Asuransi, Membisniskan Orang Mati?

Oct 28th, 2008 | Oleh: Her Suharyanto | Kategori: Konsultasi, Personal Finance, Surabaya Post

Saya sudah membaca beberapa tulisan mengenai asuransi dalam rubrik ini. Tetapi saya punya beberapa masalah pribadi terkait dengan hal itu. Pertama ada seorang pemuka agama yang mengatakan bahwa Tuhan akan menjamin hidup kita, sehingga kita tidak perlu khawatir mengenai hidup kita. Kedua, saya kok merasa ada yang janggal bahwa kematian seseorang dinilai secara ekonomi. Saya sendiri terus terang merasa tidak nyaman “mendapatkan manfaat dari orang mati”. Atau, kalau saya mengasuransikan diri sendiri, saya merasa seperti mempertaruhkan hidup dan mati untuk sebuah perjudian. Bagaimana hal ini bisa dijelaskan?

Pardi Oblong, Batu

Bukan hanya anda, Pak Pardi, yang punya pemikiran seperti itu, tetapi banyak orang. Mengenai yang pertama, terus terang saya bukan ahli agama, jadi saya merasa bahwa jawaban saya lebih merupakan sharing saja. Menurut hemat saya, benar bahwa Yang di Atas akan menjamin hidup kita, dan menyediakan segalanya untuk kita. Tapi tidak berarti bahwa Dia menyediakan makanan, pakaian, dan tempat di depan kita begitu saja, bukan? Tetap saja perlu yang dinamakan ichtiar, atau usaha. Benar bahwa burung pipit tidak menanam, tetapi bisa makan. Tetapi bukankah burung pipit tetap harus terbang kesana kemari mencari biji-bijian yang ditanam petani atau disediakan oleh alam?

Yang saya tahu pasti, ada rumah ibadat yang diasuransikan. Di lain pihak, kita juga mengenal ada asuransi syariah. Kedua fakta ini bisa dibaca sebagai pesan bahwa asuransi tidak begitu saja diharamkan oleh agama. Untuk yang pertama sampai sini jawaban saya.

Mengenai yang kedua, benarkah asuransi telah membisniskan orang meninggal dunia? Menurut pendapat saya justru sebaliknya, Pak Pardi. Yang menjadi kepedulian bisnis asuransi justru orang-orang hidup. Asuransi boleh dikatakan justru dimaksudkan untuk menjamin mereka yang hidup, agar kualitas hidup mereka tidak turun apalagi hancur karena orang tempat mereka bergantung meninggal dunia.

Kalau anda mengasuransikan diri anda, bukan berarti anda dan perusahaan asuransi tengah membisniskan kematian anda. Sama sekali bukan. Sikap yang mesti diambil justru bahwa anda dan perusahaan asuransi tengah menandatangani kesepakatan bahwa para ahli waris anda tetap akan hidup sejahtera kalau suatu saat anda meninggal dunia. Dan memang itulah kenyataannya. Dalam asuransi jiwa yang sebenarnya mempunyai kepentingan ekonomi adalah para ahli waris anda, yakni istri dan anak-anak. Mengapa? Sebab bagi mereka andalah satu-satunya sumber ekonomi untuk hidup mereka. Kalau suatu saat anda meninggal pada saat mereka belum memiliki sumber penghasilan sendiri, apa yang akan terjadi dengan mereka? Bagaimana berapa asset yang anda wariskan kepada mereka? Cukupkah untuk biaya hidup, termasuk biaya pendidikan mereka?

Jadi yang sebenarnya yang menjadi poin utama adalah justru kualitas kesejahteraan para ahli waris itu. Asuransi justru dimaksudkan agar, kalau anda meninggal dunia, mereka tetap bisa hidup normal seperti ketika anda masih hidup. Mereka bisa hidup, bisa sekolah, tanpa harus menjual rumah tempat mereka tinggal, misalnya.
(Her Suharyanto)

Tags: ,

Tulis Komentar