Bencana Alam dan Perencanaan Keuangan
Oct 28th, 2008 | Oleh: Her Suharyanto admin | Kategori: Ekonomi Rumah Tangga, Surabaya PostDalam beberapa waktu terakhir ada begitu banyak bencana alam melanda. Mulai dari tsunami di Aceh, gempa di Nias, disusul dengan gempa di Jogjakarta dan Klaten. Yang paling dekat dengan kita adalah banjir Lumpur panas di Porong dan sekitarnya. Belum lagi banjir yang melanda Makassar, Manado, dan beberapa daerah di Kalimantan. Pertanyaan saya, apa manfaat perencanaan keuangan menghadapi kekuatan alam yang tidak terbendung seperti itu? Kita lihat saja, berapa nilai aset yang hancur sia-sia oleh bencana alam itu? Bukankah itu berarti bahwa segala hal yang sudah dipersiapkan juga sia-sia?
Arie Purnami, Malang
Ibu Arie yang terhormat. Pertama-tama kita tentu menaruh simpati yang mendalam kepada saudara-saudara kita yang tertimpa musibah bencana alam yang sedemikian beruntun. Ibu benar, aset bernilai puluhan triliun (atau mungkin ratusan triliun) lenyap begitu saja dalam rentetan bencana mulai dari Aceh, Nias, Jogja, Klaten sampai Porong. Apakah yang terakhir adalah bencana atau kesalahan, biarlah para ahli dan penegak hukum yang menetapkan, tetapi Anda benar, kerugian yang muncul pasti juga luar biasa besar.
Pertanyaan Bu Arie adalah apakah perencanaan keuangan tidak memiliki kekuatan apa-apa di hadapan kekuatan alam. Persoalan besar kita adalah bahwa kita selalu merasa “tidak akan terjadi apa-apa dalam hidup kita, karena selama ini semuanya baik-baik saja.” Padahal dari semua hal yang baru saja terjadi dan dari berbagai pengalaman lain fakta hidup tidak seperti itu. “Selama ini baik-baik” bukan berarti selamanya akan baik-baik. Bahkan alam pun begitu. Bahwa selama ini alam tenang-tenang saja, bukan berarti bahwa alam akan tetap tenang selamanya. Bahwa sebuah rumah sudah lebih dari 20 tahun aman-aman saja, bukan berarti tidak mungkin terbakar setelah itu. Bahwa selama 50 tahun hidupnya orang tidak pernah masuk rumah sakit, bukan berarti dia tidak mungkin diopname.
Artinya, dalam hidup kita selalu berhadapan dengan risiko atau kemungkinan akan terjadinya peristiwa buruk atau peristiwa yang tidak kita kehendaki. Dari sisi peluang terjadinya, risiko bisa besar, bisa juga kecil. Dari sisi potensi kerugian yang ditimbulkan, risiko juga bisa besar dan bisa juga kecil. Jumlah risiko yang dihadapi seseorang juga berbeda dengan risiko yang dihadapi oleh orang lain.
Karena itu kalau dalam perusahaan ada ilmu yang disebut manajemen risiko, kiranya ilmu itu harus juga diaplikasikan dalam hidup pribadi dan keluarga. Inti dari manajemen risiko adalah bagaimana satu perusahan, perorangan atau keluarga bisa mengenal dan mengidentifikasi risiko yang dihadapinya dan kemudian mengendalikan risiko-risiko itu dengan berbagai cara mulai dari: mengurangi risiko, menghindari risiko, menghadapi risiko, dan mengalihkan risiko kepada pihak lain.
Kalau kita tinggal di bantaran sungai, tentu risiko kebanjiran yang kita hadapi lebih tinggi dibanding dengan mereka yang tinggal di dataran tinggi, jauh dari aliran sungai. Kalau kita berjualan gorengan, maka risiko kebakaran yang dihadapi lebih besar dibanding dengan mereka yang berusaha di bidang konfeksi. Kalau jelas kita mempunyai risiko, kita bisa meminimalkan risiko itu misalnya dengan membuat tanggul yang tinggi atau memakai bahan-bahan yang tahan api. Kita juga bisa menghindari risiko dengan pindah tempat tinggal atau ganti bidang usaha. Kita juga bisa menghadapi sendiri risiko itu dengan segala konsekuensinya. Atau kita bisa mengalihkan risiko itu kepada pihak lain dalam satu mekanisme yang dinamakan asuransi.
Anda tidak salah baca, kita bisa mengalihkan risiko kepada pihak lain dengan asuransi. Tentang asuransi kesehatan, kecelakaan diri dan kebakaran mungkin kita sudah sering dengar, dan mungkin tidak demikian dengan asuransi bencana alam. Akan tetapi di pasaran ada banyak perusahaan asuransi yang menjual jasa asuransi bencana, baik gempa bumi maupun kebanjiran. Hanya saja biasanya asuransi-asuransi jenis ini tidak berdiri sendiri, melainkan tambahan atas asuransi yang lain. Maksudnya, biasanya kita tidak bisa datang ke perusahaan asuransi khusus untuk membeli asuransi gempa bumi, atau bebanjiran. Tetapi kalau kita membeli asuransi kebakaran, kita bisa menambahkannya dengan asuransi gempa bumi dan kebanjiran, misalnya.
Jawaban saya sama sekali tidak bermaksud menyalahkan para korban gempa dan kebanjiran yang baru-baru ini terjadi. Bisa jadi mereka memang tidak tahu bahwa ada kemungkinan seperti itu. Tetapi untuk kita yang, syukurlah, masih aman-aman saja, tentu peristiwa ini bisa menjadi bahan pertimbangan baru khususnya dalam membuat perencanaan keuangan keluarga.
Kalau ditanya apakah perencanaan keuangan akan sia-sia oleh bencana, jawabnya tidak. Yang sia-sia adalah perencanaan keuangan yang tidak lengkap, yang mengabaikan faktor risiko. Demikian Bu Aries, semoga membantu.