Hasudungan P. Sirait

May 28th, 2006 | Oleh: Her Suharyanto | Kategori: Kepenulisan, Profil

Menyeramkan. Itulah kesanku ketika pertama kali melihatnya di Harian Bisnis Indonesia. Waktu itu dia adalah reporter Halaman Internasional harian itu, dan aku adalah reporter baru majalah Indonesia Business Weekly, unit usaha Bisnis Indonesia. Kami berkantor di gedung yang sama, lantai yang sama. Wisma Bisnis Indonesia lantai VI (sekarang Wisma Slipi). Kesan seram muncul dari postur tubuhnya yang tinggi-besar, dengan rambut gondrong yang diurai ala “Orang Gila dari Nazareth”. Untuk menyapanya pun rasanya aku segan.

Tegur sapa baru dimulai pada hari peluncuran novel “Para Priyayi” karya almarhum Umar Kayam di Halim Perdana Kusuma, tepatnya ketika pulang dari acara. Dia dan aku ikut nebeng mobil Savitri, salah satu reporter di Indonesia Business Weekly (IBW). “Nggak nyangka orang IBW tertarik sastra…” itu komentar yang meluncur dari mulutnya. Dan dari sana kami saling tahu bahwa masing-masing punya minat yang cukup tinggi pada karya-karya sastra, walaupun kami sama-sama bekerja di media ekonomi. Sesekali kami ngobrol soal sastra, dan aku menjadi salah satu peminjam buku-buku koleksinya yang minta ampun banyaknya. [Sampai saat ini dia masih ngotot aku belum mengembalikan bukunya yang berjudul "Animal Farm"-nya George Orwell. Padahal aku yakin banget buku itu sudah aku kembalikan, pasti lebih dari 10 tahun yang lalu].

Kami sering ngobrol bareng terutama seusai jam kantor… tentu saja lewat jam 10 malam, karena memang jam sebegitulah kamu pulang kantor. Kami sering melweatkan malam sembari makan mi instant rebus di pasar Slipi, dekat bioskop Prima, karena kami sama-sama kost di dekat kantor. Dia kost di belakang RS Harapan Kita, aku kost di belakang pasar Slipi.

Hubungan kami sempat “renggang”, karena dia dipaksa keluar dari harian Bisnis Indonesia karena aktivitasnya di Aliansi Jurnalis Independen, yang merupakan bentuk perlawanan sekelompok jurnalis terhadap bentuk represi dari Orde Baru terhadap kebebasan pers. Dia sempat menjadi “petinggi” di majalah DR, dan kemudian bekerja sebagai freelance hingga saat ini.

Sebagai freelancer keunggulan Bang Has, begitu dia dipanggil, adalah pada bidang training. Dia adalah orang yang sangat menguasai medan. Ibarat pemain sepak bola, dia bisa ditempatkan di mana saja, dan akan menjelajah ke mana saja. Hampir semua seluk beluk jurnalistik dia tahu, sehingga ketika ikut mendengarkan dia tampil, aku juga ikut banyak belajar dari dia. Tak mengherankan dia sering sekali mendapatkan banyak panggilan dari berbagai kota, termasuk Dili, Timor Lorosae.

Aku bekerjasama cukup intens dengan Has dalam satu seri pelatihan untuk para wartawan di Ambon. Tim kami semestinya terdiri dari empat orang, tetapi akhirnya yang berangkat hanya tiga orang, Has, Hari (Ignatius Haryanto) dan aku sendiri. Kami berangkat tiga kali, masing-masing selama 10 hari. Semula kami membagi diri menurut media: Has ke Suara Maluku, aku ke Info Baru dan Hari ke Ambon Express. Tetapi akhirnya Has juga membantu aku di Info Baru, khususnya untuk melatih para jurnalis baru. Aku memberi training untuk para jurnalis senior.

Tetapi kemudian ada perkembangan lain. Ternyata ada dua media yang mengharapkan kami juga memberi pelatihan untuk mereka. Kedua media itu Siwalima dan Ekspresi. Nah akhirnya kedua media itu kami keroyok rame-rame. Jurnalistik pada umumnya digarap oleh Hari dan Has, aku lebih fokus pada ekonomi, grafis dan foto.

Kerjasama dengan Has yang cukup intens juga terjadi sekitar Pemilu 2004. Kebetulan sekali kami bertiga, Has Hari dan Her (triple-H) dipercaya menjadi konsultan komunikasi untuk sosialisasi hasil pemilu. Alhasil kami harus ngantor di Hotel Borobudur selama dua periode, yakni pada waktu pemilu legislatif dan pilpres tahap 1. Ok, kawan… senang bisa berteman dan bekerjasama.

Tags:

Tulis Komentar