CSR Bank Mandiri: Fokus Pada Pendidikan dan Bencana
Nov 12th, 2006 | Oleh: Her Suharyanto | Kategori: Advertorial, Bank, Bisnis IndonesiaSeorang laki-laki muda, Masadek namanya, lama bergelut di bidang kerajinan. Dia dikenal sebagai pemuda kreatif, antara lain dengan mencoba membatik bukan di atas media kain, melainkan dengan media kerajinan dari kayu. Namun karena digeluti dengan pendekatan yang sangat tradisional, usaha pemuda ini seolah jalan di tempat. Tidak bisa dikatakan bangkrut, maju pun sangat lamban.
Namun semua itu adalah cerita masa lalu, karena usaha Masadek kini sudah berkembang pesat. Nasibnya berubah ketika PT Bank Mandiri Tbk melihat potensi perajin ini, dan kemudian menawarkan bantuan. Pada tahap awal bukan bantuan dana atau pinjaman yang diberikan, tetapi pembelajaran mengenai manajemen usaha yang profesional, sekecil apapun skalanya. Bank Mandiri memberikan pelatihan mengenai bagaimana mengelola keuangan, bagaimana mengadakan pembukuan secara benar, bagaimana mengelola siklus produksi, bahkan juga bagaimana memasarkan produk. Beberapa kali Masadek diajak untuk mengikuti pameran kerajinan, dan akhirnya berhasil. Masadek kini menjadi pengusaha yang jauh lebih profesional, tentu saja dengan penghasilan yang jauh lebih baik pula. Dan terakhir, setelah cukup layak mendapatkan kredit (bankable), dia kini menjadi salah satu nasabah setia Bank Mandiri.
Masadek adalah satu dari ratusan usahawan skala kecil yang dibina oleh Bank Mandiri. “Kami sudah melakukan hal yang sama untuk banyak orang. Kalau ada pameran, termasuk di luar negeri, kami selalu mengikutsertakan para perajin, misalnya dari Ambon, Manado, dan Yogyakarta. Yang sudah banyak berhasil adalah perajin dari Yogyakarta,” kata Christiana M Damanik, Head of Corporate Communications PT Bank Mandiri Tbk.
Lebih luas lagi, program pembinaan terhadap usaha kecil ini merupakan bagian dari Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), yakni program pemerintah yang harus dijalankan oleh badan-badan usaha milik negara (BUMN), termasuk Bank Mandiri, sebagai bagian dari tanggung jawab sosial yang diemban oleh BUMN (Corporate Social Responsibility atau CSR). Karena itu konsep CSR, yang sekitar lima tahun terakhir banyak didiskusikan di dalam negeri, sesungguhnya bukanlah hal yang baru untuk BUMN di Indonesia, termasuk Bank Mandiri.
“Tanggungjawab sosial perusahaan muncul berdasarkan pemikiran bahwa satu entitas bisnis tidak bisa maju dan berkembang sendirian kalau masyarakat di sekitarnya tidak sejahtera. Sebaliknya kalau masyarakat di sekitar operasional perusahaan sejahtera, maka perusahaan akan dapat menjalankan roda usahanya dengan lebih baik dan sustainable (berkelanjutan),” kata Agus Martowardojo, Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk.
Karena itu penting bagi dunia usaha untuk tidak hanya memusatkan perhatian pada keuntungan dan kesejahteraaan karyawan, tetapi juga kesejahteraan masayarakat di sekitarnya. Agus mengatakan Bank Mandiri memiliki komitmen yang tinggi untuk hal ini, antara lain dengan tidak menempatkan biaya CSR dalam struktur biaya usaha, melainkan dengan mengalokasikan sejumlah anggaran yang ditetapkan awal tahun. “Besarnya anggaran untuk CSR 1% sampai 3% dari laba bersih tahun sebelumnya, dan anggaran ini diputuskan dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham),” tutur Agus lagi.
Lebih Terfokus
Selama ini Bank Mandiri memiliki tujuh bidang kegiatan terkait dengan CSR, yakni bidang pendidikan, olah raga, kesehatan, lingkungan, budaya dan usaha kecil. Tetapi sejak kepemimpinan Agus Martowardojo, kegiatan CSR Bank Mandiri lebih dititikberatkan pada bidang Pendidikan dan Bancana, tanpa sama sekali menghapuskan bidang-bidang yang lain, terutama pembinaan untuk para pengusaha mikro dan kecil.
Di bidang pendidikan, misalnya, bank ini memiliki sejumlah sub kegiatan seperti beasiswa, pembelajaran mengenai perbankan kepada siswa di daerah terpencil, penyediaan sarana penunjang pendidikan, dan renovasi sekolah-sekolah yang rusak. “Untuk sektor pendidikan kami tidak hanya memberikan beasiswa kepada pelajar berprestasi yang tidak mampu, tetapi juga ikut membangun sekolah yang rusak dan memberikan bantuan untuk sejumlah guru,” kata Christiana.
Dia menambahkan, sepanjang tahun ini Bank Mandiri telah menyalurkan dana Rp13 miliar untuk bidang pendidikan, yang terdiri dari Rp9 miliar untuk bantuan merenovasi 40 sekolah di 10 kantor wilayah Bank Mandiri, dan sisanya untuk beasiswa. “Untuk program pembinaan guru kami menyediakan Rp1,2 miliar, diluar yang Rp13 miliar tadi.”
Beasiswa diberikan kepada para pelajar yang memiliki kemampuan akademik yang tinggi, tetapi secara ekonomi tidak mampu. Proses seleksi untuk para penerima beasiswa ini dilakukan sendiri oleh kantor-kantor wilayah Bank Mandiri, karena merekalah yang lebih memahami situasi dan kebutuhan masyarakat. Untuk sementara ini beasiswa sudah diberikan kepada para siswa di tingkat pendidikan dasar dan menengah. Tetapi kini Bank Mandiri tengah merencanakan untuk menyediakan beasiswa untuk para mahasiswa sekolah negeri yang secara ekonomi tidak mampu. “Selama ini kami memang sudah memberikan bantuan kepada sejumlah universitas, tetapi tidak dalam bentuk beasiswa,” kata Christiana. Bantuan yang diberikan selama ini lebih dalam bentuk sarana penunjang seperti komputer atau alat-alat laboratorium. Universitas Udayana Denpasar misalnya, tahun ini mendapatkan bantuan Rp1 miliar rupiah untuk membangun teknologi informasi dan perustakaan digital.
Untuk para guru, bantuan diberikan lebih sebagai apresiasi atas apa yang telah mereka lakukan dan prestasi yang mereka torehkan. “Kami memberikan apresiasi untuk para guru di daerah terpencil, karena selama ini jarang yang memberikan perhatian kepada mereka. Mereka sudah memberikan bakti yang tinggi untuk memberantas kebodohan, karena itu mereka layak mendapatkan apresiasi,” Agus menambahkan.
Untuk menjalankan program ini Bank Mandiri tidak memilih sendiri siapa yang berhak mendapatkan apresiasi. Agar lebih jelas dan transparan, Bank Mandiri menggunakan data Guru Teladan yang dipilih oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). “Kami mengumumkan siapa yang berhak menerima apresiasi setelah ada pengumuman dari Depdiknas.” Untuk program ini, Agustus lalu Bank Mandiri memberikan apresiasi berupa tabungan masing-masing sebesar Rp5 juta rupiah untuk 231 orang guru berprestasi tingkat nasional.
Masih di bidang pendidikan, Bank Mandiri juga memberikan pengajaran tentang bank untuk para siswa di berbagai tingkatan di daerah-daerah terpencil, mengingat masih banyak warga masyarakat kita yang sama sekali tidak memahami konsep perbankan.
Bank Mandiri juga menaruh perhatian besar pada masalah yang dihadapi oleh masyarakat karena bencana alam. Pada tiga bencana besar yang belum lama terjadi di Indonesia -tsunami di Aceh dan Nias, gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah, dan tsunami di Pangandaran- Bank Mandiri dengan sigap segera mengulurkan bantuannya. “Untuk bantuan terkait dengan bencana alam, kami selalu berusaha melibatkan masyarakat,” kata Christiana. Dari segi pendanaan misalnya, Bank Mandiri segera membuka dompet Mandiri Peduli, sehingga masyarakat yang ingin berperanserta bisa langsung mengirimkan dananya melalui Bank Mandiri. Setelah dana terkumpul, Bank Mandiri akan segera menyalurkannya kepada masyarakat yang membutuhkan. Bank Mandiri sendiri biasanya menyediakan dana tersendiri di luar dana yang dikumpulkan dari masyarakat. Untuk bencana tsunami di Aceh, misalnya Bank Mandiri sendiri mencairkan bantuan sebesar Rp13,7 miliar, sedangkan dana masyarakat yang dikumpulkan melalui rekening Mandiri Peduli tercatat sebesar Rp16 miliar. Sementara itu, untuk gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah, Bank Mandiri memberikan bantuan sebesar Rp3 miliar, dari total bantuan sektor perbankan nasional sebesar Rp9,5 miliar.
“Untuk menjalankan program-program itu, kami bekerjasama dengan pihak ketiga. Untuk program community development (pembangunan masyarakat) misalnya, kami bekerjasama dengan beberapa lembaga swadaya masyarakat,” tutur Christiana. Ketika memberikan bantuan untuk Aceh, misalnya, Bank Mandiri bekerjasama dengan Universitas Gajahmada dan Yayasan Nurani Dunia.
Manfaat
Di awal dikemukakan bahwa program CSR Bank Mandiri juga menyentuh kelompok usahawan tingkat mikro. Mereka didekati dan dibina agar bisa menjadi usahawan yang lebih professional dan akhirnya bankable. Pembangunan masyarakat melalui bidang pendidikan juga memiliki target yang sama, yakni membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia. Demikian halnya dengan target dari aneka bantuan kemanusiaan yang diberikan pada saat bencana melanda. Bantuan diberikan agar kualitas hidup manusia Indonesia, khususnya yang tertimpa musibah, bisa segera dipulihkan dengan bantuan itu. Maka secara keseluruhan, dengan kegiatan CSR itu, kesejahteraan masyarakat akan meningkat, dan ini akan menjadi lingkungan bisnis yang lebih baik bagi Bank Mandiri.
“Banyak dari pengusaha mikro yang kami bina kemudian menjadi nasabah Bank Mandiri. Tapi lebih dari itu mereka secara tidak langsung sudah menjadi duta besar kami. Di berbagai kesempatan, baik formal maupun tidak formal, mereka selalu berbicara mengenai Bank Mandiri, dan tentu saja ini positif untuk kami,” tutur Christiana.
Yth. Pimpinan Bank Mandiri,
Perpustakaan Pusat (UPT Perpustakaan) Universitas Diponegoro telah mengembangkan hotspot area untuk memfasilitasi mahasiswa Undip dalam rangka memperoleh informasi terkini untuk menunjang proses pembelajaran. Hotspot area yang tersedia di Undip tidak mengenal batas waktu, artinya 24 jam/hari, hari libur tetap online. Namun dengan segala keterbatasan, ada kalanya mahasiswa harus mempergunakan kardus-kardus bekas untuk alas duduk, bahkan untuk tidur kalau harus ‘nginap’. Pada kesempatan ini, kami sebagai kepala UPT Perpustakaan Undip mengajukan permohonan, apakah kiranya CSR Bank Mandiri dapat diupayakan untuk pengembangan/renovasi ruang hotspot area di UPT Perpustakaan Undip? Setiap hari (siang hari) tidak kurang 80 -100 mahasiswa Undip akses internet di hotspot area. Sedangkan malam hari/libur bisa lebih banyak. Gambar/denah perluasan hotspot telah tersedia. Mohon tanggapan. Terima kasih.
Yth. Pimpinan Bank Mandiri,
mohon maaf sebelumnya pak bagaimana caranya untuk memperoleh CSR dari sini yng untuk bantuan usaha tingkat mikro dan apa saja persyaratan serta prosedurnya
terima kasih
Kami mengelola sebuah lembaga pendidikan dan ketrampilan di Demak.Fokusnya memberikan pendidikan ketrampilan praktis kepada masyarakat kurang mampu dan putus sekolah sehingga mereka memiliki ketrampilan praktis untuk hidup.Apakah program CSR mandiri bisa menyentuh,kami,bagaimana prosedur dan caranya,Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.
hormat kami
Kami dari YAYASAN BAHAGIA PRIMA yang berdomisili di Desa Sukamandijaya Kec.Ciasem Kab.Subang Jawa Barat. Yayasan kami bergerak dalam pemberdayaan perempuan bidang Pendidikan Non Formal pelatihan menjahit garmen bagi masyarakat tidak mampu. kami mohon info tentang dana pendidikan untuk masyarakat, atas infonya kami ucapkan terimakasih.