Epilog

Anda tahu siapa itu Antasena? Tahu siapa itu Wisanggeni? Keduanya adalah kesatria putera Pandawa. Yang pertama adalah putera Bima, yang kedua adalah putera Arjuna. Ada kesamaan pokok antara keduanya, yakni sama-sama blak-blakan, jujur, apa adanya, spontan, sekaligus berani melawan junjungan mereka kalau mereka yakin bahwa junjungan mereka memang salah. Mereka berdua adalah kesatria yang selalu siap bertempur membela nama besar keluarga pandawa. Tetapi manakala mereka tahu bahwa keluarga mereka mulai menapak ke jalan yang sesat, kedua kesatria ini tidak segan-segan berteriak dalam bahasa “ngoko“, yakni bahasa Jawa yang dipakai antara dua orang yang setara dalam suasana yang sama sekali tidak formal. Mereka menggunakan gaya bahasa “ngoko” karena memang tidak bisa menggunakan “krama inggil”, yakni bahasa Jawa yang harus digunakan oleh orang muda kepada orang tua atau orang yang berderajat lebih rendah kepada mereka yang berderajad lebih tinggi, atau antara dua orang yang sederajat tetapi dalam sikap saling menghormati.

“Saya mengidolakan kedua tokoh itu: Antasena dan Wisanggeni. Sebab keduanya adalah kesatria yang jujur, apa adanya, dan berani mengungkapkan kebenaran, termasuk kepada junjungannya sendiri. Mereka hanya takut pada Tuhan,” kata Pastor Yohanes Djino Widyasuhardjo OSC dalam satu obrolan dengan penulis. Kejujuran itu terasa sekali dari berbagai “ceplas-ceplos” yang muncul selama obrolan, padahal yang bersangkutan sepenuhnya paham bahwa obrolan itu dilakukan dalam rangka mencari bahan untuk penulisan ini. Di akhir obrolan pun dia tidak pernah meminta penulis untuk merahasiakan bagian tertentu dari obrolan tersebut.

Kejujuran yang paling mengejutkan adalah pengakuannya bahwa dia adalah sesungguh-sungguhnya pengagum kaum hawa. Bahkan secara dengan sangat terbuka dia mengatakan, dia mungkin “terjatuh” karena alasan ini. Dan ini bukan kali pertama penulis mendengar yang bersangkutan mengatakan hal itu. Pastor Widyo pernah mengatakan hal yang sama dalam satu pertemuan “Kemisan” yang pernah dijalankan selama beberapa bulan di paroki ini tahun 2003. Pengakuan ini terasa mengejutkan karena pada umumnya orang terlalu angkuh untuk mengakui kelemahannya, sementara pastor kita ini justru dengan sangat terbuka mengakuinya. Kejujuran ini terasa lebih mengejutkan lagi mengingat Pastor Widyo adalah seorang dari etnis Jawa yang dari kecil sungguh hidup dalam Jawa tradisi secara kultural. Padahal, seperti dikatakan oleh Pak Hadi, salah satu umatnya di Cirebon, “Wong Jawa nggone semu (Orang Jawa itu serba abu-abu).” Tetapi mengapa Pastor Widyo jauh dari semu atau abu-abu? Mengapa Pastor Widyo begitu transparan? Mengapa posisi Pastor Widyo begitu tegasnya?

Yang pasti di masa kecilnya Djino (nama kecil Pastor Widyo) sungguh hidup dalam kultur Jawa Yogyakarta yang sangat kental. Sampai dengan usia SLTA praktis dia tidak pernah bersentuhan dengan budaya luar Yogya, kecuali sesekali dalam pergaulannya dengan satu dua pastor bule. Orang tuanya, Pak Lukas Suwito Hardjo, adalah seorang Jawa yang menggeluti teater Jawa, yang disebut ketoprak, dengan sangat intens walau dia mengaku tidak hidup secara ekonomi dari seni itu. Sementara itu dia sama seperti orang Jawa umumnya waktu itu, adalah penikmat wayang yang sejati, dalam arti sungguh menikmati wayang sebagai kombinasi antara seni panggung, karawitan, tarik suara, teater, sastra dan falsafah. Dari situ kelihatan bahwa Pak Wito sendiri adalah seorang penghayat Jawa dalam arti budaya, dalam arti cara hidup.

Itu sebabnya kejawaan coba diperkenalkan oleh Pak Wito kepada Djino dengan caranya sendiri. Djino diajak dekat dengan sang ayah yang tengah berketoprak.. Djino diantar untuk menonton wayang kendati harus bangun tengah malam. Dan Djino dituntun untuk berkrama-inggil, satu cara berbahasa paling tinggi dalam budaya itu. Pendek kata Pak Wito ingin agar Djino sungguh menjadi orang Jawa yang njawani.

Tetapi mungkin justru dari sinilah, dengan sedikit merambah ranah psikologi, kita bisa memahami paradoks Djino (menambahkan catatan paradoks Pastor Agus), orang jawa yang transparan, orang jawa yang demokrat, orang jawa yang ceplas-ceplos, orang jawa yang dengan bangga mengidentifikasikan diri sebagai Antasena atau Wisanggeni. Padahal jawa yang sesungguhnya adalah abu-abu, feodalistik, sinamun ing samudana (tersamar, tidak langsung) dan arus besar idealisme laki-laki jawa adalah seperti kesatria Gatotkaca yang gagah perkasa sekaligus berbudi pekerti luhur, atau seperti Puntadewa atau Kresna yang bijaksana untuk orang berkuasa, dan mereka yang “mandita” akan mengidolakan Semar atau maharesi Bisma. “Saya tidak mau seperti Semar, seorang punakawan yang selalu disia-siakan,” kata Pastor Widyo walau seorang teman dekatnya dari Paroki Banteng, Yogyakarta, Pak JS Kamdhi namanya, dengan penuh hormat menggambarkannya sebagai Semar yang mumpuni ketika di depan, di samping atau di belakang (umat).

Kalau Pastor Agus mengatakan bahwa Pastor Widyo tidak mempunyai luka atau trauma di masa lalu, mungkin justru kejawaan itulah yang menjadi “luka”. Ketika ditanya apakah dia memberontak atau tidak suka ketika “dipaksa” untuk menggunakan bahasa jawa halus, dia menjawab, “mungkin saja”. Bahkan dengan sangat eksplisit dia mengatakan, “Mungkin justru karena itu saya mengidolakan Antasena. Dengan berbahasa krama inggil, membuat saya sulit untuk bertengkar dengan bapak.” Dan “untungnya”, luka serta penolakan terhadap tata krama jawa itu masih mendapatkan tempatnya dalam budaya itu sendiri, yakni dengan mengidentifikasikan diri sebagai Antasena atau Wisanggeni. Penolakan terhadap feodalisme dan abu-abu jawa terwujudkan dalam sikap serba terbuka, apa adanya, dan sikap demokratis.

Lepas dari alur logika mengapa pastor kita mengidolakan kedua tokoh wayang itu, pertanyaannya adalah sampai batas mana pengidolaan itu terjadi? Mulai bagian ini secara sadar penulis sedang berspekulasi, karena obrolan kami tidak pernah masuk ke sini. Kesamaan antara Antasena dan Wisanggeni tidak hanya pada karakter dan cara hidup mereka, tetapi juga pada cara mereka harus mati.

Antasena dan Wisanggeni adalah dua kesatria yang sakti, sampai para dewa pun gentar. Dalam wayang jawa disebutkan bahwa para dewa mempunyai skenario bahwa keluarga Barata (Pandawa dan Korawa) harus berperang sampai titik darah penghabisan untuk memperebutkan Astinapura. Ini skenario para dewa yang harus terjadi. Karena itu apapun yang menghalangi skenario ini, harus disingkirkan. Menurut para dewa, Antasena dan Wisanggeni adalah dua kesatria Pandawa yang pasti akan menggagalkan Baratayuda atau perang keluarga Barata. Kedua anak Pandawa ini dipastikan akan dalam sekejap menumpas Korawa, sehingga yang akan terjadi adalah penumpasan kilat, bukan perang dahsyat yang membanjirkan darah di kedua pihak. Karena itu, menurut para dewa, Antasena dan Wisanggeni harus mati demi Baratayuda (jangan tanyakan mengapa para dewa punya rancangan yang begitu keji).

Demi tujuan para dewa itulah Antasena dan Wisanggeni harus mati. Keduanya gugur karena tipu daya para dewa. Antasena gugur “tertabrak” senjata Cakra milik Kresna, dan Wisanggeni gugur menelan liurnya sendiri. Kembali ada kesamaan antara keduanya, yakni mati secara kesatria ketika mempertahankan keyakinan mereka akan kebenaran. Memang, sangat menyayat bagi orang hidup untuk berbicara mengenai pilihan cara harus mati. Tapi adalah tindakan koruptif berbicara mengenai Antasena dan Wisanggeni tanpa menerima cara keduanya gugur, sama koruptifnya dengan mengidolakan Yesus tanpa menerima kematian-Nya, di Salib Suci.***

Komentar

Telah Dibaca:1242

Leave a Comment