Evaluasi Dulu, Rencanakan Kemudian
Oct 28th, 2008 | Oleh: Her Suharyanto | Kategori: Konsultasi, Personal Finance, Surabaya PostSejak empat tahun terakhir, setiap awal tahun saya dan suami selalu berusaha membuat perencanaan keuangan keluarga. Ada beberapa perencanaan yang terlaksana, tetapi ada juga perencanaan yang gagal. Sering kali ada keadaan tak terduga yang datang tiba-tiba, entah anak sakit atau kenaikan harga BBM seperti yang baru lalu. Bagaimana sebaiknya membuat perencanaan keuangan dalam satu tahun? Mungkinkah membuat perencanaan keuangan tanpa meleset? Atau, bagaimana agar perencanaan keuangan tidak meleset terlalu jauh?
Salam,
Iswanti Surono, Gresik
Senang sekali membaca bahwa ibu dan suami sudah mempraktikkan perencanaan keuangan tahunan. Saya baru membaca satu artikel yang mengatakan, jadilah jenderal dan panglima bagi diri anda sendiri. Jangan jadi prajurit bagi diri sendiri. Maksudnya, dalam hidup, andalah yang jadi penentu, jangan jadi “korban” yang harus ikut saja apa yang terjadi di luar sana. Seorang jenderal dan panglima adalah perencana sekaligus pengambil keputusan, sedangkan seorang prajurit hanya mengikuti perintah.
Ketika membuat perencanaan keuangan, sesungguhnya anda telah menjalankan satu fungsi seorang jenderal atau panglima. Tetapi ada satu lagi yang biasa dilakukan oleh seorang panglima atau jenderal, yaitu menentukan agar rencana itu dilaksanakan. Ada satu pepatah yang mengatakan, tidak ada orang yang membuat rencana untuk gagal, tetapi kebanyakan orang gagal membuat perencanaan. Seorang panglima bukan hanya harus berhasil membuat perencanaan, tetapi harus memastikan bahwa rencana itu terlaksana.
Tetapi apakah perencanaan seorang jenderal selalu sukses? Belum tentu, karena masih ada faktor X yang ada di luar perkiraan dan di luar kendali sang jenderal.
Bisa jadi sang jenderal salah menghitung jumlah persenjataan musuh, atau kekurangan informasi mengenai teknologi yang dikuasai musuh. Kalau jenderal itu kalah perang, maka evaluasinya harus jeli. Yang buruk perencanaannya, atau pelaksanaannya? Perencanaan yang baik tetapi pelaksanaannya buruk akan membuat jenderal itu kalah perang. Sebaliknya, sehebat apapun bala tentara pelaksana di lapangan, kalau perencanaannya buruk, sangat besar kemungkinan pasukan itu akan kalah.
Sama halnya dalam hal perencanaan keuangan. Bu Iswanti punya bahan yang bagus, yakni perencanaan keuangan selama empat tahun terakhir. Apakah ibu juga mencatat pelaksanaannya? Kalau ya, maka akan mudah bagi Ibu Iswanti dan keluarga membuat evaluasi, di mana sesungguhnya letak kesalahan yang dilakukan. Dari berbagai pengalaman, perencanaan keuangan menjadi meleset bukan karena perencanaannya yang buruk, tetapi orang tidak tekun dan disiplin pada perencanaan itu. Orang sudah membuat perencanaan bahwa belanja dapur Rp800.000 satu bulan. Tetapi begitu harga beras, gas dan minyak goreng naik, uang Rp800.000 tidak lagi cukup. Mengapa? Karena pola belanja keluarga itu lebih mengacu pada pengalaman yang lalu, bukan pada perencanaan.
Kalau belanja beras biasanya 15 kilo dengan merek Rojo Lele, maka belanja saat ini pun tetap sama. Seorang perencana yang disiplin akan mencari siasat, agar uang Rp800,000 yang dialokasikan tetap cukup untuk kebutuhan dapur. Misalnya saja, kualitas beras diturunkan, atau dicari pengganti karbohidrat yang lebih murah. Belanja minyak goreng bisa tetap 4 liter dengan kualitas yang lebih rendah, atau volume pembelian dikurangi, dengan risiko goreng-gorengan untuk keluarga dikurangi.
Namun masalahnya, disiplin terhadap perencanaan sering bukan hanya dikacaukan oleh kenaikan biaya hidup, tetapi juga oleh kenaikan pendapatan. Kalau tiba-tiba ada uang ekstra masuk, entah dari bisnis sampingan atau dari bonus kerja, orang biasanya menjadi gatal dan lupa pada perencanaan yang sudah dibuat. Begitu ada dana segar, orang tiba-tiba merasa punya kebutuhan untuk mengganti televisi atau membeli home theater, padahal di awal tahun sama sekali tidak ada perencanaan untuk itu.
Nah, sekarang, berdasarkan evaluasi tadi, Ibu dan suami bisa membuat perencanaan yang baru. Di sinilah saatnya membuat perubahan, kalau anggaran tahun lalu memang tidak masuk akal lagi. Kalau Rp800.000 tidak lagi cukup untuk belanja dapur, berapa angka yang masuk akal untuk tahun ini? Tentu saja faktor pendapatan tetap harus diperhitungkan.
Ada dua tips kecil yang semoga bermanfaat. Pertama, buatlah semua perencanaan maupun pelaksanaannya secara detil dan tertulis. Hal ini akan sangat berguna bagi kita untuk membuat evaluasi, agar perencanaan keuangan tahun berikutnya akan berjalan dengan lebih baik lagi.
Kedua, buatlah perencanaan harian. Artinya, setiap malam sebaiknya ibu dan/atau suami membuat perencanaan mengenai arus kas besok. Perencanaan harian ini tetap mengacu pada perencanaan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang yang kita buat sebelumnya. Dengan demikian kita bisa memonitor sekaligus mengendalikan pelaksanaan keuangan kita, sehingga kalau terjadi penyimpangan, maka penyimpangan itu tidak akan terlalu jauh.