Lagi, BBM dan Inflasi

Oct 28th, 2008 | Oleh: Her Suharyanto | Kategori: Personal Finance, Surabaya Post

Saya dan istri saya sama-sama guru SMU swasta di Malang. Walaupun kami mengajar di sekolah swasta, jangan samakan gaji kami dengan gaji guru swasta di Jakarta. Sungguh, gaji kami pas-pasan. Karena itu kenaikan harga BBM awal Oktober lalu sungguh sangat berat buat kami. Rasanya, beban yang harus saya pikul lebih berat dibanding waktu krisis 1998. Yang pasti sekarang saya sudah “megap-megap” untuk urusan uang sekolah dua anak, cicilan rumah dan cicilan sepeda motor. Terpikir oleh kami untuk menghentikan cicilan sepeda motor. Tetapi artinya biaya transport untuk pergi pulang mengajar jadi lebih mahal ketimbang cicilan sepeda motor itu sendiri. Sama konyolnya kalau kami menjual rumah tinggal kami, karena uang kontrak yang diperlukan juga akan jauh lebih mahal dari cicilan rumah kami. Mohon saran dan masukan dari bapak-bapak.

Guritno Adi, Malang

Saya ingin menjawab pertanyaan Pak Guritno dengan mengutip moto terkenal, entah dibuat oleh siapa, yakni “Anda tidak bisa mengubah dunia, tetapi Anda bisa mengubah diri sendiri.”

Pak Guritno, saya yakin anda tidak sendirian dalam menghadapi kasus di atas. Cobalah anda bertanya kepada rekan-rekan guru, atau masyarakat di sekeliling rumah anda. Pasti ada begitu banyak orang yang menghadapi masalah serupa. Memang benar, ada sekelompok masyarakat kita yang relative tidak bermasalah, atau bahkan sama sekali tidak bermasalah dengan adanya kenaikan harga BBM tersebut.

Dengan kutipan di atas saya sekadar ingin mengingatkan, bahwa ada persoalan ekonomi yang sifatnya di luar kendali kita, tetapi ada juga bagian yang sepenuhnya berada dalam kendali kita. Masalah kenaikan harga BBM, yang diikuti dengan kenaikan harga hampir semua kebutuhan kita, adalah sisi yang sama sekali tidak bisa kita kendalikan. Aksi demo besar-besaran juga sama sekali tidak bisa menghalangi niat pemerintah menaikkan harga BBM. Dan setelah harga BBM naik, tidak satu pihak pun yang bisa meredam kenaikan harga kebutuhan yang lain.

Yang perlu diingat adalah, bahwa perubahan ini menyangkut dan berdampak kepada semua pihak. Jangankan kita, perusahaan-perusahaan besar pun akan terkena imbas dari kenaikan harga BBM tersebut.
Nah, kalau dunia kita memang sudah berubah sedemikian rupa, dan kita tidak bisa mengendalikannya, satu-satunya langkah yang bisa dilakukan adalah dengan mengubah diri sendiri. Ini juga menyangkut soal bagaimana mengelola keuangan rumah tangga. Kita tidak bisa mengubah harga BBM. Yang bisa kita ubah adalah perilaku ekonomi dan keuangan kita sehingga kita masih bisa mengatasi dampak dari kenaikan harga BBM tersebut.

Kalau dalam mengelola ekonomi rumah tangga kita berhadapan dengan sisi pendapatan dan pengeluaran, maka perilaku kita atas kedua sisi itulah yang perlu diubah. Pertanyaannya, bisakah kita mengubah diri kita agar pendapatan kita naik? Bisakah kita menekan pengeluaran? Saya yakin anda akan balik bertanya: dalam jangka pendek atau jangka panjang (termasuk menengah)?

Kita semua tahu, dalam jangka pendek pasti akan sulit bagi seorang karyawan untuk langsung membenahi sisi pendapatan keluarga. Untuk minta naik gaji dalam waktu dekat tentu tidak mudah, walaupun diharapkan pemberi kerja cukup memahami hal itu. Untuk berbisnis tentu juga tidak serta merta akan mendatangkan penghasilan dalam jangka pendek. Berbisnis mungkin baru akan mendatangkan penghasilan dalam jangka menengah, atau bahkan jangka panjang.

Karena itu satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah melakukan sesuatu dengan sisi pengeluaran. Memang sangat sulit, tetapi itulah satu-satunya yang bisa dilakukan. Persoalan yang terbesar di sini sebenarnya adalah faktor psikologis. Orang biasanya sulit untuk mengurangi kenikmatan yang sudah biasa diperolehnya. Keluarga yang makan siang dan makan malamnya dilengkapi dengan dua jenis sayur dan dua jenis lauk, tentu akan berat kalau harus makan dengan sayur dan lauk masing-masing satu jenis. Mereka yang terbiasa dengan kendaraan pribadi akan sulit untuk naik angkutan kota. Atau mereka yang terbiasa naik angkutan akan merasa tidak nyaman untuk jalan kaki.

Jadi, Pak Gurit, rasanya untuk sementara ini Anda sekeluarga tidak punya pilihan lain selain mengubah gaya hidup anda saat ini. Kalau Anda berpendapat gaya hidup anda sudah cukup sederhana, buatlah menjadi jauh lebih sederhana lagi. Nah, sementara langkah itu dilakukan, perlahan-lahan pak Gurit dan keluarga bisa mulai membenahi sisi pemasukan. Misalnya dengan berbisnis kecil-kecilan di rumah, kalau perlu dengan melibatkan anak-anak.
Selamat mencoba, Pak Gurit.

Tags: , ,

Comments are closed.