Bruder Aloysius, Eling lan Waspada (In Memoriam)

Suatu sore, hari Selasa, tahun 1986 awal. Tanggal dan bulannya saya lupa, tapi hari dan tahunnya saya ingat persis. Waktu itu saya adalah salah seorang skolastik SCJ di Ngabean Kulon, Jalan Kaliurang Km 7, tahun pertama.

Saya bangun tidur dengan gundah. Walaupun saya seorang frater, waktu itu, saya terganggu oleh mimpi pada saat tidur siang hari itu. Saya bermimpi bahwa salah satu gigi atas saya tanggal. Sampai saat itu saya belum pernah mendapatkan informasi apapun mengenai tahyul atau kepercayaan mengenai makna mimpi seperti itu.Karena sungguh terganggu, saya ceritakan mimpi itu kepada beberapa konfrater saat minum teh sore sambil makan pisang rebus.

Saya lupa siapa saja konfrater yang ada di refter (ruang makan) bersama saya waktu itu. Tetapi saya ingat persis, satu diantara para konfrater (saudara sebiara) itu adalah Br. Aloysius. Saya tidak pernah melupakan hal itu karena beliaulah yang “mengungkap tabir mimpi saya”.

“Gigi atas atau bawah?” Bruder Aloysius bertanya.

“Atas, Der…”

“Gigi seri, atau sudah ke pinggir?”

“Ke pinggir…” Dalam mimpi saya, yang tanggal adalah gigi taring.

“Kalau orang Jawa, mimpimu itu bukan hanya kembang tidur tetapi ada maknanya. Ada orang tua, tapi bukan ayah ibu, yang meninggal dunia,” kata Bruder sambil menambahkan lagi, “Tapi ini kepercayaan orang Jawa ya…”Pikiran saya langsung mengarah pada simbah kakung saya, yaitu ayah dari bapak saya di Sedayu, dekat Gereja Gubug, dan “nenek jauh”, yakni bude dari bapak saya, tetapi beliaulah yang mengurusi bapak saya ketika bapak saya masih kanak-kanak.

Yang terakhir ini sangat menyayangi saya, karena, katanya, “kowe ki padha edane karo bapakmu” (kamu ini sama gilanya dengan ayahmu). Salah satu kedekatan itu bisa ditakar dengan omelan sepupu saya perempuan, Mbak Harti, yang tinggal serumah dengan beliau. “Dik, apa pantes… simbok tuwo (nenek saya itu) itu dapet punjungan (kiriman makanan)… terus daging ayamnya disimpan, katanya buat kamu. Mau saya makan nggak boleh. Tapi kamu nggak datang juga…. Akhirnya ya busuk, kan?” Ada nada cemburu sekaligus bangga dalam kalimat protes itu.

Hari Minggu setelah hari Selasa itu, setelah misa dan makan pagi, saya langsung mancal sepeda, nggendring menyusuri Jl. Kaliurang, terus belok kanan di Selokan Mataram, belok kiri di Jalan Magelang, dan begitu ketemu Jl. Godean langsung bablas ke arah barat. Di Godean saya belok kiri, tidak mampir di Tiwir tempat keluarga ibu saya, tapi langsung ke Puluhan, Kemusuk. Saya juga tidak mampir di rumah dua bude saya, tapi langsung ke rumah simbah.

Begitu sepeda saya sandarkan dekat sumur depan rumah, bude saya berteriak dari dalam, disusul Mbak Harti. Mereka menangis sejadi-jadinya. Mereka menyesal permintaan simbah untuk bertemu saya tidak terkabul, karena “tidak ada yang tahu asramamu di mana, apa kamu boleh keluar.” Maklumlah, keempat penghuni rumah simbah adalah perempuan, seorang perempuan renta, seorang perempuan tua, dan dua perempuan yang agak muda tetapi dunianya hanya sawah di dekat Puluhan dan Kemusuk.

Ya, nenek saya dipanggil Tuhan hari Selasa pagi menjelang siang. Menurut bude dan sepupu saya, sebelum meninggal nenek saya menyatakan ingin bertemu saya. Tapi tidak ada yang tahu di mana saya tinggal. Bahkan ketika nenek saya meninggal, tak ada yang bisa dimintai tolong untuk mencari saya.

BEGITU “terbebas” dari peluk tangis dua perempuan itu, saya duduk di ruang depan rumah tua nenek saya, dan pikiran saya langsung kembali ke Ngabean Kulon, pada Bruder Aloysius. Apa yang dikatakan oleh Bruder Aloysius ternyata benar. Pada hari saya bermimpi, nenek saya meninggal dunia. Akan tetapi itu bukanlah terakhir kali saya bermimpi gigi saya tanggal. Setelah itu saya sempat satu dua kali lagi bermimpi tentang hal yang sama. Dan tak ada yang meninggal.

Jadi, bagaimana memaknai peristiwa yang pertama di atas? Justru karena “pemaknaan” itu “tidak terbukti” pada kasus lain, saya semakin kagum pada Bruder Aloysius. Jangan tanyakan pada saya apa dasar filosofis maupun teologisnya, tetapi saya yakin Bruder Aloysius adalah orang yang mempunyai kedalaman hidup yang berbeda. Semua konfrater SCJ pasti tahu, Bruder Aloysius mempunyai kepekaan yang tinggi pada aneka pertanda alam, termasuk kemampuannya mendeteksi arus air di bawah tanah. Bahkan bapak saya ternyata mengenal beliau sebelum saya masuk seminari dengan pengenalan yang terfokus: Bruder Aloysius adalah orang yang hidupnya “dalam”. Bapak saya juga tahu kepekaan-kepekaan khusus yang dimiliki Bruder Aloysius.

Tetapi lepas dari ingatan akan hal-hal yang bagi sejumlah orang mungkin “berbau klenik” ini, ingatan saya juga dibawa pada sikapnya yang “SCJ banget”. Ada paduan antara kesederhanaan, ketenangan, kerendahhatian, keramahan dan ketulusan. Dalam kenangan saya, Bruder Aloysius adalah tipe biarawan yang seperti sedang retret sepanjang hidup.

Istilah RN Ronggowarsito mungkin tepat dilabelkan pada bruder kita, yakni dia adalah orang yang selalu eling lan waspada. Eling bukan sekadar dalam ranah ingatan, tetapi lebih dalam arti kesadaran spiritual. Waspada bukan dalam arti senantiasa siap menghadapi risiko, tetapi tanggap pada berbagai sasmita alam, atau mungkin lebih dari itu tanggap pada bisikan ilahi dalam hidup keseharian. Kalau semua label ini salah, saya masih berani bertaruh, paling tidak dia adalah orang yang bukan hanya terbuka, tetapi selalu mencari kehendak Sang Ilahi. Betapa SCJ-nya. Selamat jalan, Bruder, tolong sampaikan salam saya untuk para konfrater di Provincialat SCJ Abadi, khususnya Pater Bert v.d. Heijden. I missed him so much.

Komentar

Telah Dibaca:878

Leave a Comment