Djino, Sidji Ono…

“Djino itu waktu kecil tidak nakal, tetapi ndugal (usil),” kata Bp. Suwito Hardjo, 78, mengenai anaknya, Yohannes Djino Widyosuhardjo, yang kini menjadi pastor kepala Paroki St. Monika Serpong. Dan pernyataan semacam itu itu keluar dari semua yang dekat dengan Djino di masa kecil, mulai dari ibunya sendiri, Ibu Wito, C. Murni, adiknya, Pak Sugeng, gurunya, dan Pak Sudarno serta Pak Sukardi, keduanya teman masa kecil Pastor Widyo, begitu dia biasa dipanggil.

“Ndugalnya itu begini lho. Dia itu senang menggoda teman-temannya. Tapi begitu temannya yang digoda itu hampir marah, dia mundur, tertawa… Yang begitu itu kan tidak nakal, tapi ndugal. Dalam bahasa Jawa yang namanya nakal itu kan mencuri atau memukul teman. Dia tidak,” kata Pak Wito lagi.

Kesaksian bahwa Djino adalah anak kecil yang usil juga datang dari Pak Sugeng, yang menjadi gurunya waktu SD dan menjadi kepala sekolah Djino ketika sekolah di SD, SMP dan SMEA. “Djino itu usil. Saya kan pulang sekolah jalan kaki, dan tahu ulah anak-anak murid saya. Mbeling-nya Djino itu kalau pulang sekolah sering tidak langsung pulang. Terus ada saja yang dilakukan pada teman-temannya sambil pulang sekolah itu,” kata Pak Sugeng.

Pastor Widyo sendiri mengakui bahwa Djino kecil adalah seorang anak yang usil, tetapi keusilannya tak lain adalah sarananya untuk bergaul. Dia senang menggoda teman-temannya sekadar untuk menggoda. Nyatanya, seperti yang dikatakan oleh Pak Wito, dia akan berhenti menggoda temannya kalau temannya sudah mulai marah. Pastor Widyo sendiri mengatakan di masa kecilnya dia tidak pernah berkelahi, walaupun pada dasarnya dia adalah orang yang tidak mau kalah. Nyatanya lagi, Djino kecil ternyata tidak punya musuh. Sebaliknya, justru keusilan-keusilan itu membuat dia disenangi oleh teman-temannya. Dia mempunyai begitu banyak teman di masa kecil.

Salah satu kenakalan masa kecilnya terkait dengan permainan anak-anak kampung di masa itu. Bayangkan saja, masa kecil Djino adalah masa kecil di sebuah kampung, tujuh kilometer di utara Yogyakarta. Dia dan keluarganya tinggal di desa Klaseman, di Jalan Kaliurang Km 7,5 Yogyakarta, sebelah utara Skolastikat SCJ atau seberang Gereja Paroki Banteng. Djino lahir 1 Januari 1951, sehingga bisa dibayangkan masa SD-nya adalah sekitar paruh kedua tahun 50-an, dan SMP-nya adalah awal tahun 60-an. “Listrik belum ada, sehingga terang bulan adalah saat bermain yang terbaik untuk anak-anak seusia saya waktu itu,” kenang Pastor Widyo. Listrik baru masuk daerah Klaseman tahun 1983. Jl. Kaliurang yang sekarang mulus itu pun waktu itu masih berbatu kasar, hanya dilewati bis [satu-satunya adalah Bis Baker] beberapa kali dalam sehari.

Tentang sosoknya di masa kecil, kita bisa membayangkan dengan melihat sosoknya sekarang. “Dia itu kecil sekali, dan kulitnya hitam. Itu sebabnya dia dipanggil Jiteng,” kata Pak Sukardi mengenang. Bayangkan bagaimana warna kulit Djino waktu itu, sebab Pastor Widyo sendiri mengatakan, “Sekarang ‘kan kulit saya masih hitam. Tapi kalau saya pulang kampung orang di sekitar saya mengatakan, ‘lho, kamu kok sekarang kuning’, ha ha ha…”

Salah satu permainan favorit Djino waktu itu adalah Jetungan, mirip dengan Petak Umpet sekarang. Permainan bisa dilakukan siang hari, bisa juga dilakukan malam hari ketika bulan purnama bersinar. Permainan ini baru berakhir ketika semua yang bersembunyi (seperti Petak Umpet) tertangkap tangan, bukan hanya terlihat. Di sini kita bisa mengintip nakal-usilnya Djino. Dia mempunyai berbagai akal supaya tidak tertangkap. Salah satu cara yang dilakukan adalah bersembunyi dengan cara memanjat pohon, walaupun sebenarnya cara itu melanggar aturan main. Tetapi bukan Djino namanya kalau dia tidak bisa meyakinkan teman-temannya bahwa yang dilakukannya sah. Karena itu terpaksalah teman-temannya menganggap ulah Djino sebagai ulah yang sah, dan mereka akan tetap mengejar Djino. Dan tak jarang teman-temannya bisa menemukan di pohon mana Djino bersembunyi. Lantas apa jurus pertahanan terakhir Djino ketika benteng persembunyiannya sudah diketahui? (Awas jangan ngintip) Djino akan mengencingi teman-temannya dari atas pohon sehingga justru para pemburunya yang akan lari tunggang langgang, dan keluarlah Djino sebagai pemenang.

“Waktu kecil saya memang tidak mau kalah, dan tidak pernah kalah,” tutur Pastor Widyo. Salah satu “uji kehebatan” masa kecilnya adalah bagaimana memperebutkan layang-layang putus. Harap maklum, layang-layang putus “hukumnya” adalah milik mereka yang bisa memegang fisik layang-layang tersebut. Dan untuk itu, adu kuat dan adu cerdik dilakukan setiap anak laki-laki desa. “Dalam berebut layangan (layang-layang), saya selalu menang. Kalau layangan itu nyangkut di pohon paling tinggi sekalipun, saya bisa mendapatkannya. Saya akan panjat pohon itu, sekalipun pohon itu penuh dengan duri,” katanya sembari menambahkan, tidak ada pohon yang tidak bisa dipanjatnya, termasuk pohon kelapa yang paling tinggi di desanya.

Susterku Cantik
Di samping sebagai sosok mbeling, Djino juga memperlihatkan banyak sisi manis di masa kanak-kanaknya. Salah satu sisi manisnya adalah, dia rajin mengikuti pelajaran agama yang diberikan oleh para suster dari Novisiat Suster-Suster CB maupun oleh para katekis atau guru agama. Pelajaran agama diselenggarakan di satu kapel di desa Sengkan, beberapa ratus meter sebelah timur Pasar Kolombo, Jl. Kaliurang Km 7. Dalam pelajaran agama itu dia sering bertemu dengan teman-temannya seperti Pak Sudarno dan Pak Sukardi, keduanya putera Pak Wignyo, yang masih terhitung kerabat keluarga Suwito Hardjo.

Pelajaran agama dari para suster itu dijalani Djino ketika dia duduk di bangku SD di Sengkan. Mengenai masa SD ini Pastor Widyo bercerita bahwa guru yang paling disenanginya adalah guru untuk mata pelajaran agama. Waktu itu di sekolahnya siswa katolik secara keseluruhan sekitar 20 orang saja. Maklum, di daerah tempatnya tinggal jumlah orang Katolik memang tidak banyak. Yang masih diingat oleh Pastor Widyo adalah bahwa waktu itu dia dan teman-teman yang Katolik harus keluar kelas ketika ada pelajaran agama di kelas, karena pelajaran agama yang diberikan adalah pelajaran Agama Islam.

Tapi itu justru merupakan pengalaman menarik, karena kemudian ada seorang guru, Pak Hadi Sukresno namanya, yang kemudian mengajar Agama Katolik. Kehadiran Pak Hadi Sukresno disambut hangat oleh para siswa yang merindukan pelajaran Agama Katolik. Bahkan kemudian ternyata siswa-siswa yang tidak beragama Katolik pun mulai mengikuti pelajaran Agama Katolik. Mengapa? Karena ternyata Pak Hadi sangat pandai bercerita dan bermain sulap, sehingga banyak siswa-siswa SD itu yang ikut pelajaran Agama Katolik, tetapi pertama-tama untuk menonton permainan sulap Pak Hadi.

Mengenai pelajaran agama dari para suster di luar jam sekolah Pastor Widyo mengenang, “Saya senang ikut pelajaran, karena susternya kelihatan bersih-bersih, cantik-cantik… dan kesannya mereka pintar-pintar sekali.” Pelajaran yang diberikan beraneka macam, mulai dari pelajaran agama, kitab suci, sampai pelajaran Bahasa Latin. Pembaca yang berusia di atas 60 tahun pasti tidak kaget dengan cerita ini, sebab dulu misa di gereja memang diselenggarakan dalam Bahasa Latin. Dan hanya mereka yang bisa berbahasa Latin, minimal bisa mengucapkan, yang boleh terlibat dalam tugas-tugas, seperti sebagai putera altar. Dan Djino pun akhirnya menjadi salah satu putera altar di kapel Stasi Mrican di daerah Gejayan.

“Djino itu rajin sekali menjadi misdinar (Putera Altar) dan Bahasa Latin-nya bagus,” kara Pak Sudarno yang menerima komuni pertama bersama kakaknya, Sukardi dan Djino. “Syarat untuk menjadi putera altar adalah harus bisa bahasa latin, dan ingatannya juga harus tinggi. Sebab dia harus memberikan isyarat kapan saatnya berdiri atau berlutut.”

Mengenai aktivitas sebagai putera altar ini Pastor Widyo mengaku bahwa dia memang sangat menikmati. “Saya merasa menjadi orang istimewa dengan menjadi misdinar, sebab tidak semua orang bisa menjadi misdinar,” kata Pastor Widyo. Karena itu demi tugas tersebut dia rela untuk berjalan kaki setiap kali tugas, dari rumahnya ke kapel Stasi Mrican yang jaraknya tak kurang dari tiga kilometer. “Jalannya belum beraspal tetapi masih krakal (batu kasar). Listrik belum ada, sehingga kalau tidak terang bulan jalanan sungguh gelap. Saya harus sampai ke gereja sebelum jam setengah enam.” Gelapnya jalanan waktu itu bisa dibayangkan, karena sampai saat ini pun sebagian cukup panjang dari jalan itu, jalan pintas mulai dari Condong Catur sampai Klaseman, sampai sekarang belum beraspal dan di kiri kanan jalan masih banyak pepohonan yang cukup besar.

Rasa tertarik pada dunia seputar gereja juga muncul dari seorang pastor belanda yang tinggal di Paroki Kota Baru, yang rajin berkunjung ke Klaseman, termasuk ke rumah keluarga Suwito Hardjo. Djino kecil mempunyai kesan bahwa seorang Pastor itu hebat sekali. Dan dalam kehebatan itu, seorang Pastor belanda masih mau berkunjung ke rumah keluarga miskin jawa, sehingga semakin lengkaplah citra seorang imam di mata Djino kecil.

Bagi Djino gambaran atau sosok seorang imam semakin hebat karena tempat tinggalnya memang berdekatan dengan beberapa rumah pendidikan calon imam, seperti Skolastikat MSF, Skolastikat SCJ, dan Seminari Tinggi Kentungan. “Saya sering melihat para frater yang naik sepeda dengan mengenakan jubah. Saya punya kesan mereka itu adalah orang-orang pintar,” Pastor Widyo mengenang. Rasa kagum seperti itu semakin besar setelah dia “dikompori” oleh pamannya sendiri, adik Pak Wito, yang di kemudian hari menjadi seorang Bruder OSC hingga saat ini.

“Paklik (paman) saya itu selalu mengatakan kepada saya, bahwa saya juga bisa menjadi salah satu dari mereka. Paklik saya termasuk yang percaya bahwa saya pintar,” kata Pastor Widyo. Karena itu paman tersebut yakin bahwa Djino seharusnya berhak untuk ikut ambil bagian dalam komunitas orang-orang pintar di lingkungan gereja itu. Dan memang, dari sanalah keinginan untuk menjadi seorang pastor mulai muncul.
Pak Wito sendiri juga mengaku rajin untuk membawa anak-anaknya ke gereja. Hanya saja gerejanya waktu itu sangat jauh, yakni di Kotabaru, yang jaraknya sekitar lima atau enam kilometer dari Klaseman. Gereja Paroki Banteng di Jl Kaliurang yang sekarang ini saat itu belum ada. “Sepeda hanya satu. Jadi kalau ke gereja hanya bisa bawa satu anak. Ya sudah, setiap minggu yang ikut ke gereja gantian,” kata pak Wito. Tetapi toh Djino tetap bisa ke gereja dengan caranya sendiri, yakni jalan kaki ke Kapel Stasi Mrican.

Binatang Piaraan
Jiteng, atau Djino, sepenuhnya adalah anak desa, dengan seluruh pengalaman desanya. Di masa kecil dia juga seperti anak desa yang lain, diikutsertakan dalam tugas-tugas keluarga. “Pagi saya bangun langsung ikut membantu orang tua memetik kembang gambir (salah satu campuran untuk pembuatan teh kering). Setelah siang ada pedagang yang datang ke rumah untuk mengambil kembang gambir itu,” kata Pastor Widyo. Setelah itu ayah dan ibunya menjalankan tugas masing-masing. Sang ibu berjualan di pasar Bering Harjo, sedangkan Pak Wito bertugas di RS Panti Rapih.

Oleh orang tuanya Djino juga dipercaya untuk memelihara beberapa ekor kambing dan ayam. Pastor Widyo mengenang bahwa masa itu Djino memang tidak merumput seperti cara orang sekarang memelihara kambing. Di masa itu kambing diberi makan daun-daun pohon besar seperti daun nangka, petai cina atau tanaman besar lainnya. Tugas itu cukup dinikmati oleh Djino karena di sekitar rumahnya ada begitu banyak pohon besar yang daunnya bisa diambil untuk makanan kambing. Di samping itu, seperti dikemukakan di muka, salah satu kesenangan Djino kecil adalah memanjat pohon.

Menurut Pastor Widyo, Pak Wito meminta Djino memelihara kambing atau ayam bukan pertama-tama karena alasan ekonomis, tetapi lebih karena alasan edukatif. Dengan memelihara binatang, Djino kecil atau anak-anak kampung pada umumnya dididik untuk tahu tanggung jawab, dan tahu saat berhenti bermain dan pulang untuk memberi makan binatang piaraan. Sebab, kalau binatang-binatang itu terlambat diberi makan, risiko terkecilnya adalah berteriak-teriak sehingga mengganggu, dan risiko terbesarnya adalah mati. “Cara paling tepat untuk memaksa anak-anak pulang ke rumah pada waktunya adalah dengan memberi tanggung jawab binatang piaraan,” kata Pastor Widyo. Dan ternyata cara itu benar. Sejauh dan seasyik apapun bermain, Djino selalu pulang ke rumah pada waktunya. “Bahkan saya tidak pernah menginap di rumah orang, termasuk di rumah saudara sendiri sekalipun.”

Ayah, Tokoh Idola
Kepada penulis Pastor Widyo bertutur bahwa di masa kecil sangat mengagumi ayahnya. Hal yang paling dikagumi dalam diri ayahnya adalah kemampuannya bergaul, sehingga ayahnya punya begitu banyak teman. Waktu kecil Djino sering diajak oleh ayahnya pergi ke berbagai tempat di daerah Yogyakarta. Di tempat tempat kemana mereka pergi, Pak Wito selalu disapa oleh banyak orang. Dan ketika Djino kecil bertanya siapa orang yang bertanya itu, Pak Wito akan mengatakan bahwa mereka adalah temannya.

Dari situ muncullah rasa kagum Djino pada ayahnya, bahwa ayahnya punya banyak teman. Di kemudian hari Djino sadar bahwa bapaknya dikenal di mana-mana karena Pak Wito adalah salah satu pemain ketoprak, sejenis drama tradisional jawa yang sering mengangkat cerita sejarah atau mitologi jawa.

Pak Wito sendiri mengaku bahwa dia memang senang bermain ketoprak. “Ya waktu itu kan baru merdeka. Perbedaan yang paling jelas antara jaman penjajahan dengan jaman kemerdekaan adalah munculnya banyak rombongan ketoprak dan wayang orang,” tutur Pak Wito. Dan sebagai salah satu pemuda desa waktu itu, Pak Wito merasa perlu untuk menampakkan jati dirinya dalam dunia seni yang populer tersebut. Karena itu Pak Wito bukan hanya menjadi anggota di satu rombongan ketoprak, tetapi beberapa rombongan sekaligus. “Malam ini saya bisa latihan di Sambisari, besok latihan di Kaliwaru dan seterusnya,” kata Pak Wito. Namun buru-buru Pak Wito menambahkan bahwa seni opera jawa ini digelutinya sepenuhnya karena rasa senang. “Tidak sampai cari uang dari main ketoprak.”

Peristiwa yang diingat Pak Wito hingga kini adalah ketika suatu malam, menjelang main ketoprak, Djino dibawa ke balik panggung untuk diajak melihat proses merias para aktor drama tradisional tersebut. “Waktu itu muka saya kan dicoreng-coreng, terus Djino nangis ketakutan,” kata Pak Wito sembari tergelak.
Dunia seni jawa yang diperkenalkan oleh Pak Wito kepada Djino tentu saja bukan hanya ketoprak, tetapi juga wayang kulit. Jaman itu pertunjukan wayang kulit sangat sering diselenggarakan di keluarga-keluarga yang mempunyai hajat tertentu, seperti kawinan atau khitanan. Pada kesempatan seperti itu hampir seluruh warga desa bisa dipastikan akan nonton. Keluarga Pak Wito pun demikian.

“Tapi saya tidak boleh nonton mulai dari sore. Yang nonton dari sore bapak. Pada saat Goro-Goro, bapak akan pulang dan saya akan diantar untuk nonton sampai pagi,” tutur Pastor Widyo. Pak Wito tidak mengijinkan Djino nonton dari sore sebab biasanya anak-anak akan cenderung ikut main judi kecil-kecilan, yaitu Cliwik (dadu). Anak-anak melakukan hal itu karena wayang kulit selalu didahului dengan bagian yang sulit dicerna oleh anak-anak, sehingga anak-anak cenderung lari dan menikmati keramaian yang selalu ada pada saat pertunjukan wayang kulit. Setelah sekitar separuh pertunjukan, setelah Goro-Goro, biasanya alur cerita lebih sederhana sehingga lebih mudah dicerna oleh anak-anak.

CATATAN
Pastor Yohanes Djino Widyasuhardjo adalah sulung dari empat bersaudara dari keluarga Lukas Suwito Hardjo. Pastor Widyo mempunyai tiga orang adik. Adik langsung Pastor Widyo bernama Marno, kini bekerja sebagai guru di Bukit Tinggi, Sumatra Barat. Adik berikutnya adalah Marni, kini menjadi biarawati kongregasi YMY, berkarya di Abepura, Papua. Sedangkan si bungsu, C. Murni, kini menemani Bapak Suwito di desa Klaseman, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Bu Murni kini bekerja di kantor kecamatan Sinduharjo, tak jauh dari tempat mereka tinggal.

Komentar

Telah Dibaca:942

Leave a Comment