Jasa Ghostwriting

Apa Itu Ghostwriting?

Ghostwriting adalah proses menulis (menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan) dengan bantuan orang lain. Misalnya Anda punya gagasan tetapi tidak bisa atau tidak punya waktu untuk menulis, maka Anda bisa menyewa jasa seorang ghostwriter untuk membantu.

Kalau begitu, siapa yang berhak atas karya tulis tersebut?

Yang punya hak atas tulisan tersebut adalah yang mempunyai ide. Dalam Bahasa Inggris ada istilah yang lebih tepat dalam hal ini, yakni author. Yang berstatus sebagai author adalah yang memiliki ide. Sedangkan yang menuangkan gagasan disebut penulis.

Apakah setiap buku atau artikel ditulis dengan cara demikian?

Tentu saja tidak. Ada orang yang memiliki gagasan bagus sekaligus mempunyai kemampuan menulis yang baik. Sebagian besar buku dan artikel yang ada di toko buku dan perpustakaan ditulis olah mereka yang mempunyai kemampuan ganda ini.

Tetapi ada banyak orang yang memiliki banyak ide cemerlang, analisa yang tajam, dan pengalaman yang sangat berharga tetapi tidak bisa, tidak biasa, atau tidak punya waktu untuk menulis. Sebaliknya, ada orang-orang yang ahli menulis, tetapi gagasan, ilmu, analisa atau pengalaman hidupnya tidak sehebat orang-orang yang pertama. Dalam banyak kasus kerjasama yang baik antar mereka bisa membuahkan karya-karya yang baik pula.

Siapa yang menggunakan jasa Ghost Writer?

Pendek kata siapa saja boleh. Tetapi dalam praktiknya orang yang menggunakan jasa Ghost Writer adalah mereka yang sungguh ingin membagikan ilmunya, analisanya, pengetahuannya, pengalaman hidupnya kepada masyarakat dalam bentuk tulisan, tetapi orang tersebut menghadapi satu atau beberapa kendala seperti: waktu yang terbatas, tidak biasa menulis, tidak bisa menulis, lebih mudah berbicara dibanding menulis dan sebagainya.

Apakah praktik seperti ini tidak melanggar etika?

Ini memang pertanyaan yang paling banyak diajukan. Tapi, omong-omong, etika mana yang Anda maksud?

Tapi oke, mari kita lihat contoh-contoh ini dulu. Kalau Titik Puspa mengarang lagu kemudian suaminya, Mus Mualim yang menuangkannya dalam partitur, dan orang lain lagi yang membuat aransemennya, pencipta lagu itu tetap Titik Puspa, bukan? Apakah itu berarti Titik Puspa dan Mus Mualim melanggar etika? Kalau seorang pematung merancang patung tembaga atau perunggu, kemudian orang lain yang mengecor logamnya, siapakah yang disebut pematungnya? Apakah ini juga melanggar etika?

Bagaimana dari sisi hukum? Apakah tidak ada pelanggaran?

Undang-Undang Hak Cipta menyatakan bahwa ketika satu karya dibuat atas pesanan dan untuk kepentingan satu pihak, maka karya tersebut menjadi milik pihak yang memesan, kecuali jika dinyatakan lain (melalui perjanjian).

Anda tertarik? Silakan hubungi kami di her@jurutulis.com atau telp di Nomor 0813 8427 5314


Telah Dibaca:2167

Leave a Reply

Your email address will not be published.