<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Juru Tulis</title>
	<atom:link href="http://jurutulis.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jurutulis.com</link>
	<description>Ruang kerja virtual Her Suharyanto, penulis freelance, editor, dan trainer penulisan.</description>
	<pubDate>Tue, 09 Dec 2008 09:32:28 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Bankir Cantik di KRL Ciujung</title>
		<link>http://jurutulis.com/bankir-cantik-di-krl-ciujung.html</link>
		<comments>http://jurutulis.com/bankir-cantik-di-krl-ciujung.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 10:10:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel Populer]]></category>

		<category><![CDATA[Ekonomi Umum]]></category>

		<category><![CDATA[Pembelajar Dotcom]]></category>

		<category><![CDATA[Bank]]></category>

		<category><![CDATA[Sketsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurutulis.com/?p=411</guid>
		<description><![CDATA[Rabu sore  12 November saya naik KRL ekonomi AC Ciujung dari Tanah Abang menuju Serpong. Saya berdiri di gerbong paling belakang, dekat pintu. Ransel saya taruh di tempat bagasi, dan saya mencoba menyamankan diri dalam posisi berdiri.
Kereta belum bergerak. Seorang perempuan muda yang duduk dekat saya berdiri asyik bertelepon. Rupanya dia memanggil temannya untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rabu sore  12 November saya naik KRL ekonomi AC Ciujung dari Tanah Abang menuju Serpong. Saya berdiri di gerbong paling belakang, dekat pintu. Ransel saya taruh di tempat bagasi, dan saya mencoba menyamankan diri dalam posisi berdiri.<br />
Kereta belum bergerak. Seorang perempuan muda yang duduk dekat saya berdiri asyik bertelepon. Rupanya dia memanggil temannya untuk datang ke gerbong tempat dia duduk. Dan tak lama kemudian datang seorang perempuan lain, dugaan saya usianya lebih tua. Yang datang ini mengenakan blazer warna kuning kunyit (saya nggak tahu, itu seragam atau bukan). Karena tak mendapat tempat duduk, pandatang baru ini berdiri di depan temannya, tepat di samping saya berdiri.<br />
Tepat pukul 17.10 kereta yang lumayan penuh, tidak terlalu berdesakan, meninggalkan Tanah Abang.<br />
Tak lama kemudian kedua perempuan itu terlibat diskusi heboh, seolah tak ada orang lain di sekitarnya. Dari apa yang mereka diskusikan, saya menduga mereka bekerja di satu bank. Yang satu bercerita dengan bangga bahwa dalam beberapa hari terakhir dia panen nasabah deposito baru, dengan total angka ratusan miliar. Saya sepenuhnya percaya. Tadi pagi harian Kontan bercerita jumlah rekening tabungan dan deposito di atas dua miliar membengkak. Total jenis rekening ini tercatat naik Rp70 triliun dalam sebulan menjadi Rp673 triliun dari total dana perbankan di Indonesia yang sebesar Rp1.600 triliun.<br />
Perempuan yang berblazer juga bercerita mengenai pekerjaannya.<br />
Saya mencoba tidak terganggu oleh obrolan mereka. Toh ini tempat umum. Kalau pun mereka ngomongin rahasia dapur mereka, ya silakan sajalah. Toh mereka memang mau begitu.<br />
Tetapi akhirnya saya tersengat mendengar sharing si mbak berblazer, lebih dalam kapasitas saya sebagai salah satu nasabah bank. Saya coba rekonstruksi obrolan mereka, walau tentu saja tidak tepat benar.<br />
&#8220;Tahu nggak lu, kapan hari gue salah blokir kartu (saya nggak pasti kartu kredit, kartu debit, atau kartu ATM) nasabah,&#8221; katanya sambil ketawa cekikikan.<br />
&#8220;Loh, kok bisa sih,&#8221; kata perempuan yang duduk.<br />
&#8220;Si ibu itu kan punya dua kartu. Begitu dia minta satu kartunya diblokir, eh yang gue blokir kartu yang satunya,&#8221; kata si mbak berblazer.<br />
&#8220;Terus?&#8221;<br />
&#8220;Seminggu kemudian si ibu telepon. Dia tanya kok kartunya yang satu keblokir.&#8221;<br />
&#8220;Lu jawab apa?&#8221;<br />
&#8220;Dia kan nggak ngerti. Saya jawab gini, ‘Bu, maaf, waktu saya panggil nama ibu di komputer, saya langsung blokir begitu saja. Saya nggak tahu kalau ibu punya dua kartu.&#8221;<br />
&#8220;Si ibu marah?&#8221;<br />
&#8220;Nggak tuh, malah dia minta maaf. ‘Maaf ya mbak, ngerepotin&#8217;, dia bilang gitu.&#8221;<br />
Kedua perempuan itu pun tertawa berderai.<br />
Sedih rasanya mendengar sharing itu. Begini rupanya cara perempuan muda ini bekerja. Pertama jelas si blazer kuning kunyit melakukan kesalahan, dan kesalahannya menurut saya fatal, bukan hanya karena dia memblokir kartu yang tidak seharusnya diblokir, tetapi justru tidak memblokir kartu yang seharusnya diblokir. [Saya menulis ini justru karena hari ini, Jumat 14 November 2008, di harian Kompas ada surat pembaca yang berisi keluhan bahwa orang sudah memblokir kartu ATM-nya, tetapi pembobolan masih terjadi]. Kedua, dia tidak mengakui kesalahannya di depan nasabah, bahkan membohongi si nasabah.<br />
Rasa sedih belum hilang, dan kepala dipenuhi aneka macam tanda tanya ketika kereta berhenti di Stasiun Pondok Ranji. Kedua perempuan itu turun, dan saya mencari-cari tempat kosong, untuk menaruh pantat sekadar membuang penat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurutulis.com/bankir-cantik-di-krl-ciujung.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Experiential Marketing Tukang Ojek</title>
		<link>http://jurutulis.com/experiential-marketing-tukang-ojek.html</link>
		<comments>http://jurutulis.com/experiential-marketing-tukang-ojek.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 02:59:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel Populer]]></category>

		<category><![CDATA[Ekonomi Rumah Tangga]]></category>

		<category><![CDATA[SAJIAN UTAMA]]></category>

		<category><![CDATA[Sketsa]]></category>

		<category><![CDATA[Experiential Marketing]]></category>

		<category><![CDATA[Tukang Ojek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurutulis.com/?p=408</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah cerita teman lama saya, Beni namanya, yang tinggal di perumahan di pinggiran Jakarta.
Suatu pagi dia keluar rumah dengan mobil untuk mengantar istrinya ke terminal shuttle bus yang menghubungkan perumahan kami dengan sejumlah lokasi strategis di Jakarta. Teman ini sendiri seorang pekerja freelance yang sibuk, tapi selalu menyempatkan diri mengantar anak-anaknya ke sekolah dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah cerita teman lama saya, Beni namanya, yang tinggal di perumahan di pinggiran Jakarta.<br />
Suatu pagi dia keluar rumah dengan mobil untuk mengantar istrinya ke terminal <em>shuttle bus</em> yang menghubungkan perumahan kami dengan sejumlah lokasi strategis di Jakarta. Teman ini sendiri seorang pekerja <em>freelance </em>yang sibuk, tapi selalu menyempatkan diri mengantar anak-anaknya ke sekolah dan istrinya ke terminal, khususnya kalau tidak ada pekerjaan di luar kota atau luar negeri.<br />
Begitu roda mobilnya berputar, dia melihat Irma, tetangganya, baru saja menutup pintu pagar. Tumben berangkat pagi, begitu pikir teman saya. Biasanya Irma berangkat siang. Belum sempat melihat Beni, Irma sudah melambai ke arah tukang ojek yang mangkal di ujung tikungan. Sedetik kemudian, mobil Beni sudah berada di dekat Irma. Esther, istri Beni, langsung heboh berhai-hai dengan Irma. Dan apa yang terjadi?<br />
&#8220;Gue nebeng aja ya, ke terminal s<em>huttle bus</em>&#8230;&#8221; teriaknya. Kemudian dia berteriak kepada si tukang ojek, &#8220;Pak, maaf ya&#8230; nggak jadi.&#8221;<br />
Mobil pun bergerak. Tetapi sekejap kemudian Beni sempat beradu pandang dengan si tukang ojek. Ada rasa kecewa sekaligus rasa jengkel di mata tukang ojek itu. Bukankah juga ada sebersit rasa benci dalam tatapan itu? Begitu pikir Beni. Cara tukang ojek itu memandang terus terbayang di kepala Beni. Tiba-tiba saja dia merasa bersalah telah merampas rejeki tukang ojek. Padahal jangan-jangan  Irma adalah calon penumpang pertamanya, yang akan memberinya uang untuk membeli beras hari ini. Jangan-jangan dia sudah menunggu penumpang sejak subuh. Jangan-jangan sampai sore nanti dia tidak dapat penumpang&#8230;<br />
Terganggu dengan rasa bersalah itu, Beni memutuskan untuk menemui tukang ojek yang sering mangkal di dekat rumahnya itu. Dia menyiapkan uang sepuluh ribu rupiah untuk &#8220;ganti rugi plus&#8221;. Sebab tarif normal dari bloknya ke terminal shuttle bus adalah enam ribu rupiah.<br />
Di tikungan dekat rumahnya tukang ojek itu masih di sana, Ketika Beni lewat, mata tukang ojek itu memandangnya . Beni menerjemahkan pandangan itu sebagai teriakan, &#8220;Kamu sudah merampas rejeki anak istriku.&#8221;<br />
Maka Beni memilih tak menunda waktu. Begitu memarkir mobil, dia langsung mendekati si tukang ojek. Dengan setulus hati dia minta maaf, dan bermaksud memberi uang &#8220;ganti rugi plus&#8221; itu kepada si tukang ojek.<br />
Namun reaksi si tukang ojek sungguh di luar perkiraannya.<br />
&#8220;Kantongin aja deh pak,&#8221; katanya dengan wajah dingin.<br />
Tentu saja Beni kaget bukan main. Tapi dia berusaha tenang, dan terus berusaha bicara baik-baik dengan si tukang ojek. Dia yakin, si tukang ojek pasti akan memahami dan menerima niat baiknya. Hanya harus sabar.<br />
Benar, lama kelamaan si tukang ojek mau buka mulut, bahkan kemudian cenderung curhat. Selama ini, katanya, dia merasa warga kompleks Beni, terutama kaum ibu, cenderung menghindari dirinya. Kalau ada pilihan, warga kompleks, begitu istilah yang dia pakai, akan memilih tukang ojek lain, dan menghindari dirinya.<br />
&#8220;Mungkin karena tampang saya sangar, Pak. Tapi mau gimana lagi, tampang saya memang begini,&#8221; katanya.<br />
Tetapi hal itu tidak membuatnya surut langkah. Sebaliknya, dia justru berpikir bagaimana cara membuat para ibu dan remaja putri di kompleks itu merasa nyaman memakai jasanya. Wajah boleh sangar, tetapi sebagai penyedia jasa dia ingin profesional&#8230; begitulah kira-kira kalau kata-katanya diterjemahkan dalam bahasa bisnis.<br />
Menurut si tukang ojek, satu-satunya cara untuk menunjukkan bahwa dia tidak berbeda dengan tukang ojek lain, bahkan lebih baik, adalah metode <em>experiential </em>(ini bahasa saya). Ketika ada ibu-ibu yang terpaksa, karena tidak ada pilihan lain, untuk memakai jasanya, dia akan memanfaatkan kesempatan itu untuk membuktikan bahwa yang sangar hanya wajahnya.<br />
&#8220;Saya usahakan bawa motor setenang mungkin, nggak ngebut,&#8221; katanya. Dia juga akan memancing penumpangnya dengan obrolan ringan. Kalau penumpangnya senang ngobrol dia akan meladeni sekaligus untuk menunjukkan jati dirinya. Tapi kalau sang penumpang tidak suka ngobrol, dia akan diam, tetapi dia akan menjaga kesopanan dan keramahannya. &#8220;Saya satu-satunya tukang ojek yang nggak pasang tarif,&#8221; katanya.<br />
Beni menjadi lebih paham. Tukang ojek itu kecewa bukan semata-mata kehilangan uang enam ribu rupiah, tetapi kehilangan peluang melakukan<em> experiential marketing</em> dengan pelanggan potensialnya. &#8220;Ibu itu belum pernah pakai saya&#8230;&#8221; tuturnya.<br />
Maka Beni kemudian bilang, &#8220;Pak, tolong ini terima saja. Cuman ini. Tapi saya janji, saya akan bilang ke ibu-ibu kompleks ini tentang siapa sebenarnya Bapak.&#8221;<br />
Beni memenuhi janjinya. Sasaran promosi pertamanya adalah Esther, kemudian Irma, dan kemudian dua orang ini menjadi seperti aktivis MLM yang haus <em>downline</em>. Dan cerita bermuara pada <em>happy-endin</em>g, walau ini bukan bagian dari cerita film Hollywood.<br />
(Her Suharyanto, her@jurutulis.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurutulis.com/experiential-marketing-tukang-ojek.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Teror Ekonomi, Indikator Palsu IHSG</title>
		<link>http://jurutulis.com/teror-ekonomi-indikator-palsu-ihsg.html</link>
		<comments>http://jurutulis.com/teror-ekonomi-indikator-palsu-ihsg.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Oct 2008 11:58:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[SAJIAN UTAMA]]></category>

		<category><![CDATA[Ekonomi Umum]]></category>

		<category><![CDATA[Investasi]]></category>

		<category><![CDATA[Saham]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurutulis.com/?p=301</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah Anda menyaksikan film di mana banyak orang terbirit-birit ditodong perampok? Film tersebut ternyata drama komedi. Si penodong adalah seorang ayah yang kepepet karena anaknya sakit, dan senjata yang digunakan adalah pistol kosong tanpa peluru. Komedi itu sedang terjadi di banyak negara, termasuk Indonesia. Terorisnya adalah bursa saham, pistol kosongnya adalah indeks harga, korbannya adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah Anda menyaksikan film di mana banyak orang terbirit-birit ditodong perampok? Film tersebut ternyata drama komedi. Si penodong adalah seorang ayah yang kepepet karena anaknya sakit, dan senjata yang digunakan adalah pistol kosong tanpa peluru. Komedi itu sedang terjadi di banyak negara, termasuk Indonesia. Terorisnya adalah bursa saham, pistol kosongnya adalah indeks harga, korbannya adalah investor yang tak pernah berpikir soal pistol kosong, penontonnya adalah kita semua yang tegang karena, seperti umumnya penonton yang &#8220;baik&#8221;, mengidentifikasikan diri sebagai korban.</p>
<p>Teror itu datang ketika indeks-indeks harga saham di berbagai bursa, praktis di seluruh muka bumi ini, berjatuhan. Kolaps masal itu terjadi karena indeks saham-saham unggulan di altar bursa saham dunia, New York Stock Exchange, terjun bebas. Ada banyak penjelasan yang cukup masuk akal mengapa indeks Dow Jones Industrial Average terpuruk, tapi sulit mencari penjelasan yang sama terkait dengan indeks di bursa-bursa lain, kecuali karena alasan panik dan takut &#8212; efek psikologis utama orang-orang yang terteror. Di Indonesia kondisinya sama saja. Indeks-indeks bursa utama dunia menjadi teror tersendiri bagi sebagian investor, yang kemudian melakukan panic selling yang membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menukik tajam, dan teror yang lebih massif pun terjadi.</p>
<p>Indeks dibuat untuk dijadikan indikator pergerakan harga saham di satu bursa efek. Tetapi orang sering tak lagi membacanya sebagai sekadar indikator harga, tetapi sebagai indikator bursa. Sekilas tidak ada masalah di sana. Tetapi pergeseran tersebut bukan hanya secara teori tidak benar melainkan juga berbahaya. Sesuai dengan namanya, indeks (khususnya IHSG) hanya menjadi indikator harga, padahal secara teori bursa tidak bisa hanya dilihat dari sisi harganya, karena di sana masih ada banyak variabel lain seperti investor (siapa saja mereka dan berapa jumlahnya) serta nilai dan volume transaksi.</p>
<p>Potensi penyesesatan indeks (mari kita spesifikkan ke IHSG) bisa dilihat dengan contoh hipotetis ekstrim berikut. Karena mempunyai nilai kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia, saham Telkom memiliki kontribusi terbesar terhadap IHSG. Artinya setiap pergerakan harga saham Telkom besar sekali perannya terhadap perubahan IHSG. Sepanjang hari ini, misalnya Senin, saham tersebut sangat aktif diperdagangkan, melibatkan banyak investor dalam dan luar negeri, dengan volume transaksi yang sangat besar pula. Katakan saja sepanjang hari itu harga saham bergerak pada rentang Rp 8.000 - Rp8.200. Kalau sampai penutupan pasar terus bergerak seperti itu, dan harga-harga saham lain juga kurang lebih demikian, maka IHSG hari itu akan naik atau turun, katakan saja sekitar 1%-2%. Tetapi apa yang akan terjadi kalau sedetik sebelum penutupan ada satu transaksi super kecil oleh investor iseng, misalnya satu lot, dengan harga Rp10.000, dan itu menjadi transaksi terakhir hari itu? Tak pelak lagi, IHSG hari itu bisa melejit di atas 10%. Sebaliknya kalau ada yang melakukan hal yang sama pada harga Rp 6.000, maka IHSG berpotensi jatuh di atas 10%. Intinya, secara teori, (1) harga saham satu perusahaan bisa digerakkan oleh pemicu kecil, dan (2), pergerakan harga satu saham bisa menggerakkan indeks secara dramatis.</p>
<p>Mungkin Anda mengatakan itu contoh konyol yang tidak mungkin terjadi. Tak apa, karena bukan contohnya yang penting, melainkan logika di baliknya. Yang lebih mungkin begini. Hari ini investor-investor besar memilih parkir, karena pasar sedang tidak menentu. Tapi pasar sibuk luar biasa oleh investor kecil yang panik. Coba jual di angka Rp8.000 nggak laku, maka dia obral, di angka Rp7.500. Tak lama kemudian harga segitu sudah tidak laku, maka mulai ditawarkan di bawahnya lagi dan seterusnya. Mengapa begitu? Karena orang panik, kemudian melakukan apa yang namanya cut loss (daripada kerugiannya berdarah-darah).</p>
<p>Hal seperti ini bukan hanya benar secara teori, tetapi itulah yang terjadi paling tidak di Bursa Efek Indonesia. Pada pekan kerontokan indeks (5-8 Oktober), volume dan nilai transaksi di BEJ sangat kecil dibanding biasanya. Pada tanggal 7 Oktober misalnya, nilai transaksi hanya sekitar Rp2 triliun, padahal pada 7 September mencapai Rp8 triliun. Bahkan pada 8 Oktober, nilai transaksi di BEI hanya dalam hitungan ratusan miliar saja. Yang mengerikan adalah bahwa sekecil apa pun nilai transaksinya, sesedikit apa pun yang melakukan transaksi, faktanya hal itulah yang membuat indeks harga saham terjungkal. Sialnya lagi, terjungkalnya indeks membuat semua orang seperti terteror bahwa ekonomi berada dalam bencana. Padahal (1) membaca indeks sebagai satu-satunya indikator sudah tidak tidak tepat, di samping itu (2) faktanya indeks jeblok lebih karena faktor psikologi massa.</p>
<p>Jadi ekonomi Indonesia baik-baik saja? Bursa kita baik-baik saja? Bukan itu soalnya. Soalnya adalah, marilah kita bersikap lebih proporsional dalam menyikapi keadaan. Yang de facto jeblok saat ini adalah ekonomi Amerika. Pengaruh langsung pada Indonesia adalah kemungkinan turunnya ekspor Indonesia ke negeri itu. Ekspor ke Eropa juga mungkin akan berkurang, karena Eropa sangat terpukul oleh krisis ekonomi di Amerika, karena ada hubungan yang lebih langsung terkait dengan saling-silang modal di kedua benua. Jadi, akan terkena pengaruh langsung adalah perusahaan-perusahaan Indonesia yang mempunyai ekspor ke Amerika atau ke Eropa. Tetapi jangan lupa bahwa Eropa Timur, Timur Tengah, Sub Sahara dan Amerika Latin relatif terisolasi dari krisis ini, sehingga ekspor ke kawasan itu masih akan bertahan dan bisa ditingkatkan.</p>
<p>Kedua, tidak semua produk ekspor Indonesia diekspor ke Amerika atau Eropa. Ada begitu banyak produk, terutama komoditas primer (belum diolah), yang pasar ekspor utamanya adalah justru negara-negara Asia, Eropa Timur, Afrika atau Amerika Latin. Sementara itu krisis ini sendiri &#8220;hanya sekadar&#8221; mengurangi ekspor ke Amerika dan Eropa. Jadi, ekspor tetap akan jalan, walaupun pertumbuhannya (bukan ekspornya) akan menurun (slowdown).</p>
<p>Alasan ketiga untuk lebih proporsional adalah bahwa pasar dalam negeri Indonesia luar biasa besarnya, hanya dikalahkan oleh Cina, India dan Amerika Serikat. Artinya, sejauh pemerintah dan Bank Indonesia mampu menciptakan kondisi yang memungkinkan, pasar dalam negeri akan menjadi peredam kejut (shock-breaker) yang cukup efektif. Modal itu itu ada. Total dana masyarakat dalam sistem perbankan kita lebih dari seribu triliun rupiah. Sementara itu dana nganggur di Bank Indonesia dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia jumlahnya lebih dari seratus triliun. Hanya tinggal pilihan Bank Indonesia untuk mempermudah kredit (bunga rendah) atau mempersulit kredit (bunga tinggi). [Pilihannya "sederhana", kalau bunga rendah memang ada bahaya inflasi, tapi ekonomi jalan. Sementara kalau bunga tinggi inflasi memang rendah, tapi ekonomi mandek.]</p>
<p>Jadi apa poinnya? Sederhana saja: tak usah terlalu panik. Memang ada persoalan, tapi tak sedahsyat yang kita bayangkan. Memang ada teroris, dan teroris itu membawa pistol. Tapi saya optimis itu pistol kosong, dan yang lebih pasti teroris itu tak membawa bom atau senapan mesin. Dan perlu diingat, teroris mencatat sukses pertama tepat ketika kita mulai merasa takut. (Her Suharyanto, dimuat di <a href="http://www.pembelajar.com">www.pembelajar.com</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurutulis.com/teror-ekonomi-indikator-palsu-ihsg.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Evaluasi Dulu, Rencanakan Kemudian</title>
		<link>http://jurutulis.com/evaluasi-dulu-rencanakan-kemudian.html</link>
		<comments>http://jurutulis.com/evaluasi-dulu-rencanakan-kemudian.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2008 11:05:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>

		<category><![CDATA[Personal Finance]]></category>

		<category><![CDATA[Surabaya Post]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurutulis.com/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[Sejak empat tahun terakhir, setiap awal tahun saya dan suami selalu berusaha membuat perencanaan keuangan keluarga. Ada beberapa perencanaan yang terlaksana, tetapi ada juga perencanaan yang gagal. Sering kali ada keadaan tak terduga yang datang tiba-tiba, entah anak sakit atau kenaikan harga BBM seperti yang baru lalu. Bagaimana sebaiknya membuat perencanaan keuangan dalam satu tahun? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sejak empat tahun terakhir, setiap awal tahun saya dan suami selalu berusaha membuat perencanaan keuangan keluarga. Ada beberapa perencanaan yang terlaksana, tetapi ada juga perencanaan yang gagal. Sering kali ada keadaan tak terduga yang datang tiba-tiba, entah anak sakit atau kenaikan harga BBM seperti yang baru lalu. Bagaimana sebaiknya membuat perencanaan keuangan dalam satu tahun? Mungkinkah membuat perencanaan keuangan tanpa meleset? Atau, bagaimana agar perencanaan keuangan tidak meleset terlalu jauh?</em></p>
<p><strong>Salam,<br />
Iswanti Surono, Gresik</strong></p>
<p>Senang sekali membaca bahwa ibu dan suami sudah mempraktikkan perencanaan keuangan tahunan. Saya baru membaca satu artikel yang mengatakan, jadilah jenderal dan panglima bagi diri anda sendiri. Jangan jadi prajurit bagi diri sendiri. Maksudnya, dalam hidup, andalah yang jadi penentu, jangan jadi &#8220;korban&#8221; yang harus ikut saja apa yang terjadi di luar sana. Seorang jenderal dan panglima adalah perencana sekaligus pengambil keputusan, sedangkan seorang prajurit hanya mengikuti perintah.</p>
<p>Ketika membuat perencanaan keuangan, sesungguhnya anda telah menjalankan satu fungsi seorang jenderal atau panglima. Tetapi ada satu lagi yang biasa dilakukan oleh seorang panglima atau jenderal, yaitu menentukan agar rencana itu dilaksanakan. Ada satu pepatah yang mengatakan, tidak ada orang yang membuat rencana untuk gagal, tetapi kebanyakan orang gagal membuat perencanaan. Seorang panglima bukan hanya harus berhasil membuat perencanaan, tetapi harus memastikan bahwa rencana itu terlaksana.<br />
Tetapi apakah perencanaan seorang jenderal selalu sukses? Belum tentu, karena masih ada faktor X yang ada di luar perkiraan dan di luar kendali sang jenderal.</p>
<p>Bisa jadi sang jenderal salah menghitung jumlah persenjataan musuh, atau kekurangan informasi mengenai teknologi yang dikuasai musuh. Kalau jenderal itu kalah perang, maka evaluasinya harus jeli. Yang buruk perencanaannya, atau pelaksanaannya? Perencanaan yang baik tetapi pelaksanaannya buruk akan membuat jenderal itu kalah perang. Sebaliknya, sehebat apapun bala tentara pelaksana di lapangan, kalau perencanaannya buruk, sangat besar kemungkinan pasukan itu akan kalah.</p>
<p>Sama halnya dalam hal perencanaan keuangan. Bu Iswanti punya bahan yang bagus, yakni perencanaan keuangan selama empat tahun terakhir. Apakah ibu juga mencatat pelaksanaannya? Kalau ya, maka akan mudah bagi Ibu Iswanti dan keluarga membuat evaluasi, di mana sesungguhnya letak kesalahan yang dilakukan. Dari berbagai pengalaman, perencanaan keuangan menjadi meleset bukan karena perencanaannya yang buruk, tetapi orang tidak tekun dan disiplin pada perencanaan itu. Orang sudah membuat perencanaan bahwa belanja dapur Rp800.000 satu bulan. Tetapi begitu harga beras, gas dan minyak goreng naik, uang Rp800.000 tidak lagi cukup. Mengapa? Karena pola belanja keluarga itu lebih mengacu pada pengalaman yang lalu, bukan pada perencanaan.</p>
<p>Kalau belanja beras biasanya 15 kilo dengan merek Rojo Lele, maka belanja saat ini pun tetap sama. Seorang perencana yang disiplin akan mencari siasat, agar uang Rp800,000 yang dialokasikan tetap cukup untuk kebutuhan dapur. Misalnya saja, kualitas beras diturunkan, atau dicari pengganti karbohidrat yang lebih murah. Belanja minyak goreng bisa tetap 4 liter dengan kualitas yang lebih rendah, atau volume pembelian dikurangi, dengan risiko goreng-gorengan untuk keluarga dikurangi.</p>
<p>Namun masalahnya, disiplin terhadap perencanaan sering bukan hanya dikacaukan oleh kenaikan biaya hidup, tetapi juga oleh kenaikan pendapatan. Kalau tiba-tiba ada uang ekstra masuk, entah dari bisnis sampingan atau dari bonus kerja, orang biasanya menjadi gatal dan lupa pada perencanaan yang sudah dibuat. Begitu ada dana segar, orang tiba-tiba merasa punya kebutuhan untuk mengganti televisi atau membeli home theater, padahal di awal tahun sama sekali tidak ada perencanaan untuk itu.</p>
<p>Nah, sekarang, berdasarkan evaluasi tadi, Ibu dan suami bisa membuat perencanaan yang baru. Di sinilah saatnya membuat perubahan, kalau anggaran tahun lalu memang tidak masuk akal lagi. Kalau Rp800.000 tidak lagi cukup untuk belanja dapur, berapa angka yang masuk akal untuk tahun ini? Tentu saja faktor pendapatan tetap harus diperhitungkan.</p>
<p>Ada dua tips kecil yang semoga bermanfaat. Pertama, buatlah semua perencanaan maupun pelaksanaannya secara detil dan tertulis. Hal ini akan sangat berguna bagi kita untuk membuat evaluasi, agar perencanaan keuangan tahun berikutnya akan berjalan dengan lebih baik lagi.</p>
<p>Kedua, buatlah perencanaan harian. Artinya, setiap malam sebaiknya ibu dan/atau suami membuat perencanaan mengenai arus kas besok. Perencanaan harian ini tetap mengacu pada perencanaan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang yang kita buat sebelumnya. Dengan demikian kita bisa memonitor sekaligus mengendalikan pelaksanaan keuangan kita, sehingga kalau terjadi penyimpangan, maka penyimpangan itu tidak akan terlalu jauh.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurutulis.com/evaluasi-dulu-rencanakan-kemudian.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ngutang Untuk Beli Rumah</title>
		<link>http://jurutulis.com/ngutang-untuk-beli-rumah.html</link>
		<comments>http://jurutulis.com/ngutang-untuk-beli-rumah.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2008 10:57:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>

		<category><![CDATA[Personal Finance]]></category>

		<category><![CDATA[Surabaya Post]]></category>

		<category><![CDATA[Utang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurutulis.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[Saya dan suami mempunyai usaha kecil-kecilan, dengan penghasilan yang cukup untuk kebutuhan harian plus tabungan. Kami pernah mengajukan KPR di sebuah bank tetapi tidak dikabulkan karena saya tidak bisa menunjukkan bukti formal bahwa saya punya usaha (maklum, usaha kami hanya warungan). Padahal kami sangat membutuhkan rumah segera, dengan pertimbangan harga rumah akan terus semakin mahal. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Saya dan suami mempunyai usaha kecil-kecilan, dengan penghasilan yang cukup untuk kebutuhan harian plus tabungan. Kami pernah mengajukan KPR di sebuah bank tetapi tidak dikabulkan karena saya tidak bisa menunjukkan bukti formal bahwa saya punya usaha (maklum, usaha kami hanya warungan). Padahal kami sangat membutuhkan rumah segera, dengan pertimbangan harga rumah akan terus semakin mahal. Bagaimana solusinya?</em><br />
<strong>Murjilah, Gresik</strong></p>
<p>Sebelumnya selamat, bahwa Ibu Murjiah dan Suami sudah mempunyai usaha yang menguntungkan. Kami tidak tahu persis syarat apa yang tidak bisa ibu berikan kepada bank untuk mengajukan kredit pemilikan rumah. Jadi apa persisnya persoalan ibu memang tidak cukup jelas. Tetapi kami bisa memahami bahwa kalangan perbankan sering &#8220;rewel&#8221; dengan syarat administratif, yang tujuannya adalah untuk mengamankan kredit yang mereka berikan.</p>
<p>Tetapi ada satu langkah alternatif yang bisa diambil untuk merealisasikan pembelian rumah tersebut. Caranya adalah dengan mengajukan pinjaman kepada pihak lain, yakni mereka yang mengenal kita secara pribadi. Kalau perlu kita bisa mengajukan pinjaman kepada beberapa pihak sekaligus, misalnya orang tua, mertua, kakak, adik, tetangga, teman atau pihak lainnya lagi.</p>
<p>Untuk mengajukan pinjaman kepada mereka, kita harus menjamin dua hal. Pertama kita harus mampu meyakinkan bahwa uang mereka aman, dan kedua, kita harus meyakinkan bahwa imbal hasil untuk mereka cukup bersaing. Untuk yang pertama, ada hal yang menguntungkan. Orang-orang dekat tersebut pasti mengetahui bahwa Ibu Murjilah dan suami mempunyai usaha yang jelas, dengan keuntungan yang jelas. Kalau perlu, beri mereka kesempatan untuk melihat arus kas di rekening tabungan.</p>
<p>Tetapi untuk memberikan kepastian yang lebih tinggi, buatlah surat utang dengan saksi yang dipercaya oleh masing-masing pihak. Surat perjanjian utang itu antara lain berisi jumlah pinjaman, suku bunga, jangka waku pengembalian, dan kalau perlu juga jaminan (sertifikat rumah). Surat ini juga menyebutkan kepada siapa kita harus membayarkan utang kalau yang memiliki piutang meninggal. Memang urusan ini lebih mudah kalau kita hanya berutang pada satu pihak, sehingga hanya memerlukan satu surat.</p>
<p>Dengan surat perjanjian bermaterai, ditandatangani saksi, dan disertai dengan jaminan, kepercayaan calon kreditur akan meningkat. Paling tidak, mereka akan yakin uang mereka tidak akan hilang.</p>
<p>Yang kedua, mereka perlu mendapatkan insentif suku bunga yang bersaing. Berapa besar suku bunga yang bersaing itu? Yang pasti, menurut hemat kami, harus di atas bunga tabungan, bahkan di atas bunga deposito. Kalau kita pandai bernegosiasi, kita bisa mendapatkan utang di bawah bunga kredit bank. Misalnya bunga deposito sekarang 6,5%, dan bunga kredit rata-rata 11%, maka akan cukup menarik kalau utang tersebut berbunga 8%-9%. Dengan bunga sebesar itu pemilik uang mendapatkan bunga yang lebih tinggi dibanding bunga deposito, sedangkan kita bisa membeli rumah dengan bunga yang lebih rendah dibanding bunga kredit bank.</p>
<p>Bu Murjilah, selamat berburu pinjaman dari relasi terdekat. (Her Suharyanto)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurutulis.com/ngutang-untuk-beli-rumah.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Asuransi, Membisniskan Orang Mati?</title>
		<link>http://jurutulis.com/asuransi-membisniskan-orang-mati.html</link>
		<comments>http://jurutulis.com/asuransi-membisniskan-orang-mati.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2008 10:55:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>

		<category><![CDATA[Personal Finance]]></category>

		<category><![CDATA[Surabaya Post]]></category>

		<category><![CDATA[Asuransi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurutulis.com/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[Saya sudah membaca beberapa tulisan mengenai asuransi dalam rubrik ini. Tetapi saya punya beberapa masalah pribadi terkait dengan hal itu. Pertama ada seorang pemuka agama yang mengatakan bahwa Tuhan akan menjamin hidup kita, sehingga kita tidak perlu khawatir mengenai hidup kita. Kedua, saya kok merasa ada yang janggal bahwa kematian seseorang dinilai secara ekonomi. Saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Saya sudah membaca beberapa tulisan mengenai asuransi dalam rubrik ini. Tetapi saya punya beberapa masalah pribadi terkait dengan hal itu. Pertama ada seorang pemuka agama yang mengatakan bahwa Tuhan akan menjamin hidup kita, sehingga kita tidak perlu khawatir mengenai hidup kita. Kedua, saya kok merasa ada yang janggal bahwa kematian seseorang dinilai secara ekonomi. Saya sendiri terus terang merasa tidak nyaman &#8220;mendapatkan manfaat dari orang mati&#8221;. Atau, kalau saya mengasuransikan diri sendiri, saya merasa seperti mempertaruhkan hidup dan mati untuk sebuah perjudian. Bagaimana hal ini bisa dijelaskan?</em></p>
<p><strong>Pardi Oblong, Batu</strong></p>
<p>Bukan hanya anda, Pak Pardi, yang punya pemikiran seperti itu, tetapi banyak orang. Mengenai yang pertama, terus terang saya bukan ahli agama, jadi saya merasa bahwa jawaban saya lebih merupakan sharing saja. Menurut hemat saya, benar bahwa Yang di Atas akan menjamin hidup kita, dan menyediakan segalanya untuk kita. Tapi tidak berarti bahwa Dia menyediakan makanan, pakaian, dan tempat di depan kita begitu saja, bukan? Tetap saja perlu yang dinamakan ichtiar, atau usaha. Benar bahwa burung pipit tidak menanam, tetapi bisa makan. Tetapi bukankah burung pipit tetap harus terbang kesana kemari mencari biji-bijian yang ditanam petani atau disediakan oleh alam?</p>
<p>Yang saya tahu pasti, ada rumah ibadat yang diasuransikan. Di lain pihak, kita juga mengenal ada asuransi syariah. Kedua fakta ini bisa dibaca sebagai pesan bahwa asuransi tidak begitu saja diharamkan oleh agama. Untuk yang pertama sampai sini jawaban saya.</p>
<p>Mengenai yang kedua, benarkah asuransi telah membisniskan orang meninggal dunia? Menurut pendapat saya justru sebaliknya, Pak Pardi. Yang menjadi kepedulian bisnis asuransi justru orang-orang hidup. Asuransi boleh dikatakan justru dimaksudkan untuk menjamin mereka yang hidup, agar kualitas hidup mereka tidak turun apalagi hancur karena orang tempat mereka bergantung meninggal dunia.</p>
<p>Kalau anda mengasuransikan diri anda, bukan berarti anda dan perusahaan asuransi tengah membisniskan kematian anda. Sama sekali bukan. Sikap yang mesti diambil justru bahwa anda dan perusahaan asuransi tengah menandatangani kesepakatan bahwa para ahli waris anda tetap akan hidup sejahtera kalau suatu saat anda meninggal dunia. Dan memang itulah kenyataannya. Dalam asuransi jiwa yang sebenarnya mempunyai kepentingan ekonomi adalah para ahli waris anda, yakni istri dan anak-anak. Mengapa? Sebab bagi mereka andalah satu-satunya sumber ekonomi untuk hidup mereka. Kalau suatu saat anda meninggal pada saat mereka belum memiliki sumber penghasilan sendiri, apa yang akan terjadi dengan mereka? Bagaimana berapa asset yang anda wariskan kepada mereka? Cukupkah untuk biaya hidup, termasuk biaya pendidikan mereka?</p>
<p>Jadi yang sebenarnya yang menjadi poin utama adalah justru kualitas kesejahteraan para ahli waris itu. Asuransi justru dimaksudkan agar, kalau anda meninggal dunia, mereka tetap bisa hidup normal seperti ketika anda masih hidup. Mereka bisa hidup, bisa sekolah, tanpa harus menjual rumah tempat mereka tinggal, misalnya.<br />
(Her Suharyanto)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurutulis.com/asuransi-membisniskan-orang-mati.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bunga Naik, Saham Turun?</title>
		<link>http://jurutulis.com/bunga-naik-saham-turun.html</link>
		<comments>http://jurutulis.com/bunga-naik-saham-turun.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2008 10:53:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>

		<category><![CDATA[Personal Finance]]></category>

		<category><![CDATA[Surabaya Post]]></category>

		<category><![CDATA[Ekonomi Umum]]></category>

		<category><![CDATA[Investasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurutulis.com/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[Saya seorang karyawan swasta di Surabaya. Beberapa pekan terakhir saya banyak membaca bahwa suku bunga mulai naik, dan katanya itu dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga di Amerika. Benarkah demikian? Lantas ada beberapa teman mulai saling berdebat apakah harga saham akan naik atau turun. Apakah memang ada hubungannya?
Adi Sutrisno
Terimakasih Pak Adi, atas pertanyaannya. Saya agak yakin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Saya seorang karyawan swasta di Surabaya. Beberapa pekan terakhir saya banyak membaca bahwa suku bunga mulai naik, dan katanya itu dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga di Amerika. Benarkah demikian? Lantas ada beberapa teman mulai saling berdebat apakah harga saham akan naik atau turun. Apakah memang ada hubungannya?</em></p>
<p><strong>Adi Sutrisno</strong></p>
<p>Terimakasih Pak Adi, atas pertanyaannya. Saya agak yakin Pak Adi sudah mulai masuk ke dunia investasi, dan untuk itu saya ucapkan selamat. Pertama memang benar bahwa suku bunga sekarang cenderung naik. Bunga apa sih yang sebenarnya naik? Di Indonesia, kalau disebut suku bunga naik, umumnya yang dimaksudkan adalah suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). SBI adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia dengan cara dilelang, sekali dalam satu bulan. Dulu lelang dilakukan setiap pekan. Bank Indonesia melelang SBI dengan tujuan untuk mengendalikan jumlah uang yang beredar di pasar.</p>
<p>Jumlah uang perlu dikendalikan untuk menjaga inflasi. Logikanya, kalau di tengah masyarakat ada banyak uang, maka tingkat konsumsi masyarakat akan tinggi, dan harga barang akan naik. Itulah inflasi. Tapi kalau jumlah uang yang beredar sedikit, maka tingkat konsumsi masyarakat akan turun. Maka harga juga akan turun atau deflasi. Nah, sekarang ini sudah ada kecenderungan inflasi. Harga barang mulai naik perlahan-lahan. Untuk itu Bank Indonesia perlu menjaga agar inflasi tidak kebablasan, dengan cara menarik dana dari masyarakat.</p>
<p>Lelang SBI adalah cara Bank Indonesia untuk menarik uang yang beredar di masyarakat. Caranya adalah dengan menawarkan suku bunga yang sesuai. Kalau Bank Indonesia bermaksud menarik dana masyarakat dalam jumlah sebanyak mungkin, maka Bank Indonesia harus menaikkan suku bunga sampai ke tingkat yang menarik bagi masyarakat. Dalam praktiknya yang mengikuti lelang SBI adalah kalangan perbankan, broker pasar uang atau lembaga-lembaga keuangan seperti asuransi atau dana pensiun. Caranya, mereka yang punya uang menawarkan uangnya kepada Bank Indonesia dengan mengajukan permintaan bunga, umumnya dengan tingkat bunga yang sama atau lebih besar dibanding bunga sebelumnya. Lantas Bank Indonesia menghitung, berapa uang yang perlu ditarik. Kalau memang banyak uang yang perlu ditarik, maka Bank Indonesia akan berani mengambil uang walaupun bunganya lebih tinggi dibanding bunga SBI dalam lelang sebelumnya.</p>
<p>Sakali lagi inilah yang sekarang ini terjadi. Bank Indonesia sudah mulai menaikkan suku bunga, walaupun kenaikkannya lambat sekali. Kalau Bank Indonesia sudah mulai menaikkan suku bunga, berarti kalangan perbankan juga berkesempatan untuk menaikkan suku bunga. Tujuannya yang pertama adalah agar masyarakat mau menaruh uangnya di bank. Kedua, kalau bank memegang banyak uang dari masyarakat, mereka masih bisa menempatkan uang tersebut di Bank Indonesia dan masih untung. Misalnya saja sekarang bunga simpanan di bank rata-rata 5%, sedangkan suku bunga di Bank Indonesia mencapai lebih dari 7%, sehingga bank masih untuk dua poin persen.</p>
<p>Bagaimana bank dan Bank Indonesia menetapkan suku bunga? Umumnya cara yang dilakukan adalah dengan memberi tambahan di atas inflasi. Misalnya saja tahun ini inflasi diperkirakan sebesar 6%. Maka kalau Bank Indonesia memberi bunga 7,5% berarti bunga riil yang dinikmati masyarakat adalah 1,5%. Bunga riil inilah yang akan menjadi faktor menentukan, apakah masyarakat mau menempatkan uangnya di tabungan, atau memilih menginvestasikannya.</p>
<p>Benarkah suku bunga di Indonesia dipengaruhi oleh suku bunga di Amerika? Sayangnya sering kali memang begitu. Di Amerika suku bunga memang baru saja dinaikkan lagi. Kenaikan suku bunga di Amerika berarti akan mendorong naik biaya produksi di negeri itu sekaligus mendongkrak inflasi, juga di negeri itu. Tetapi karena ekonomi kita juga dipengaruhi perekonomian Amerika, maka inflasi di negara itu juga bisa merembet ke sini. Caranya sederhana. Barang-barang yang kita impor dari Amerika atau diimpor dalam mata uang dollar akan ikut naik. Maka, inflasi juga diimpor ke Indonesia. Kalau inflasi dalam negeri sudah terpengaruh, maka suku bunga dalam negeri juga ikut naik.</p>
<p>Pengaruhnya pada Saham<br />
Logika pasar memang menyebutkan, kalau suku bunga naik, maka harga saham cenderung turun. Alasannya sederhana sekali. Orang yang punya uang akan cenderung menarik uangnya dari bursa saham dan menempatkannya di bank, misalnya dalam bentuk deposito. Mereka melakukan itu karena simpanan di bank risikonya jauh lebih kecil, tetapi keuntungannya (bunga) lebih pasti. Uang mereka di bank tidak akan pernah turun, melainkan justru naik terus walaupun sedikit. Sedangkan investasi di saham umumnya lebih berisiko, walaupun peluang untungnya lebih besar.</p>
<p>Maka kalau suku bunga sedang turun, pemilik uang akan cenderung menginvestasikan uangnya, termasuk di antaranya pada instrumen saham. Mereka melakukan itu karena, di samping ada uang, juga ada harapan bahwa dunia usaha akan untung besar karena suku bunga yang rendah. Dengan suku bunga rendah, berarti bank juga bisa memberi kredit dengan bunga yang rendah kepada dunia usaha. Kalau dunia usaha mendapatkan kredit dengan bunga rendah, berarti mereka berpeluang mendapat untung yang lebih besar, bukan? Kalau untung perusahaan lebih besar, maka dividen atau sisa hasil usaha yang dibagikan kepada pemegang saham akan meningkat. Itu sebabnya orang memang cenderung untuk berburu saham pada musim seperti itu, dan sebaliknya.</p>
<p>Logika seperti itu hampir sepenuhnya jalan di negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, Singapura, Inggris atau Jerman. Tetapi di Indonesia sering kali yang terjadi di pasar agak berbeda dengan logika itu. Dalam satu tahun terakhir memang kondisi pasarnya cocok dengan logika bunga di atas. Suku bunga turun, dan harga saham terus merayap naik. Dalam beberapa pekan terakhir sebenarnya suku bunga cenderung turun, tetapi harga saham terus naik, walaupun sempat turun sebentar.</p>
<p>Jadi apakah harga saham di Indonesia akan turun karena suku bunga naik? Logika ekonomi dan logika pasar yang umum memang begitu. Tapi di Indonesia semuanya bisa terjadi, kan? (her suharyanto)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurutulis.com/bunga-naik-saham-turun.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menyiasati Penurunan Harga Reksadana</title>
		<link>http://jurutulis.com/menyiasati-penurunan-harga-reksadana.html</link>
		<comments>http://jurutulis.com/menyiasati-penurunan-harga-reksadana.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2008 10:51:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>

		<category><![CDATA[Personal Finance]]></category>

		<category><![CDATA[Surabaya Post]]></category>

		<category><![CDATA[Investasi]]></category>

		<category><![CDATA[Keuangan Keluarga]]></category>

		<category><![CDATA[Reksadana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurutulis.com/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar satu bulan terakhir media massa banyak menurunkan berita tentang jatuhnya harga reksadana. Saya punya sedikit reksadana, dan sungguh khawatir dengan situasi seperti itu. Bagaimana saya harus bersikap? Apakah saya harus mencairkan kembali reksadana saya?
Salam,
Ribut Waluyadi
Selamat, Pak Ribut, tampaknya anda adalah orang yang sangat peduli dengan masalah manajemen keuangan keluarga. Sayang bahwa anda tidak memberikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sekitar satu bulan terakhir media massa banyak menurunkan berita tentang jatuhnya harga reksadana. Saya punya sedikit reksadana, dan sungguh khawatir dengan situasi seperti itu. Bagaimana saya harus bersikap? Apakah saya harus mencairkan kembali reksadana saya?</em><br />
<strong>Salam,<br />
Ribut Waluyadi</strong></p>
<p>Selamat, Pak Ribut, tampaknya anda adalah orang yang sangat peduli dengan masalah manajemen keuangan keluarga. Sayang bahwa anda tidak memberikan informasi yang lebih lengkap, terutama menyangkut jenis reksadana yang telah anda pilih. Sebab, setiap jenis reksadana memiliki karakteristik yang berbeda-beda.</p>
<p>Kita tahu, reksadana bisa dikelompokkan dalam beberapa kategori. Pertama adalah reksadana pendapatan tetap, yang berisi instrumen-instrumen pendapatan tetap seperti obligasi (surat utang) dan deposito. Yang kedua adalah reksadana saham, yang berisi saham-saham yang tercatat di bursa. Yang ketiga adalah reksadana pasar uang, yang isinya adalah instrumen pasar uang, seperti pinjaman antarbank berjangka semalam. Yang keempat adalah reksadana campuran, yang isinya adalah kombinasi dari dua atau tiga kelompok sebelumnya. Komposisi dari reksadana terakhir ini berbeda-beda. Ada yang obligasinya besar sahamnya kecil atau sebaliknya. Ada yang pasar uangnya besar sedangkan dua yang lain seimbang dan seterusnya.</p>
<p>Setiap reksadana dihitung dengan ukuran yang disebut nilai aktiva bersih (NAB) per unit. Cara menghitungnya memang tidak sederhana. Tetapi secara garis besar NAB bisa dianggap sebagai indeks atas satu reksadana. Pada saat diterbitkan, misalnya, ditetapkan NAB-nya 1000. Maka kalau sekarang NAB-nya 1800 berarti sejak diterbitkan sampai hari ini telah terjadi kenaikan sebesar 80%.</p>
<p>Berita yang anda baca memang ada benarnya, tetapi tidak seluruhnya benar. Dari berbagai jenis reksadana yang ada, yang mengalami penurunan umumnya adalah jenis reksadana pendapatan tetap. Reksadana saham memang juga mengalami penurunan, tetapi secara rata-rata tidak sebesar penurunan pada reksadana pendapatan tetap. Penurunan reksadana pendapatan tetap terjadi karena kenaikan suku bunga. Lho, apa hubungannya?</p>
<p>Hubungannya erat sekali. Penjelasan umumnya begini. Kalau suku bunga naik, maka investor akan berhitung, apakah kenaikan itu cukup berarti. Kalau cukup berarti, mereka akan memilih menarik uangnya dari instrumen investasi yang cukup berisiko (saham, obligasi), dan memindahkannya di bank pada instrumen deposito. Selain aman, bunganya juga sudah lebih baik karena kenaikan tersebut. Dalam cara pandang umum ini, semua jenis investasi, baik saham maupun obligasi, akan cenderung turun. Tetapi, mestinya reksadana pasar uang tidak akan turun, karena mekanisme pasar yang sangat cepat sekali. Begitu suku bunga naik hari ini, pasar uang akan langsung merespon dengan cepat karena pasar uang umumnya berjangka sangat pendek.</p>
<p>Penjelasan khususnya adalah kaitannya dengan reksadana obligasi. Karena suku bunga naik, maka penerbitan obligasi baru jadi terbatas, karena penerbit akan menghitung ulang, apakah lebih menguntungkan menerbitkan obligasi, atau pinjam ke bank. Kalau bunga naik, otomatis pembeli obligasi juga menuntut bunga yang tinggi, bukan? Karena itu, dan ini yang terjadi, penerbitan obligasi baru sangat sepi akhir-akhir ini. Bahkan banyak perusahaan, termasuk bank, yang membatalkan rencananya menerbitkan obligasi.</p>
<p>Kalau begitu, bukankah itu berarti bahwa pasokan obligasi jadi terbatas? Kalau permintaan tetap, bukankah harusnya harga obligasi akan naik? Logikanya memang begitu. Tetapi ada satu faktor lain, yaitu faktor sentimen pasar. Para investor umumnya memang langsung panik kalau suku bunga naik. Lesu darah di kalangan penerbit obligasi biasanya menular juga ke pihak investor.</p>
<p>Yang terjadi di pasar modal kita tampaknya seperti itu. Kalangan investor ramai-ramai menarik dananya, sebagian karena berburu instrumen lain, sebagian karena panik. Mana dari kedua alasan ini yang lebih dominan? Sulit untuk menebak. Yang pasti, total dana kelolaan reksadana secara nasional sempat mencapai lebih dari Rp100 triliun, dan sempat anjlok ke sekitar Rp70 triliun setelah suku bunga naik, walaupun sekarang jumlah dana kelolaan itu perlahan mulai naik lagi.</p>
<p>Apakah perubahan suku bunga yang hanya beberapa basis poin itu sudah cukup menjadi alasan bagi investor untuk menarik dananya? Menurut hitung-hitungan kami, untuk investor lokal memang tidak begitu berarti. Tapi untuk investor asing, kenaikan bunga yang sedikit itu bisa sangat berarti. Di Amerika, misalnya, orang merasa cukup dengan suku bunga sekitar 3% per tahun, dengan risiko yang sangat minim. Tetapi ketika menempatkan dananya dalam rupiah, mereka menghadapi beberapa risiko sekaligus. Investasi sendiri pada dirinya sendiri sudah berisiko. Sementara itu kenaikan suku bunga, yang dimulai dari Amerika sendiri, akan cenderung menaikkan nilai tukar dollar dan melemahkan nilai tukar mata uang lokal. Jadi akumulasi risiko antara risiko investasi plus risiko nilai tukar buat mereka cukup serius, sehingga mereka memilih mundur dari pasar modal kita.</p>
<p>Itulah kira-kira, mengapa reksadana kita cenderung melemah akhir-akhir ini, karena instrumen yang menjadi isi reksadana itu sendiri cenderung melemah. Apakah anda harus ikut melepas reksadana anda? Pilihan ada di tangan anda. Hanya saja sebenarnya reksadana bukanlah alat investasi jangka pendek, melainkan investasi jangka panjang. Minimal ada satu kerugian untuk keluar masuk, yakni bahwa anda harus membayar biaya transaksi.</p>
<p><strong>Salam, Her Suharyanto</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurutulis.com/menyiasati-penurunan-harga-reksadana.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dana Darurat Pendidikan</title>
		<link>http://jurutulis.com/dana-darurat-pendidikan.html</link>
		<comments>http://jurutulis.com/dana-darurat-pendidikan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2008 10:49:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel Populer]]></category>

		<category><![CDATA[Personal Finance]]></category>

		<category><![CDATA[Surabaya Post]]></category>

		<category><![CDATA[Investasi]]></category>

		<category><![CDATA[Keuangan Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurutulis.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Saya dan suami sedang menghadapi masalah serius, yakni biaya anak sekolah. Anak pertama masuk perguruan tinggi, dan anak kedua masuk SMU. Kami punya tabungan, tetapi pasti tidak cukup untuk biaya keduanya. Kami sedang menimbang-nimbang untuk menjual mobil. Tetapi kalau itu yang kami lakukan, hasil penjualannya &#8220;kelebihan&#8221;. Dan kami yakin &#8220;kelebihan&#8221; uang itu pasti perlahan-lahan justru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Saya dan suami sedang menghadapi masalah serius, yakni biaya anak sekolah. Anak pertama masuk perguruan tinggi, dan anak kedua masuk SMU. Kami punya tabungan, tetapi pasti tidak cukup untuk biaya keduanya. Kami sedang menimbang-nimbang untuk menjual mobil. Tetapi kalau itu yang kami lakukan, hasil penjualannya &#8220;kelebihan&#8221;. Dan kami yakin &#8220;kelebihan&#8221; uang itu pasti perlahan-lahan justru akan berkurang, sehingga sulit untuk dipakai untuk membeli mobil yang lain di kemudian hari. Mohon saran.</em></p>
<p><strong>Marsella, Malang</strong></p>
<p>Ibu Marsella yang sedang gundah. Pada bulan-bulan seperti sekarang ini Ibu Marsella tidak sendirian. Banyak keluarga yang menghadapi persoalan biaya pendirikan untuk putra-putri mereka. Biasanya persoalan pokoknya ada dua. Pertama biaya pendidikan biasanya mengalami peningkatan yang luar biasa cepat sehingga sulit diantisipasi. Kedua, ada persoalan pada proses mempersiapkan biaya pendidikan tersebut. Persoalan bisa jadi karena kesalahan dalam membuat perhitungan, penyisihan bulanan tidak mendukupi, atau memang tidak dibuat perencanaan sama sekali.</p>
<p>Tetapi persoalan bagaimana membuat persiapan adalah persoalan mereka yang masih punya waktu. Persoalan Ibu Marsella dan suami adalah fakta bahwa kebutuhan jangka pendek sangat jelas, tetapi ketersediaan dana tidak mencukupi. Artinya, keuangan keluarga Ibu memang sedang dalam keadaan darurat. Karena itu solusi yang diperlukan adalah solusi tanggap darurat.</p>
<p>Pertanyaan pertama adalah, aset apa saja yang masih bisa didayagunakan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek tersebut. Ibu mengatakan ada tabungan, yang bisa menutup sebagian kebutuhan tersebut. Di samping itu masih ada aset keras yang bisa diuangkan, yaitu mobil. Apakah ada aset lain yang juga bisa diuangkan? Masih adakah sumber lain yang masih bisa didayagunakan?</p>
<p>Dari penjelasan ibu, mobillah yang paling mungkin diuangkan. Tetapi persoalannya, menurut ibu, harga jual mobil jauh lebih tinggi dibanding kekurangan biaya pendidikan itu. Dan kalau sudah terlanjur dilepas, sulit bagi ibu dan suami untuk mencari gantinya, karena kecenderungan untuk memakai uang tunai yang ada di tangan.</p>
<p>Saya justru mengajukan pertanyaan lain, yakni sejauh mana kebutuhan keluarga akan mobil. Apakah memiliki mobil merupakan keharusan? Apakah tidak bisa dicari substitusinya (angkutan umum, sepeda motor, atau merek mobil yang lebih murah)? Kalau kebutuhan akan mobil memang mendesak, memang perlu dipikirkan ulang untuk menjualnya, karena kebutuhannya memang tidak sampai seharga mobil itu. Apalagi, pada musim pergantian tahun ajaran seperti sekarang, harga mobil memang secara umum turun karena desakan kebutuhan akan dana tunai seperti yang dialami oleh Ibu Marsella. Lebih sulit lagi kalau Ibu ingin membeli lagi, misalnya menjelang Idhul Fitri, harga mobil akan cenderung lebih tinggi dibanding harga normalnya.</p>
<p>Karena itu coba periksa ulang, apakah ada aset lain yang masih bisa diuangkan. Kalau tidak ada lagi, rasanya pilihannya tinggal mencari pinjaman atau menjual mobil. Kalau mencari pinjaman menjadi pilihan, maka perlu dipilih kredit yang syaratnya seringan mungkin. Sejauh ini, dalam budaya kita, pinjaman dengan syarat paling ringan biasanya adalah pinjaman dari keluarga atau kerabat dekat. Kalaupun Ibu berniat untuk membayar bunga, pasti tingkat suku bunganya tidak sebesar bunga kredit bank. Di samping itu, keluarga atau kerabat dekat cenderung lebih percaya, sehingga tidak diperlukan agunan.</p>
<p>Kalau sumber ini sudah tidak memungkinkan, apakah ada peluang untuk mengajukan pinjaman di koperasi karyawan di kantor misalnya? Atau pinjaman dari perusahaan tempat bekerja? Kedua sumber ini biasanya juga masih memberikan syarat yang cenderung lunak. Tetapi kalau pilihan-pilihan ini sudah tidak ada lagi, pilihan lain adalah pinjaman komersial, dalam arti kita harus mengikuti prosedur perbankan yang standard. Ada pilihan kredit tanpa agunan (KTA) di sejumlah bank, tetapi suku bunga yang diminta biasanya tinggi sekali. Tetapi kalau terpaksa sekali, mengapa tidak mengagunkan mobil Ibu untuk mendapatkan pinjaman, misalnya di pegadaian? Pegadaian, terutama pegadaian milik pemerintah, biasanya prosesnya relatif mudah, dan syarat yang diminta, termasuk suku bunga, biasanya cenderung lebih ringan.<br />
Ibu Marsella, selamat menimbang-nimbang pilihan-pilihan yang tersedia di atas.</p>
<p><strong>Her Suharyanto</strong></p>
<p><!--[if gte mso 10]> <mce :style>< !   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} --> <!--[endif]--><em></em></mce></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurutulis.com/dana-darurat-pendidikan.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Reksadana Turun, Waktunya Jual?</title>
		<link>http://jurutulis.com/reksadana-turun-waktunya-jual.html</link>
		<comments>http://jurutulis.com/reksadana-turun-waktunya-jual.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2008 10:35:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Personal Finance]]></category>

		<category><![CDATA[Surabaya Post]]></category>

		<category><![CDATA[Investasi]]></category>

		<category><![CDATA[Reksadana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurutulis.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[Dalam beberapa pekan terakhir harga saham dan nilai tukar rupiah diberitakan terus berfluktuasi. Saya berinvestasi pada instrumen reksadana, walaupun tidak banyak. Menurut anda, sebaiknya saya harus menjual reksadana yang sudah saya beli, atau tetap menahannya? Bagaimana risikonya untuk jangka panjang?
Ismail Fahmi
Pak Fahmi yang baik, ini pertanyaan umum yang sering diajukan. Bukan hanya investor reksadana. Semua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Dalam beberapa pekan terakhir harga saham dan nilai tukar rupiah diberitakan terus berfluktuasi. Saya berinvestasi pada instrumen reksadana, walaupun tidak banyak. Menurut anda, sebaiknya saya harus menjual reksadana yang sudah saya beli, atau tetap menahannya? Bagaimana risikonya untuk jangka panjang?</em></p>
<p>I<strong>smail Fahmi</strong></p>
<p>Pak Fahmi yang baik, ini pertanyaan umum yang sering diajukan. Bukan hanya investor reksadana. Semua investor, termasuk investor sektor riil, akan cenderung mengajukan pertanyaan yang sama, apakah akan mundur dari investasi yang dijalankannya. Menjual reksadana adalah mundur dari investasi yang sudah kita lakukan. Apakah mundur merupakan pilihan yang tepat?</p>
<p>Dengan berinvestasi pada instrumen reksadana, kita sebenarnya sedang melakukan satu pendekatan yang dinamakan averaging, atau perata-rataan. Investasi di reksadana sebenarnya sama saja dengan investasi pada sejumlah instrumen sekaligus, misalnya pada saham di sepuluh perusahaan, atau obligasi delapan perusahaan, atau penyertaan langsung di lima unit usaha, atau gabungan antara semuanya itu. Kalau yang tiga dari sepuluh &#8220;jeblok&#8221;, dua biasa saja, dan lima membaik, berarti secara rata-rata investasi kita masih membaik. Inilah yang dimaksud dengan averaging.</p>
<p>Averaging di atas adalah averaging yang sifatnya horizontal, atau ke kiri dan ke kanan. Maksudnya, kita melihat sederetan sarana investasi, dan kemudian merata-ratakannya. Dalam berinvestasi kita juga mesti melihat averaging dalam hal urutan waktu, dari masa lalu (saat kira mulai berinvestasi), saat kita menambahnya, saat ini, dan masa depan. Kalau kira melihat seluruh rangkaian itu secara terpotong-potong, pasti kita akan melihat bahwa pada periode tertentu hasil investasi kita turun. Pada saat tertentu yang lain datar.</p>
<p>Pada saat tertentu lain lagi meningkat. Kalau kita gambar, maka akan terbentuk grafik, ada saat naik, ada saat turun. Tetapi yang terpenting adalah, bagaimana posisi pada saat kita mulai beli, pada saat terakhir sekarang, dan kira-kira bagaimana pada target akhir yang kita tentukan nanti. Kalau anda menyusunnya dalam diagram, tariklah garis lurus antara titik ketika anda beli, dan saat sekarang. Kalau anda beli reksadana ketika harga per unitnya Rp1500 dan sekarang Rp2100, berarti investasi anda berkembang, dan grafik anda naik.</p>
<p>Mungkin anda mengatakan, &#8220;Ya, tetapi dulu harga unit saya pernah mencapai Rp2500.&#8221; Benar. Tetapi mungkin juga dulu pernah jatuh menjadi Rp1200, bukan? Ini juga yang dinamakan averaging. Harga unit anda pasti naik turun. Tapi yang penting adalah bagaimana trend-nya, dan lebih penting lagi adalah trend jangka panjang, misalnya sampai 20 tahun mendatang. Jadi, dalam cara pandang seperti itu, kalau anda merasa harga unit anda sekarang rendah, jangan-jangan justru inilah saatnya anda menambah investasi pada unit anda. Mau bukti? Sederhana saja. Indeks harga saham gabungan Bursa Efek Jakarta terus mengalami fluktuasi.</p>
<p>Tetapi coba bandingkan angka sepuluh tahun yang lalu dengan angka sekarang. Atau, bandingkan angka pada akhir tahun pertama BEJ berdiri dibanding dengan sekarang. Pasti mengalami fluktuasi, tetapi juga pasti bahwa selama kurun waktu itu indeks tumbuh secara rata-rata lebih dari 35% per tahun.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurutulis.com/reksadana-turun-waktunya-jual.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
