Bankir Cantik di KRL Ciujung
Nov 14th, 2008 | Oleh: Her Suharyanto | Kategori: Artikel Populer, Ekonomi Umum, Pembelajar DotcomRabu sore 12 November saya naik KRL ekonomi AC Ciujung dari Tanah Abang menuju Serpong. Saya berdiri di gerbong paling belakang, dekat pintu. Ransel saya taruh di tempat bagasi, dan saya mencoba menyamankan diri dalam posisi berdiri.
Kereta belum bergerak. Seorang perempuan muda yang duduk dekat saya berdiri asyik bertelepon. Rupanya dia memanggil temannya untuk datang ke gerbong tempat dia duduk. Dan tak lama kemudian datang seorang perempuan lain, dugaan saya usianya lebih tua. Yang datang ini mengenakan blazer warna kuning kunyit (saya nggak tahu, itu seragam atau bukan). Karena tak mendapat tempat duduk, pandatang baru ini berdiri di depan temannya, tepat di samping saya berdiri.
Tepat pukul 17.10 kereta yang lumayan penuh, tidak terlalu berdesakan, meninggalkan Tanah Abang.
Tak lama kemudian kedua perempuan itu terlibat diskusi heboh, seolah tak ada orang lain di sekitarnya. Dari apa yang mereka diskusikan, saya menduga mereka bekerja di satu bank. Yang satu bercerita dengan bangga bahwa dalam beberapa hari terakhir dia panen nasabah deposito baru, dengan total angka ratusan miliar. Saya sepenuhnya percaya. Tadi pagi harian Kontan bercerita jumlah rekening tabungan dan deposito di atas dua miliar membengkak. Total jenis rekening ini tercatat naik Rp70 triliun dalam sebulan menjadi Rp673 triliun dari total dana perbankan di Indonesia yang sebesar Rp1.600 triliun.
Perempuan yang berblazer juga bercerita mengenai pekerjaannya.
Saya mencoba tidak terganggu oleh obrolan mereka. Toh ini tempat umum. Kalau pun mereka ngomongin rahasia dapur mereka, ya silakan sajalah. Toh mereka memang mau begitu.
Tetapi akhirnya saya tersengat mendengar sharing si mbak berblazer, lebih dalam kapasitas saya sebagai salah satu nasabah bank. Saya coba rekonstruksi obrolan mereka, walau tentu saja tidak tepat benar.
“Tahu nggak lu, kapan hari gue salah blokir kartu (saya nggak pasti kartu kredit, kartu debit, atau kartu ATM) nasabah,” katanya sambil ketawa cekikikan.
“Loh, kok bisa sih,” kata perempuan yang duduk.
“Si ibu itu kan punya dua kartu. Begitu dia minta satu kartunya diblokir, eh yang gue blokir kartu yang satunya,” kata si mbak berblazer.
“Terus?”
“Seminggu kemudian si ibu telepon. Dia tanya kok kartunya yang satu keblokir.”
“Lu jawab apa?”
“Dia kan nggak ngerti. Saya jawab gini, ‘Bu, maaf, waktu saya panggil nama ibu di komputer, saya langsung blokir begitu saja. Saya nggak tahu kalau ibu punya dua kartu.”
“Si ibu marah?”
“Nggak tuh, malah dia minta maaf. ‘Maaf ya mbak, ngerepotin’, dia bilang gitu.”
Kedua perempuan itu pun tertawa berderai.
Sedih rasanya mendengar sharing itu. Begini rupanya cara perempuan muda ini bekerja. Pertama jelas si blazer kuning kunyit melakukan kesalahan, dan kesalahannya menurut saya fatal, bukan hanya karena dia memblokir kartu yang tidak seharusnya diblokir, tetapi justru tidak memblokir kartu yang seharusnya diblokir. [Saya menulis ini justru karena hari ini, Jumat 14 November 2008, di harian Kompas ada surat pembaca yang berisi keluhan bahwa orang sudah memblokir kartu ATM-nya, tetapi pembobolan masih terjadi]. Kedua, dia tidak mengakui kesalahannya di depan nasabah, bahkan membohongi si nasabah.
Rasa sedih belum hilang, dan kepala dipenuhi aneka macam tanda tanya ketika kereta berhenti di Stasiun Pondok Ranji. Kedua perempuan itu turun, dan saya mencari-cari tempat kosong, untuk menaruh pantat sekadar membuang penat.
trus …
kesimpulannya menurut situ apa?
deskripsinya masih agak terkesan tersembunyi
jd kurang menarik
tapi judulnya menarik he he …:p
Judulnya provokatif sekali. Meskipun isi ceritanya nggak satupun menyentuh tentang kecantikan si Bankir. Apa si penulis hendak berkata, don’t judge the book by cover. Jangan nilai pekerjaan orang dari wajahnya. Tak selamanya orang yang berparas cantik melakukan pekerjaan secara teliti dan tepat.
Benarkah?
endingnya ga sesuai dgn judul…….
menurut saya cukup menarik, sebuah cerita singkat dengan penyampaian yang kalem dan sopan, walaupun masih terkesan tersembunyi. Setuju judulnya menarik !!!
Kekuatan judul, meletakkan kalimat CANTIK.
Gara-gara judul, ak terpikat.
sampai akhirnya hanya mengingat kalimat akhir posting ini, yaitu : Pant*t dan Penat
Terima kasih sharing-nya Coach
… dari sisi dampak: pas banget Pak, hubungan antara ‘cantik’ dan ‘bankir’ (finance): isu menarik …
… ada argumentasi jg: data2 valid dari harian Kontan….
…. penyampaiannya…. wah, alurnya membuat saya membuat saya penasaran, ternyata endingnya sederhana, tdk sperti yg saya perkirakan…
… semua jurus deskripsi-narasa-argumentasi dipakai, wow….
Terima kasih ceritanya Pak… dari ide sederhana jadi crita yg luar biasa…
hahaha, malah pengin komentar atas komentar … ternyata cara pikir mereka mudah terjebak, mudah dikelabui … atau, sebetulnya mereka sudah punya cerita tersendiri ketika baca judul dan hanya ingin mendapat pembuktian dalam tulisan tsb, ah … kasihan, sempitnya cangkang pikir manusia.