Ignatius Haryanto
Jul 14th, 2006 | Oleh: Her Suharyanto | Kategori: Kepenulisan, Profil“Kalau di musik ada duo penyanyi bernama ratu, di pelatihan model ini kami berdia ini Raja,” paling tidak dua kali Ignatius Haryanto melontarkan guyonan itu, dalam kesempatan yang berbeda. Dalam beberapa tahun terakhir aku memang mendapat kesempatan untuk bekerjasama dengan Ignatius Haryanto, khususnya dalam hal pelatihan jurnalistik. Kami bekerjasama di sejumlah pelatihan, mulai dari para pelajar SMP, SMU, Mahasiswa, sampai para pastor dan para wartawan profesional. Tempat training pun “terbentang” dari Palembang sampai ke Ambon. Dari proyek tengkyu sampai yang honornya gede, hehe…
Aku kenal Kumkum, begitu dia dipanggil oleh orang-orang terdekatnya, sejak tahun 1988. Ketika itu aku ditugasi untuk menjalani tahun orientasi pastoral, yaitu tahun kerja lapangan untuk para mahasiswa calon pastor (ngaku: dulu sempet pengen jadi pastor), di Paroki St. Stefanus Cilandak. Di sana aku kenal Kumkum. Waktu itu dia adalah salah satu aktivis paroki, dengan tugas sebagai seksi Komsos. Bikin majalah, itulah tugasnya. Kebetulan sekali aku juga minat di dunia tulis menulis, jadi ya cocok saja.
Maka ketika KKMK menyelenggarakan pelatihan jurnalistik untuk kaum muda se-KAJ, aku pun ikut bersama Kumkum, dan dua teman cewek dari Stefanus. Puluhan mudika sekeuskupan ngumpul di Taman Wiladatika Cibubur. Tampil sebagai trainer antara lain: Alex Dungkal dari Media Indonesia, Neni dari Suara Karya, St. Sularto dari Kompas…. duh … menyenangkan sekali bertemu dengan para wartawan profesional. Untuk saya khususnya, mereka sungguh orang-orang hebat. Tahun 1989 aku kembali ke Yogya untuk melanjutkan studi.
Hubungan dengan Kumkum terus berlanjut dengan surat menyurat. Pendek kata masih saling berkabar mengenai perkembangan masing-masing, terutama di dunia penulisan.
Akhirnya tahun 1991 aku hijrah ke Jakarta setelah memutuskan untuk “balik kanan” dari rencana jadi pastor. Sempat malang melintang di production house sebagai penulis naskah radio dan televisi, akhirnya aku bergabung di satu media, Indonesia Business Weekly. Tak lama kemudian aku tahu, Kumkum bergabung dengan majalah Forum Keadilan. Maka bertemulah kami kembali di lapangan, kini sebagai sesama jurnalis. Hanya saja, dia banyak di bidang sosial dan hukum, aku lebih banyak di ekonomi.
Beberapa tahun menjadi jurnalis, Kumkum mengambil inisiatif untuk membangun LSPP (Lembaga Studi Pers dan Pembangunan), dia juga mengajak aku. Di sana aku kenal Budiman Tanuredjo, Satrio Arismundandar, Yoedha (Kompas), Harry Baskara (The Jakarta Post), Benny K Harman (dulu Media Indonesia), Kastorius Sinaga (doktor baru dari Jerman) dan sejumlah teman lain. Tapi akhirnya aku sendiri mundur dari LSPP karena sulit untuk berbagi waktu dengan tugas kantor.
Begitulah pertemanan kami berjalan terus, sampai akhirnya dia bertanya, apakah aku tertarik untuk melatih anak-anak muda menulis. Tentu saja, jawabku. Maka kami mulai berbicara serius, termasuk mengundang beberapa teman lain yang mungkin tertarik. Dia mengundang teman-temannya di majalah Tempo (dia sudah bergabung ke Tempo) dan Warta Kota, aku mengundang teman-teman Bisnis Indonesia dan Antara. Kami membicarakan hal ini dengan pihak Komsos KWI, dan Romo Alex dari KWI menyambut baik rencana ini. Maka mulailah kami menyelenggarakan serangkaian pelatihan jurnalistik untuk kaum muda.
Kini pelatihan ini menjadi satu komunitas yang lebur, kendati sebelumnya terdiri dari para mentor dan peserta pelatihan. Agenda-18, demikian nama komunitas ini. Hingga kini kami masih sering berkumpul untuk berdiskusi, dengan maksud mengasah ketajaman berpikir, sesuatu yang sangat penting untuk para penulis.
Setelah kegiatan ini, kami memang sering diundang mengisi pelatihan di berbagai tempat. Ada kalanya Kumkum yang diundang lantas mengajak aku (kebanyakan begitu), ada kalanya aku yang diundang, dan partner yang cocol ya Kumkum. Salah satu program besar yang kami tangani bersama, ditambah dengan teman kami Hasudungan Sirait, adalah pelatihan untuk para wartawan di Ambon. Bukan main-main, kami harus melatih puluhan wartawan di lima media lokal Ambon. Juli ini kami juga akan mengisi pelatihan di Kupang dan Mataram.
Tentu saja “reputasi” Kumkum tidak hanya sebatas hubungannya dengan aku. Di luar sana dia dikenal sebagai pakar media. Reputasinya diakui oleh dunia internasional, sampai beberapa kali diundang untuk berbicara di forum-forum internasiona. You are the best, man…