HM Sampoerna, Contoh Sempurna Usaha Rumahan

PT Hanjaya Mandala Sampoerna adalah contoh paling sempurna betapa sebuah usaha rumahan, dengan jatuh bangun yang menyakitkan, akhirnya bisa menjadi perusahaan besar, bukan hanya di tingkat nasional tetapi juga di tingkat global. Betapa tidak, perusahaan ini bermula dari usaha pinggir jalan dalam arti sesungguhnya, dan kini menjadi perusahaan publik dengan laba bersih triliunan rupiah per tahun.

Ketika tahun 1898 bersama ayah dan kakak perempuannya meninggalkan Provinsi Hokian di daratan Cina menuju Surabaya, Liem Seeng Tee pasti tidak membayangkan bahwa dari tangannya akan lahir perusahaan publik sebesar itu. Di masa praremajanya, ketika berjualan makanan di kereta api Surabaya-Jakarta, mungkin dia juga belum bermimpi sebesar itu. Mimpinya hanyalah bisa membeli sebuah sepeda, supaya dia bisa berjualan di Surabaya dalam suasana yang lebih tenang. Mimpi itu terkabul, dan dia bisa berjualan arang dengan sepeda tua, satu langkah yang mempertemukannya dengan Tjiang Nio yang kemudian dipinangnya menjadi istri.

Tetapi dalam sejarah hidupnya kemudian terlihat bahwa sesungguhnya pasangan Seeng Tee dan Tjiang Nio ternyata mempunyai mimpi besar. Pasangan yang menikah tahun 1912 ini mulai merajut mimpi dengan membuka usaha warungan di pinggir jalan di Surabaya. Warung itu disewa dengan tabungan hasil kerja Seeng Tee di pabrik rokok di daerah Lamongan, 45 kilometer di sebelah barat Surabaya. Suami istri ini berjualan aneka bahan makanan dan tembakau, sementara Seeng Tee yang sudah menjadi “ahli tembakau” kembali mengayuh sepeda keliling kota, untuk berjualan tembakau.

Usaha ini sempat maju ketika jalan raya di depan rumah dilebarkan, sehingga jalanan menjadi ramai dan pelanggan meningkat. Tetapi perkembangan pertama ini langsung dihantam oleh pukulan pertama: gubug tempat tinggal keluarga muda ini dilalap si jago merah, musibah yang di kemudian hari ternyata masih akan datang lagi mengganggu keluarga ini.

Tidak menyerah pada hambatan, pasangan ini kembali bekerja keras melanjutkan usahanya. Dan tak lama kemudian ternyata perkembangan tahap kedua datang: sebuah usaha perdagangan tembakau bangkrut, dan Seeng Tee ditawari untuk membeli unit usaha itu dengan harga murah, tetapi harus dilunasi dalam waktu kurang dari 24 jam. Seeng Tee merasa beruntung sekali, karena kesempatan yang tak mungkin muncul lagi itu berhasil diraihnya, karena diam-diam istrinya menabung pada salah satu tiang bambu rumahnya. Di unit usaha inilah Seeng Tee berkesempatan memamerkan keahliannya sebagai peracik tembakau yang sangat andal. Di sini suami istri yang kemudian dikaruniai dua putra dan tiga putri ini melayani pesanan rokok dengan aneka citarasa, menggunakan mesin pelinting sederhana.

Tampaknya pasangan ini tidak puas dengan keadaan tersebut, dan bertekad untuk mengembangkan usaha itu menjadi lebih besar lagi. Langkah pertamanya adalah membentuk badan hukum dengan nama Handel Maatschappij Liem Seeng Tee, yang di kemudian hari diubahnya menjadi Handel Maatschappij Sampoerna (dan setelah Perang Dunia II, berubah lagi menjadi PT Hanjaya Mandala Sampoerna). Perusahaan ini memproduksi rokok dengan aneka macam merek dagang seperti “Dji Sam Soe”, “123”, “720”, “678”, dan “Djangan Lawan”. Semua merek itu ditujukan untuk beragam segmen pasar, tetapi andalannya adalah Dji Sam Soe yang membidik segmen pasar premium, dengan logo dan kemasan yang dipertahankan hingga sekarang.

Perusahaan itu makin lama makin besar, dan menjelang pendudukan Jepang sudah memiliki 1300 orang karyawan yang bekerja dua sif, dengan produksi lebih dari tiga juta batang rokok per minggu. Pabriknya semakin besar, dan pasarnya semakin kokoh, khususnya untuk daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Yang menarik adalah, waktu itu Seeng Tee sudah menerapkan konsep zero inventory, demi efisiensi dan mencegah kebocoran.

Namun malang tak dapat ditolak. Tahun 1942 Jepang mendarat di Surabaya, dan dalam waktu kurang dari enam jam, Seeng Tee ditangkap dan dibawa ke Jawa Barat untuk menjalani kerja paksa, sementara keluarganya lari dalam persembunyian. Tak diketahui kemana larinya harta milik keluarga dan perusahaan. Tetapi yang pasti, setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, harta Seeng Tee yang masih tersisa tak lebih dari keluarganya sendiri dan merek dagang “Dji Sam Soe”.

Tidak ingin terlalu lama larut menyesali kehilangan itu, Seeng Tee kembali memulai usahanya, dan kembali mengusung merek “Dji Sam Soe” ke pasar. Perlahan tapi pasti usahanya kembali berkembang, kapasitas produksinya semakin baik, dan pasar mulai kembali berhasil dikuasainya. Akan tetapi mirip sebuah dongeng, hambatan kembali muncul, kali ini dari iklim politik berupa suburnya perkambangan ideologi komunisme, yang berhasil memutuskan hubungan kekeluargaan yang selama ini berhasil dirintisnya dengan para karyawannya. Sedemikian dahsyat penyusupan komunisme di dalam pabriknya, sehingga Seeng Tee tak bisa mengunjungi pabriknya untuk menyapa para karyawannya, hingga ajal menjemputnya.

HM Sampoerna mengalami kesulitan besar sepeninggal Seeng Tee, ketika usaha itu dikelola oleh dua putri Seeng Tee (Sien dan Hwee) dan menantunya, yakni suami kedua putrinya tersebut. Kesulitan besar itu muncul karena datangnya investor asing yang masuk ke Indonesia membangun industri rokok putih dengan teknologi linting mesin. Sementara itu dua putra Seeng Tee, Sie Hua dan Swie Ling, tidak tertarik meneruskan usaha HM Sampoerna. Sie Hua, si sulung, lebih suka membuka usaha tembakau, sedangkan adiknya, Swie Ling, membuka pabrik rokok di Denpasar dengan merek Panamas, yang produksinya ternyata ikut menggerogoti pasar HM Sampoerna di Jawa Timur.

Khawatir akan nasib HM Sampoerna, Sie Hua akhirnya menyurati adiknya, dan memintanya untuk mengambil alih perusahaan itu, karena dia merasa usahanya sendiri tidak bisa dilepaskannya begitu saja. Gayung pun bersambut, Swie Ling menyanggupi permintaan itu, bahkan akhirnya juga memindahkan Panamas ke Malang, tak jauh dari HM Sampoerna. Swie Ling, yang kemudian selalu memperkenalkan diri sebagai Aga Sampoerna, kemudian dengan kekuatan penuh mencoba menghidupkan kembali HM Sampoerna sesuai dengan semangat besar ayahnya. Itulah yang merupakan awal kebangkitan baru HM Sampoerna

Di tangan Aga Sampoerna perusahaan itu semakin berkibar. Di awal tahun 70an, seiring dengan masuknya Putera Sampoerna, putera Swie Ling atau Aga Sampoerna, ke jajaran manajemen, perusahaan terus berkembang pesat. Jumlah karyawan sudah mencapai 1200 orang, dengan produksi 1,3 juta batang rokok per hari. Tahun 1979 pabrik milik HM Sampoerna sempat kembali terbakar habis, tetapi dalam waktu 24 hari Dji Sam Soe sudah berhasil kembali mendatangi konsumennya. Aga Sampoerna meninggal dunia pada tanggal 13 Oktober 1995, meninggalkan perusahaan yang terus semakin maju pesat.

Ide untuk menjadi perusahaan publik adalah ide Putera Sampoerna yang awalnya tidak secara bulat diterima oleh keluarganya. Tetapi dengan penuh kesabaran Putera berhasil meyakinkan mereka, bahwa go public akan mengantar perusahaan itu ke tataran global, dan nilai absolut saham milik keluarga pasti akan meningkat setelah itu, satu keyakinan yang ternyata benar di kemudian hari. Kini perusahaan yang bermula dari unit usaha rumahan itu sudah berada di tangan generasi keempat, di bawah kepemimpinan Michael Joseph Sampoerna, dan telah menjadi salah satu perusahaan publik papan atas. Putera Sampoerna sendiri masih aktif sebagai presiden komisaris perseroan. Di tahun 2002 perusahaan ini mencatat laba bersih Rp1,67 trilyun, sementara penjualan tahun 2003 mencapai lebih dari Rp14 trilyun.

BOX:

1913
Liem Seeng Tee dan istrinya, Tjiang Nio, mendirikan perusahaan tembakau dan rokok bernama Handel Maatschappij Liem Seeng Tee yang kemudian berubah menjadi Handel Maatschappij Sampoerna dan setelah kemerdekaan menjadi Hanjaya Mandala Sampoerna.

1940
Perusahaan itu menjadi besar, dengan karyawan 1300 orang, dengan produksi tiga juta batang rokok per minggu. Sampoerna sudah menjadi jaya dengan produk Dji Sam Soe-nya. Perusahaan juga memiliki gedung pertunjukan modern di Surabaya.

1942
Jepang masuk ke Indonesia, dan Sampoerna diambilalih begitu saja. Seeng Tee ditangkap, sementara anak dan istrinya menyembunyikan diri.

1949
Perusahaan sudah kembali pulih. Dji Sam Soe kembali masuk pasar dan merebut hati pelanggan.

1956
Liem Seeng Tee, pencipta Dji Sam Soe, meninggal dunia karena serangan jantung, menyusul istrinya Tjiang Nio yang meninggal dua tahun sebelumnya.

1959
Perusahaan bangkrut karena komunisme berhasil memecah belah hubungan pekerja dengan pemilik. Di samping itu banyak investor asing masuk ke segmen rokok linting mesin.

1965
Perusahaan kembali bangkit di bawah pimpinan Swie Ling, yang kemudian dikenal sebagai Aga Sampoerna. Perusahaan kembali fokus pada rokok kretek linting tangan.

1973
Perusahaan sudah berkibar-kibar. Djie Sam Soe berhasil mendatangkan keuntungan US$2,4 juta per tahun ke kantong perusahaan.

1979
Taman Sampoerna, pusat industri rokok HM Sampoerna terbakar habis, tetapi manajemen berhasil memulai kembali produksi Dji Sam Soe 24 hari kemudian.

1990
HM Sampoerna melepas sahamnya ke publik dan mencatatkannya di Bursa Efek Jakarta.

Komentar

Telah Dibaca:866

Leave a Comment