. Bank sentral ini memang dirancang sudah lama, tetapi berfungsi penuh sebagai bank sentral sejak Januari 1999 bersamaan dengan diluncurkannya euro, mata uang tunggal Eropa.
Yang perlu dipahami adalah, bahwa penyatuan mata uang dalam prakteknya adalah proses yang tidak pendek. Ada proses sosialisasi–baik ke dalam maupun keluar kawasan Eropa sendiri–bahwa mata uang Eropa akan menyatu. Proses sosialisasi ini berlangsung sejak keputusan menyatuan mata uang diambil.

Sistem moneter tunggal
Tentu ini tidak mudah, mengingat penyatuan mata uang pada dirinya sendiri merupakan ide yang tidak mudah dicerna nalar. Di sisi lain, penyatuan mata uang bukanlah ide yang populer. Artinya, ada sejumlah pihak yang sebenarnya tidak mendukung penggabungan itu. Sebab, penggabungan mata uang–yang dibaliknya adalah penggabungan sistem moneter–berarti pengorbanan negara yang secara ekonomis kuat untuk negara yang kurang kuat.
Kendati demikian keputusan tetap harus dilaksanakan. Pada Januari 1999 lalu, euro resmi diluncurkan. Sejak saat itu bank sentral setiap negara anggota euro tidak ada lagi. Yang ada adalah ECB. Kalau pun bank sentral ke-11 negara itu (Portugal, Spanyol, Italia, Prancis, Jerman, Belgia, Belanda, Luxemburg, Austria, Finlandia, Irlandia) ada, fungsinya lebih sebagai kantor ECB. Jadi sejak 1 Januari 99 setiap negara tak lagi memiliki otoritas independen atas sistem moneternya sendiri.
Berkaitan dengan itu, maka mata uang setiap negara-yang masih akan berlaku sebagai alat transaksi yang sah sampai 31 Desember 2001-tak lain adalah unit dari euro. Frank Belgia atau mark Jerman bukan lagi milik bank sentral Belgia atau Jerman, tapi milik ECB. Masing-masing mata uang itu, sejak 1 Januari 1999 mempunyai nilai tukar tetap terhadap euro dan terhadap mata uang lain di sona euro.
Jadi, sampai sekarang belum ada bank-note dan koin euro? Memang belum. Walaupun bentuk dan desain bank note maupun koin euro sudah disosialisasikan, tetapi bank-note dan koin itu belum beredar dan belum menjadi alat tukar yang sah. Bank note dan koin baru akan menjadi alat tukar yang sah pada 1 Januari 2002. Menurut jadwal, distribusi bank note dan koin baru akan dilakukan akhir Desembar 2001, khususnya untuk kalangan perbankan, ATM, kantor pos, dan pedagang eceran.
Kendati bank note dan koin euro belum beredar, bukan berarti euro belum berlaku. Saat ini semua sistem perhitungan dalam perdagangan sudah mempergunakan euro. Mata uang itu saat ini bukan hanya berlaku dalam transaksi antar bank atau dalam sistem akuntansi perusahaan saja, tetapi juga dalam hubungannya dengan masyarakat langsung.
Laporan rekening bank seseorang sekarang sudah dibuat dalam dua perhitungan: euro dan unit setempat seperti frank atau mark dll. Daftar harga di toko atau supermarket, tarif hotel atau kereta api, semuanya ditampilkan dalam dua mata uang. Seorang pejabat ECB mengatakan, dua tampilan itu “bukan berarti euro akan berlaku menggantikan mata uang setempat. Yang benar, euro sudah berlaku. Frank atau mark hanya unit-unitnya saja.”

Kuat, atau lemah?
Pertanyaan lain yang sering muncul, mungkin karena sindrom terpuruknya rupiah, adalah apakah euro akan melemah atau menguat. Ketika pertanyaan ini diajukan, para pengamat ekonomi maupun pejabat Komisi Eropa atau ECB umumnya menjawab dengan senyum penuh makna.
Menurut mereka, kuat atau lemahnya euro sama sekali bukan isyu utama yang harus dipikirkan. Sebab, bagi mereka yang terpenting adalah mengintegrasikan perekonomian Eropa. Dengan integrasi itu, volume perdagangan internasional dipangkas drastis. Sebelum perekonomian mereka terintegrasi, rata-rata porsi perdagangan internasional setiap negara mencapai sekitar 40% dari PDB. Tapi setelah integrasi, perdagangan dengan kawasan di luar sona euro hanya sebesar 15% saja. Hal ini terjadi mengingat perdagangan antar negara dalam sona euro tidak lagi dihitung sebagai perdagangan luar negeri tetapi perdagangan dalam negeri. Pengaruh langsung dari perubahan itu adalah perubahan pada neraca pembayaran luar negeri.
Kalau pun dalam kenyataannya sekarang ini euro lebih murah dibanding 1 Januari 1999, buat mereka juga tidak masalah. Sebab, perekonomian mereka lebih saling bergantung antar negara itu sendiri ketimbang dengan pihak luar. Karena itu, ketika semua mata uang anggota euro sudah dipatok pada harga tetap terhadap euro dan satu terhadap yang lain, melemahnya (atau menguatnya) euro tak begitu menjadi masalah.
Kendati demikian kondisi euro yang lemah saat ini tetap saja punya arti, terutama bagi ekspor (ekspor berarti selalu keluar sona euro). (Ketika diluncurkan, satu euro masih berharga US$1,19. Tapi kemarin, nilai tukar euro jatuh ke US$0,94.) Ekspor negara-negara anggota euro menjadi lebih kompetitif karena biaya produksi yang lebih murah.
Tatapi menyangkut pertanyaan mengenai lemahnya euro saat ini, sejumlah pengamat toh memberikan jawaban juga. Jawaban mereka umumnya adalah keheranan, mengapa euro jatuh padahal ekonomi kesebelas anggotanya membaik. Inflasi di sona euro pada 1997 sebesar 1,6%, turun menjadi masing-masing 1,1% pada 1998 dan 1999. Sementara pertumbuhan ekonomi selama periode itu tercatat berturut-turut 2,3%, 2,7% dan 2,4%.
Beberapa pengamat ekonomi internasional sebelumnya sempat yakin euro akan menguat begitu diluncurkan. Pasalnya, faktor Asia, terutama Cina dan Jepang diduga akan banyak memborong euro sebagai cadangan devisa. Untuk melakukan itu, kedua negara mestinya harus melepas dolar AS untuk membeli euro. Artinya, pasok atas dolar AS akan meningkat seiring dengan peningkatan permintaan euro.
Prediksi ini muncul mengingat Cina dan Jepang selalu dipersepsikan sebagai kekuatan yang tak mau hanya mengarahkan orientasinya pada AS. Sementara itu sangat jelas, sejak 1997 kalangan pejabat teras AS dan Eropa datang silih berganti ke Cina dan Jepang, yang ditengarai sebagai upaya kedua kawasan berebut tempat di Asia.
Sementara itu pada sisi porsi sona euro pada perdagangan dunia sebenarnya cukup signifikan. Dengan penduduk 300 juta, kontribusi sona euro terhadap perekonomian dunia tercatat 19,4% dibanding 19,6% PDB AS dan 7,7% PDB Jepang. Namun dari sisi perdagangan posisi Eropa lebih strategis dengan menyumbang 18,6% perdagangan dunia dibanding 16,6% sumbangan AS dan 8,6% sumbangan Jepang. Dengan demikian ‘posisi tawar’ euro dalam perdagangan cukup tinggi sehingga mestinya euro akan kuat.
Namun dalam kenyataannya euro sekarang lebih lemah ketimbang pada saat diluncurkan 1 Januari 99. Tidak ada penjelasan apapun menyangkut kemungkinan permintaan dari Asia tersebut.
Pertanyaannya adalah, apakah saat bank note dan koin euro nanti diluncurkan akan berdampak pada permintaan sehingga euro akan menguat? Kalangan pejabat ECB menolak spekulasi itu dengan mengatakan, saat ini euro sudah ada di pasar kendati unitnya adalah frank, guilder, mark atau lira. Artinya penawaran dan permintaan atas euro sudah ada. Setiap bank sentral yang memiliki portofolio cadangan dalam bentuk frank atau lira, sesungguhnya mereka memiliki portofolio dalam euro pula.
Dengan demikian, menurut pejabat yang tak mau disebut namanya itu, tidak akan ada perubahan dramatis di sisi permintaan atas euro. Sebab, kebutuhan euro untuk cadangan juga tidak akan serta merta meningkat, sebab transaksi ekspor-impor tetap akan berjalan pada jalur dan kecenderungan alamiahnya.
Karena itu sembari bercanda dia mengatakan, “Peningkatan permintaan justru akan terjadi pada mata uang lama. Untuk koleksi.” (her)

Tags: ,

Tulis Komentar