FX Rudy Gunawan

“Her, Gue di lapangan parkir. Lu bisa jemput gue nggak… nggak tahu tempatnya nih…” suara di seberang sana adalah suara FX Rudy Gunawan, dengan senang hati kusebut dia penyastra, di satu Sabtu pagi di lapangan parkir sekolah Santa Ursula BSD. Waktu menunjukkan pukul 10.20, padahal kami seharusnya sudah memulai rapat pukul 10.00.

Aku segera ke tempat parkir, mencari-cari. Karena kami memang belum saling kenal, maka aku yang kemudian menelepon. “Aku pake mobil Panther Hitam… apa? Di belakang Karimun biru? Oh… aku dah lihat kamu…”

Klise banget. Kami bersalaman. Baku tanya dan baku jawab layaknya pertemuan pertama. Mulai dari tempat kuliah, tahun kuliah, sempat kerja di mana saja dll… “Sama dong kita masuk Yogya-nya…” Tak usah kusebut tahunnya, tapi kebetulan kami masuk Yogya tahun yang sama. Dia di Fakultas Filsafat UGM, saya juga studi filsafat di tempat lain… Jl. Kaliurang Km 7.

Nama FX Rudy Gunawan buatku bukan nama asing. Reputasinya sebagai penyastra sudah kuketahui cukup lama. Bukan saja sebagai penyastra, aku juga “mengenal” dia sebagai orang yang memikiki kepekaan tinggi terhadap masalah-masalah sosial. Tetapi yang lebih membuatku “nanar” menyaksikan sepak terjangnya adalah setelah dia memimpin penerbitan baru, Gagas Media, di bawah payung Agro Media. Sama seperti induknya, Gagas Media adalah penerbit baru yang dengan sangat cepat melejit di belantara perbukuan di Tanah Air.

Pertemuan kami pagi itu bermula dari telepon Marsen Sinaga (aha, dia juga sarjana filsafat, tapi nggak puas, maka nambah kuliah hukum) yang lagi-lagi meminta aku memberi pelatihan jurnalistik selama empat hari di SMA Santa Ursula BSD. Setelah memintaku, Marsen bertanya, “Bung punya kontak teman yang bisa mengisi materi Creative Writing?” Aku punya beberapa calon, misalnya Ayu Utami, Maria Andriana, atau F Rahardi. Tetapi aku sendiri bertanya, nyambung nggak mereka dengan remaja-remaja kelas satu SMA?

Hari berikutnya aku sempat ngobrol dengan Ignatius Haryanto, dan hal ini kuutarakan padanya. “Eh, kenapa nggak Rudy Gagas?” Clink… kenapa telat mikir aku? Oke-oke… none better. Maka aku segera berburu nomor telepon, dan langsung kontak dia. “Bisa aja bung… aku seneng menularkan ilmu untuk para remaja… nanti aku bawa teman penulis remaja juga…”

Begitulah awalnya, kami berada dalam satu tim untuk mengisi pekan studi akhir tahun para siswa kelas satu SMA Santa Ursula BSD. Paket empat hari ini berisi empat materi: Reading & Writing, Social Research, Journalism, Creative Writing. Setiap tahun sekolah ini selalu menyelenggarakan acara serupa, dan tahun ini (2006) adalah kali ketiga aku diminta, untuk mengi materi tentang jurnalistik. Tim tahun ini terdiri dari Marsen Sinaga (koordinator sekaligus mentor untuk Social Research), Iman (Social Research), FX Rudy Gunawan dan Mia Miranda (Creative Writing), Nara Patrianila dan aku sendiri (Journalism).

Beberapa hari bergaul dengan Rudy semakin membuat aku tahu, dia bukan hanya penyastra, tetapi juga pendidik dan motivator yang andal. Pada akhir acara, pujian setinggi langit disampaikan oleh Alink yang memilih kelas Creative Writing. Kalau Alink memuji, aku yakin dia tulus, karena setahun aku mengenalnya di program Extra Kurikuler Jurnalistik di sekolah yang sama. Di Posko para mentor, Rudy juga terlihat sebagai orang yang mudah bergaul. Dengan aku bisa ngobrol serius, dengan Iman bisa menyedot rokok bareng sambil cekakakan, dengan para ibu guru dia bisa bercanda tanpa kehilangan rasa hormarnya. It’s great to know you man…

Komentar

Telah Dibaca:827

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.