Bunga Naik, Saham Turun?

Oct 28th, 2008 | Oleh: Her Suharyanto | Kategori: Konsultasi, Personal Finance, Surabaya Post

Saya seorang karyawan swasta di Surabaya. Beberapa pekan terakhir saya banyak membaca bahwa suku bunga mulai naik, dan katanya itu dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga di Amerika. Benarkah demikian? Lantas ada beberapa teman mulai saling berdebat apakah harga saham akan naik atau turun. Apakah memang ada hubungannya?

Adi Sutrisno

Terimakasih Pak Adi, atas pertanyaannya. Saya agak yakin Pak Adi sudah mulai masuk ke dunia investasi, dan untuk itu saya ucapkan selamat. Pertama memang benar bahwa suku bunga sekarang cenderung naik. Bunga apa sih yang sebenarnya naik? Di Indonesia, kalau disebut suku bunga naik, umumnya yang dimaksudkan adalah suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). SBI adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia dengan cara dilelang, sekali dalam satu bulan. Dulu lelang dilakukan setiap pekan. Bank Indonesia melelang SBI dengan tujuan untuk mengendalikan jumlah uang yang beredar di pasar.

Jumlah uang perlu dikendalikan untuk menjaga inflasi. Logikanya, kalau di tengah masyarakat ada banyak uang, maka tingkat konsumsi masyarakat akan tinggi, dan harga barang akan naik. Itulah inflasi. Tapi kalau jumlah uang yang beredar sedikit, maka tingkat konsumsi masyarakat akan turun. Maka harga juga akan turun atau deflasi. Nah, sekarang ini sudah ada kecenderungan inflasi. Harga barang mulai naik perlahan-lahan. Untuk itu Bank Indonesia perlu menjaga agar inflasi tidak kebablasan, dengan cara menarik dana dari masyarakat.

Lelang SBI adalah cara Bank Indonesia untuk menarik uang yang beredar di masyarakat. Caranya adalah dengan menawarkan suku bunga yang sesuai. Kalau Bank Indonesia bermaksud menarik dana masyarakat dalam jumlah sebanyak mungkin, maka Bank Indonesia harus menaikkan suku bunga sampai ke tingkat yang menarik bagi masyarakat. Dalam praktiknya yang mengikuti lelang SBI adalah kalangan perbankan, broker pasar uang atau lembaga-lembaga keuangan seperti asuransi atau dana pensiun. Caranya, mereka yang punya uang menawarkan uangnya kepada Bank Indonesia dengan mengajukan permintaan bunga, umumnya dengan tingkat bunga yang sama atau lebih besar dibanding bunga sebelumnya. Lantas Bank Indonesia menghitung, berapa uang yang perlu ditarik. Kalau memang banyak uang yang perlu ditarik, maka Bank Indonesia akan berani mengambil uang walaupun bunganya lebih tinggi dibanding bunga SBI dalam lelang sebelumnya.

Sakali lagi inilah yang sekarang ini terjadi. Bank Indonesia sudah mulai menaikkan suku bunga, walaupun kenaikkannya lambat sekali. Kalau Bank Indonesia sudah mulai menaikkan suku bunga, berarti kalangan perbankan juga berkesempatan untuk menaikkan suku bunga. Tujuannya yang pertama adalah agar masyarakat mau menaruh uangnya di bank. Kedua, kalau bank memegang banyak uang dari masyarakat, mereka masih bisa menempatkan uang tersebut di Bank Indonesia dan masih untung. Misalnya saja sekarang bunga simpanan di bank rata-rata 5%, sedangkan suku bunga di Bank Indonesia mencapai lebih dari 7%, sehingga bank masih untuk dua poin persen.

Bagaimana bank dan Bank Indonesia menetapkan suku bunga? Umumnya cara yang dilakukan adalah dengan memberi tambahan di atas inflasi. Misalnya saja tahun ini inflasi diperkirakan sebesar 6%. Maka kalau Bank Indonesia memberi bunga 7,5% berarti bunga riil yang dinikmati masyarakat adalah 1,5%. Bunga riil inilah yang akan menjadi faktor menentukan, apakah masyarakat mau menempatkan uangnya di tabungan, atau memilih menginvestasikannya.

Benarkah suku bunga di Indonesia dipengaruhi oleh suku bunga di Amerika? Sayangnya sering kali memang begitu. Di Amerika suku bunga memang baru saja dinaikkan lagi. Kenaikan suku bunga di Amerika berarti akan mendorong naik biaya produksi di negeri itu sekaligus mendongkrak inflasi, juga di negeri itu. Tetapi karena ekonomi kita juga dipengaruhi perekonomian Amerika, maka inflasi di negara itu juga bisa merembet ke sini. Caranya sederhana. Barang-barang yang kita impor dari Amerika atau diimpor dalam mata uang dollar akan ikut naik. Maka, inflasi juga diimpor ke Indonesia. Kalau inflasi dalam negeri sudah terpengaruh, maka suku bunga dalam negeri juga ikut naik.

Pengaruhnya pada Saham
Logika pasar memang menyebutkan, kalau suku bunga naik, maka harga saham cenderung turun. Alasannya sederhana sekali. Orang yang punya uang akan cenderung menarik uangnya dari bursa saham dan menempatkannya di bank, misalnya dalam bentuk deposito. Mereka melakukan itu karena simpanan di bank risikonya jauh lebih kecil, tetapi keuntungannya (bunga) lebih pasti. Uang mereka di bank tidak akan pernah turun, melainkan justru naik terus walaupun sedikit. Sedangkan investasi di saham umumnya lebih berisiko, walaupun peluang untungnya lebih besar.

Maka kalau suku bunga sedang turun, pemilik uang akan cenderung menginvestasikan uangnya, termasuk di antaranya pada instrumen saham. Mereka melakukan itu karena, di samping ada uang, juga ada harapan bahwa dunia usaha akan untung besar karena suku bunga yang rendah. Dengan suku bunga rendah, berarti bank juga bisa memberi kredit dengan bunga yang rendah kepada dunia usaha. Kalau dunia usaha mendapatkan kredit dengan bunga rendah, berarti mereka berpeluang mendapat untung yang lebih besar, bukan? Kalau untung perusahaan lebih besar, maka dividen atau sisa hasil usaha yang dibagikan kepada pemegang saham akan meningkat. Itu sebabnya orang memang cenderung untuk berburu saham pada musim seperti itu, dan sebaliknya.

Logika seperti itu hampir sepenuhnya jalan di negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, Singapura, Inggris atau Jerman. Tetapi di Indonesia sering kali yang terjadi di pasar agak berbeda dengan logika itu. Dalam satu tahun terakhir memang kondisi pasarnya cocok dengan logika bunga di atas. Suku bunga turun, dan harga saham terus merayap naik. Dalam beberapa pekan terakhir sebenarnya suku bunga cenderung turun, tetapi harga saham terus naik, walaupun sempat turun sebentar.

Jadi apakah harga saham di Indonesia akan turun karena suku bunga naik? Logika ekonomi dan logika pasar yang umum memang begitu. Tapi di Indonesia semuanya bisa terjadi, kan? (her suharyanto)

Tags: ,

Tulis Komentar