Kebutuhan Idulfitri

Oct 28th, 2008 | Oleh: Her Suharyanto | Kategori: Personal Finance, Surabaya Post

Hari Raya Idhul Fitri akan segera tiba. Seperti biasa, kami para ibu mulai harus berhitung dengan cermat bagaimana mengalokasikan gaji suami yang “tidak seberapa”, walaupun ada THR (tunjangan hari raya) untuk memenuhi kebutuhan yang otomatis akan meningkat. Belum lagi harga bahan bakar minyak (BBM) baru saja naik. Mohon saran, apa yang harus kami lakukan dalam situasi seperti ini?

Ny. Rosinah Malik
Surabaya

Ibu Rosinah yang baik, pertama-tama selamat, bahwa ibu mempunyai kesadaran yang sangat tinggi untuk merancang keuangan keluarga ibu dengan sebaik-baiknya. Juga selamat bahwa ibu bisa merumuskan dengan jernih persoalan riil yang sekarang ini dihadapi oleh sebagian sangat besar masyarakat kita.

Umat Muslim akan segera menyambut Hari Raya Idhul Fitri, dan beberapa saat kemudian Umat Nasrani akan merayakan Natal. Keduanya adalah momentum yang terkait dengan keimanan kita pada Yang di Atas. Jadi, sesungguhnya ini adalah urusan hati, urusan rohani. Idhul Fitri adalah perayaan kemenangan kita atas segala bentuk hawa nafsu duniawi. Sedangkan dalam Natal Umat Nasrani merayakan bahwa Tuhan hadir dan selalu ada bersama umat-Nya. Karena keduanya adalah momentum kegembiraan, wajar kalau kita semua merayakannya juga dalam bentuk lahiriah: pakaian yang lebih baik, makanan yang berbeda dibanding pada hari-hari biasa, hiasan rumah yang istimewa dan lain-lain.

Namun masalahnya adalah bahwa Idhul Fitri dan Natal kita kali ini kita rayakan beberapa saat setelah kenaikan harga BBM naik. Padahal kita tahu hukumnya, setiap kenaikan harga BBM selalu diikuti oleh kenaikan harga hampir semua kebutuhan kita. Padahal, tidak banyak di antara kita yang mengalami penyesuaian (kenaikan) gaji. Akibatnya memang diperlukan kemampuan ekstra untuk mengelola daya beli yang semakin kecil tersebut.

Berkenaan dengan itu saya ingin menyampaikan beberapa hal sebagai berikut. Pertama, marilah kita sadari kembali bahwa Idhul Fitri dan Natal adalah peristiwa yang harus dirayakan dengan sepenuh hati. Tetapi mari kita bertanya diri, apakah merayakan Idhul Fitri atau Natal dengan sepenuh hati harus dilakukan dengan pesta pora? Apakah kita tidak mungkin merayakan kemenangan keimanan itu tanpa pesta? Kalau memang merayakan peristiwa keimanan itu harus dengan cara bermewah-mewah? Saya bukan ahli agama, tetapi saya yakin para pemuka agama akan setuju kalau dalam masa ekonomi yang memprihatinkan ini kita merayakan Idhul Fitri dan Natal secara lebih sederhana.

Kedua, walaupun kita ingin merayakan hari raya secara sederhana, tetap saja kita memerlukan tanda-tanda lahiriah, bahwa kita sedang merayakan sesuatu. Karena itu kiranya kita perlu membuat prioritas, tanda lahiriah apa yang paling penting, dan mana yang kurang penting. Apakah pakaian baru untuk semua anggota keluarga merupakan prioritas? Atau cukup anak-anak saja yang dibelikan pakaian baru? Apakah dekorasi baru rumah diperlukan? Apakah sampai dengan pengecatan? Atau cukup dengan menata ulang posisi furniture dan hiasan? Apakah pesta perlu diadakan? Kalau perlu, apakah dengan mengundang 50 orang, atau cukup keluarga inti dan satu dua teman? Apakah merayakan Hari Raya di luar kota diperlukan? Kalau diperlukan, apakah harus menginap? Apakah harus di hotel mewah?

Akan lebih mudah kalau kita membuat perbandingan dengan tahun lalu. Lebih bagus lagi kalau Ibu Rosinah mempunyai data pengeluaran Idhul Fitri tahun lalu, sehingga Ibu bisa langsung membuat alokasi. Misalnya saja, belanja pakaian baru tak boleh labih dari Rp200.000. Kalau dana sebesar itu hanya cukup untuk dua orang putera-puteri ibu, mengapa tidak? Belanja pesta tak boleh lebih dari Rp100.000. Biaya rekreasi tak boleh lebih dari Rp200.000. Uang jajan tambahan untuk anak-anak tak boleh lebih dari Rp100.000. Saya yakin para ibu biasanya jago dalam urusan alokasi dana seperti ini.

Ketiga, Ibu mengatakan bahwa suami mendapatkan THR. Syukurlah kalau begitu. Tetapi pesan saya, marilah kita ingat bahwa kondisi ekonomi kita pada umumnya tidak terlalu menggembirakan. Saya, mungkin juga ibu, sulit percaya bahwa harga-harga akan turun setelah Idhul Fitri dan Natal. Karena itu coba alokasikan sebagian yang cukup besar dari THR untuk cadangan atau tabungan. Justru ketika situasi tidak menentu, tabungan sangat kita butuhkan. Ketika anda sedang punya uang, betapa pun sedikitnya uang itu, sisihkanlah sebagian. Sebab kita tidak tahu kapan kita harus menghadapi kebutuhan yang sangat mendesak, dan biasanya tidak terduga datangnya.

Tags:

Tulis Komentar