Menuju Roma, Lewat Tasik

Pulang dari Papua, waktu itu Irian Jaya, semestinya Pastor Widyo bersiap-siap selama beberapa bulan untuk pergi ke Roma. Pastor Widyo mestinya antara lain belajar Bahasa Inggris sehingga bisa memenuhi syarat untuk mengikuti kuliah-kuliah dalam bahasa itu. Sedianya Pastor Widyo akan mengikuti program studi Islamologi.

Tetapi begitu kembali ke Jawa, pastor provinsial OSC memberinya tugas lain, yaitu menggembalakan umat di Paroki Tasikmalaya. Perubahan itu begitu mendadak karena pastor yang bertugas di tempat itu harus segera pindah, padahal tidak ada pastor yang siap menggantikan tugas tersebut, selain Pastor Widyo. “Ya sudah, saya pergi ke Tasikmalaya, walaupun semua orang OSC tahunya saya akan belajar Bahasa Inggris,” kata Pastor Widyo. Tugas di Tasik dijalani oleh Pastor Widyo setelah menghabiskan beberapa saat untuk liburan termasuk untuk pulang kampung ke Yogyakarta.

Kesan yang paling mendalam di paroki ini adalah kenyataan bahwa umat sedang terpecah menjadi dua kelompok besar. “Saya sempat ditanya apakah saya siap menghadapi perpecahan umat seperti itu,” kata Pastor Widyo. Tapi mungkin benar yang dikatakan oleh adik-adik Pastor Widyo, bahwa sejak kecil pastor yang satu ini memang tidak mudah menyerah. Dia selalu berusaha untuk menghadapi setiap tantangan yang dihadapkan kepadanya. Karena itu ketika ditanya apakah sanggup menghadapi tugas itu, Pastor Widyo menyatakan kesanggupannya. “Kalau saya berhasil ‘kan saya diberkati Tuhan. Tetapi kalau saya gagal, toh bukan saya sendiri yang gagal. Jadi saya berangkat saja, tanpa beban. Tidak jadi ke luar negeri untuk saya tidak ada masalah karena saya memang tidak terlalu memimpikannya.”

Maka berangkatlah Pastor Widyo ke Tasikmalaya. Di sana waktu itu sudah ada Pastor Heri Kartono, yang sempat tinggal di Paroki Monika selama beberapa saat. Tetapi tak lama menjalankan tugas parokial berdua, Pastor Heri mengalami musibah kecelakaan, sehingga Pastor Widyo praktis menjalankan tugas kegembalaan seorang diri. Setiap hari Pastor Widyo pasti berangkat ke stasi untuk tugas-tugas rutin seperti misa. “Setiap hari harus pergi pulang karena di paroki tetap ada misa harian.” Stasi yang dikunjungi sampai ke pantai selatan di daerah Pangandaran, atau ke timur sampai ke perbatasan dengan Jawa Tengah. Memang Pastor Widyo sempat ditemani oleh seorang frater, tetapi tugas frater lebih untuk berorientasi, tanpa bisa menggantikan tugas-tugas pokok seorang imam. “Paling yang terbantu urusan misdinar (putra altar).”

Langkah pertama yang dilakukan oleh Pastor Widyo menghadapi silang pendapat “warisan” adalah mendekati kedua pihak dalam upaya untuk coba mendamaikannya. “Setelah saya coba dekati kedua pihak, ternyata tidak ada persoalan yang cukup mendasar. Kedua-duanya benar, hanya terjadi kesalahpahaman.” Salah paham itu bermula dari soal bagaimana mengelola ziarah untuk umat. Sebelumnya si A biasa mengelola ziarah. Suatu ketika tugas itu diserahkan kepada B. Nah setiap kali ada ziarah, selalu ada untung. “Kalau si A, untungnya selalu disetorkan ke paroki. Tapi kalau si B, untungnya dipakai untuk kepentingan seluruh peserta ziarah. Ini pun sebenarnya tidak ada masalah karena pastornya sebelumnya bilang, nggak usah cari untung, yang penting umatnya senang. Sementara yang satu bilang, lebih kok nggak ada duitnya. Jadi masalahnya bisa diselesaikan dengan cepat.”

Jadi umumnya saya meninggalkan paroki dalam suasana senang. Yang nggak senang kemarin, di Cirebon, karena umat sempat protes ke uskup dan ke provinsial. Saya sedih… saya tidak minta untuk tidak dipindahkan. Dipindahkan adalah satu pengalaman yang menarik. Saya selalu senang dengan tantangan.
Selama tugas di Tasikmalaya ini Pastor Widyo sempat beberapa kali mengikuti program On Going Formation untuk para imam antara lain di Girisonta Semarang dan di Sosrowijayan, Yogyakarta.

Dari Roma ke Cigugur
Setahun lebih menjalankan tugas di Tasikmalaya, akhirnya Pastor Widyo memang harus berangkat ke Roma, mengikuti program studi yang tertunda, yakni Islamologi. “Saya mengikuti satu program non gelar. Kuliah antara lain diberikan oleh para pastor yang dulu mengambil studi Islam di Universitas Al Azhar di Cairo.” Tak banyak yang diceritakan oleh Pastor Widyo terkait dengan masa studi ini. Dia hanya bercerita bahwa usai menjalani program studi, Pastor Widyo sempat jalan-jalan ke Belanda, Jerman dan Belgia menggunakan kereta api untuk mengunjungi komunitas-komunitas OSC di ketiga negara itu.

Pulang dari Roma, Pastor Widyo harus menjalani tugas pastoral di Paroki Kristus Raja, Cigugur. Secara administratif sebenarnya Cigugur termasuk wilayah Kuningan, tetapi secara gerejani pusat paroki justru ada di Cigugur, membawahkan wilayah Kuningan. Bagi Pastor Widyo, paroki ini menarik karena beberapa hal. Pertama, seperti Tasikmalaya, paroki ini mencakup baik wilayah perkotaan sekaligus pedesaan. “Suasananya menyenangkan.” Di lain pihak, kedua, Cigugur adalah paroki dengan umat etnis Sunda paling besar di Jawa Barat. Ketiga, Pastor Widyo cukup mengenal paroki ini dan juga umatnya, termasuk masyarakat muslim di daerah itu, karena dia menjalani tahun pastoral akhir di sana.

Banyaknya etnis Sunda di paroki ini terkait dengan sejarah tahun 1965. Kita pasti ingat sejarah setelah apa yang disebut sebagai G30S PKI. Mulai saat itu setiap warga negara Indonesia harus beragama, dan agama yang dianut harus agama yang diakui oleh pemerintah. Sebelum peristiwa berdarah itu muncul, di daerah Kuningan dan Cigugur berkembang Agama Jawa Sunda (AJS). Karena krisis tahun 65 itu, sejumlah tokoh AJS sempat ditampung di Paroki Cirebon, sehingga terjadilah interaksi yang cukup intensif antara pemimpin agama AJS dengan para pastor di paroki itu. “Dan ternyata dasar-dasar teologi AJS banyak kesamaannya dengan ajaran Katolik, termasuk prinsip monogamy dalam perkawinan,” kata Pastor Widyo. Karena itu tokoh AJS, seorang pangeran, kemudian memutuskan untuk menjadi katolik, tetapi membebaskan pengikutnya untuk memilih agama mereka sendiri. Nyatanya memang cukup banyak pengikut AJS yang menjadi katolik. Dalam perjalanan waktu sebagian cukup besar dari mereka masih bertahan sebagai umat katolik, sebagian beralih menjadi muslim, dan sebagian lagi kembali sebagai penganut kepercayaan.

Pastor Widyo dipilih untuk bertugas di sini antara lain karena dia mampu berbahasa sunda. Dia bertugas di sana bersama Pastor Gandhi almarhum dan pastor Sukarna yang sekarang bertugas di Cirebon.
Salah satu pengalaman indah Pastor Widyo di Cigugur adalah hubungannya dengan masyarakat non katolik yang sebenarnya sudah dibinanya ketika dia masih bertugas sebagai frater tahun orientasi. “Waktu masih frater, saya dengan mudah keluar masuk berbagai kelompok masyarakat Cigugur, karena saya punya cukup banyak waktu. Saya kan tidak harus mempersiapkan kotbah.” Karena itu hubungannya dengan masyarakat muslim di tempat itu juga sangat baik. Yang paling mengesankan dalam kerangka itu ialah ketika seorang calon jemaah haji meminta Pastor Widyo mendoakan Pak Juarno, calon jemaah haji itu. “Saya diminta untuk berdoa untuk keselamatan Pak Juarno dalam menunaikan ibadah haji. Ya saya doakan saja, dan beliau memang pulang dengan selamat. Hubungan kami masih sangat baik sampai sekarang.”

Bandung, Tugas Terberat
Tahun 1992, Pastor Widyo mendapatkan kabar bahwa dia harus meninggalkan tugasnya di Cigugur untuk pindah ke Subang. “Saya harus menggantikan pastor paroki di tempat itu karena pastor parokinya harus pindah ke Bandung untuk menjadi ekonom keuskupan.” Tapi sepuluh hari sebelum hari keberangkatan ke Subang, pastor provinsial kembali datang dan mengatakan, Pastor Widyo tidak jadi bertugas di Subang. Dia harus pindah ke Bandung, di paroki katedral dengan tugas utama sebagai ekonom keuskupan.

Pastor Widyo mengaku inilah tugas paling berat dalam hidupnya, karena pada dasarnya dia sama sekali tidak senang untuk berurusan dengan uang. “Saya tidak suka pegang uang, karena tanggung jawabnya berat, terutama kalau ada yang hilang. Itu kan uang keuskupan, uang umat. Jadi meninggalkan kamar yang ada uangnya buat saya sama sekali tidak enak,” kata Pastor Widyo.

Selain bertugas sebagi ekonom, Pastor Widyo juga bertugas sebagai pastor pembantu di paroki katedral. Tapi belum lama berselang, Pastor Widyo juga mendapat tugas baru sebagai Pastor Kepala Paroki St. Melania, tetapi tetap tinggal di paroki katedral. Dua tugasnya terdahulu, sebagai ekonom keuskupan dan sebagai pastor pembantu di katedral, juga tidak dicabut, sehingga beliau menangani tiga tugas sekaligus.

Kalau Pastor Widyo merasa bahwa tugas di Bandung adalah tugas yang berat, tidak demikian dengan teman-temannya sesama OSC. Mereka berpikir bahwa Pastor Widyo hidup enak dengan tugas yang menyenangkan. Dan mereka juga yakin bahwa Pastor Widyo tidak akan dipindahkan menyusul pergantian provinsial OSC ke tangan Pastor Harjosubroto. “Mereka pikir saya nggak akan dipindah, wong kancane (sebab saya teman) provinsial…”

Ada benarnya bahwa Pastor Widyo dekat dengan Pastor Harjosubroto. Dan justru kedekatan itu yang membuat mereka bisa berbicara di sembarang tempat. Termasuk, suatu saat, sambil ngobrol di undakan rumah, Pastor Harjosubroto bilang dengan santai, “Kowe pindah neng Cirebon yo… (kamu pindah ke Cirebon ya).” Mendengar “perintah” mendadak ini, tentu saja Pastor Widyo sempat kaget. Tetapi membayangkan segara “pensiun” dari jabatan ekonom, Pastor Widyo pun dengan santai menjawab, setengah menantang, “Kapan?”

Cirebon, 7 Tahun
Tanggal 13 November 1995 Pastor Widyo resmi pindah ke tempat baru, Paroki St. Yusuf Cirebon, satu paroki lebih dari 100 tahun usianya waktu itu (tahun lalu paroki ini merayakan hari jadinya yang ke-125). Ini adalah salah satu paroki tertua di Pulau Jawa, yang berdiri sejak jaman Belanda, dengan umat “asli” awalnya adalah warga Tionghoa, tetapi kemudian juga etnis jawa yang dimulai dari para guru atau aparat pemerintahan.
Banyak orang, termasuk Pak JS Kamdhi yang lama menjadi wakil ketua Dewan Paroki di Cirebon, yang mengatakan bahwa paroki ini sangat lambat untuk maju kalau dibandingkan dengan usianya.

Padahal, menurut analisis Pak Kamdhi, Cirebon sebenarnya adalah kota yang sama strategisnya dengan tiga kota pantai utara lain seperti Jakarta (dulu Batavia), Semarang dan Surabaya. Bahkan Cirebon mestinya sangat strategis menimbang cara bagaimana Belanda merancang kota ini. Lihat saja, kota-kota satelit Cirebon memiliki nama-nama yang sama dengan kota satelit Jakarta. Ada Kuningan, Ciledug, Ciawi, Gebang, Lemah Abang. Tetapi bagaimana perbandingan kota inti dan kota satelit keduanya? Bumi langit. Jakarta begitu meroket bersama kota-kota satelitnya, sedangkan Cirebon tertinggal jauh di belakang.

Demikian halnya dalam hal perkembangan gereja. Jakarta, Surabaya dan Surabaya sudah menjadi keuskupan masing-masing dengan “anaknya”. Jakarta sudah “melahirkan” keuskupan Bogor dan Bandung. Keuskupan Purwokerto merupakan pecahan dari Semarang. Dan Surabaya mempunyai “anak” Keuskupan Denpasar. “Tetapi Cirebon tetap sebagai sebuah paroki dengan perkembangan yang lambat,” kata Pak Kamdhi. Mengapa begitu? Salah satu persoalannya adalah bahwa Cirebon hanya merupakan tempat “persemaian”. Banyak warga Cirebon yang menghabiskan masa kanak-kanak di kota itu, tetapi begitu lulus SMU, mereka hijrah ke kota lain untuk kuliah, dan tidak pernah kembali lagi. Maka jadilah Cirebon paroki yang dihuni oleh orang-orang tua.
Itulah yang dihadapi oleh Pastor Widyo.

Tetapi Pak Kamdhi, misalnya, menilai bahwa untunglah ada Pastor Widyo yang bertugas di sana sampai lebih dari tujuh tahun. “Saya menangkap salah satu impian Pastor Widyo adalah ingin menjadikan Paroki Cirebon ini sebagai paroki yang modern. Gedung ini direncanakan untuk dirombak. Di belakang akan dibangun pastoran. Akan ada ruang-ruang untuk kantor. Ada ruang serbaguna. Kita kalah dengan Kristen. Kami pernah mimpi punya radio.” Menurut Pak Kamdhi, Pastor Widyo juga ingin mengembangkan rumah sakit. Tapi karena sulit (secara politis) untuk membangun rumah sakit baru, maka paroki akan mengembangkan yang sudah ada, yakni balai pengobatan Nirmala.

Beberapa umat paroki Cirebon yang dihubungi penulis mengungkapkan, salah satu perbedaan mencolok gaya berpastoral Pastor Widyo adalah sikap demokratisnya. Pastor Widyo dinilai lebih banyak menunggu dan mendorong inisiatif-inisiatif dari umat. “Inisatif umat, sejauh membangun, pasti akan disambut dengan baik oleh Pastor Widyo. Ini pendekatan yang berbeda sekali dibanding pastor-pastor sebelumnya, yang lebih memilih pendekatan dari atas ke bawah,” tutur seorang umat. Sikap demokratis itu juga tampak, misalnya, dalam cara memperlakukan rumah pastoran. “Sejak Pastor Widyo di sini, pastoran jadi lebih terbuka untuk umat. Umat bisa masuk tanpa sungkan,” kata Ibu Gloria.

Tetapi bukan berarti langkah Pastor Widyo di paroki itu mulus-mulus saja. Dia pernah diprotes oleh umat, bahkan oleh dewan paroki, karena dinilai lebih mengutamakan stasi daripada paroki. Pasalnya, pada sejumlah hari besar seperti Pekan Suci dan Natal Pastor Widyo justru memimpin ekaristi di stasi, dan tidak di paroki. Perayaan ekaristi di paroki selalu diserahkan pada pastor lain. Bahkan, menurut Pastor Widyo, ada umat yang dengan tajam menyindir, “Pastor, Cirebon ini bukan stasi dari Majalengka.”

Pastor Widyo memang coba menjelaskan, bahwa langkah itu dilakukan sebagai bentuk perhatiannya kepada umat di stasi, karena selama ini stasi kurang mendapat perhatian yang memadai. Di samping itu mitra kerjanya di paroki tidak semuanya secara fisik prima. “Jadi saya yang lebih sehat pantaslah mengerjakan yang lebih menuntut tenaga ekstra.” Tetapi di lain pihak Pastor Widyo juga memaknai protes itu dengan cara lain, yakni bahwa umat memang merindukan pastor parokinya merayakan ekaristi bersama mereka pada hari besar. “Mungkin saya GR, tapi saya pikir begitu. Saya cukup dicintai umat.”

Bahwa Pastor Widyo cukup dicintai umat, khususnya Paroki Cirebon, memang ada benarnya. Ketika penulis berkunjung ke Cirebon, sejumlah umat bercerita bahwa umat dan dewan paroki secara formal mengajukan keberatan atas pemindahan Pastor Widyo. “Kami mengirim surat resmi kepada Bapa Uskup dan kepada Pastor Provinsial OSC,” kata Pak JS Kamdhi, yang kebetulan adalah teman main Pastor Widyo semasa remaja di Jl.Kaliurang, Yogya. Dan setelah dilakukan negosiasi, akhirnya pemindahan Pastor Widyo memang ditunda, tetapi tidak selama yang diminta umat Cirebon. Pastor Widyo meninggalkan Cirebon setelah perayaan 125 tahun tersebut dilangsungkan pada tanggal 23 Februari 2003. Sedianya Pastor Widyo sudah meninggalkan kota itu 1 Januari 2003, tetapi kemudian diundur sampai tanggal 1 Maret 2003. Pastor Widyo pindah ke Paroki St. Monika, Serpong, sebagai pastor kapelan (pembantu).

Komentar

Telah Dibaca:892

Leave a Comment